Rupiah Lemah, Eksportir dan Importir Terpukul

Ilustrasi

060846_438064_peti_kemas_dl_ind

Pelemahan rupiah kian mengalami puncak. Kemarin, Rabu (16/12) rupiah tercatat menembus level Rp 12.937 per USD setelah sehari sebelumnya pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 11 poin ke Rp12.725 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp12.713 per USD.

Pelemahan tersebut tentu membawa pengaruh yang sangat tajam pada dunia usaha, khususnya pelaku ekspor dan impor.

Direktur Eksekutif Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Bambang SN mengungkapkan bahwa sebagai pelaku usaha kinerjanya mengalami pengaruh yang signifikan.


“Sebetulnya dari sisi importir yang kami inginkan hanya kestabilan dan kepastian. Sebab hal tersebut membawa pengaruh dalam hal pengaturan cashflow,” ujarnya kepada Jawa Pos, Rabu (16/12).

Toto mengungkapkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terlalu tajam membuat pengusaha mengalami kerugian bukan hanya dari produksi, namun juga rugi kurs.

Padahal, menurutnya, importir biasanya telah menyetujui kontrak mendatangkan barang dengan jumlah tertentu selama jangka waktu tertentu, pada kurs tertentu yang telah disepakati.

“Kemarin estmasi kami di level Rp 12 ribuan, tapi dengan terus melemahnya rupiah, otomatis importir harus mendatangkan barang dengan harga lebih tinggi, padahal sudah ada kontrak dengan proyeksi kurs tertentu. Importir jelas rugi,” tambahnya.

Dia mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah memberatkan karena mempengaruhi harga jual dalam negeri yang naik. Sedangkan, daya beli masyarakat lemah. “Namun, meski demikian kami juga tidak bisa serta merta menaikkan harga,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa hingga kini masih banyak bahan baku yang belum dapat diproduksi dari dalam negeri.

“Gandum saja masih impor. Belum lagi bawang putih yang lebih dari 90 persennya impor karena di dalam negeri hanya mampu memenuhi paling banter 7 persen dari kebutuhan nasional,” tambahnya.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengungkapkan hal senada.

“Meski dalam beberapa hal eksportir diuntungkan, tapi hal ini akan berdampak pada situasi mendatang. Ini sudah bukan masalah untung rugi, namun lebih pada harapan kestabilan rupiah,” katanya.

Bagi pengusaha eksportir yang berbasis bahan baku lokal, seperti furnitur, memang seolah-olah lebih menguntungkan dalam penerimaan kurs rupiah. Namun, dengan melemahnya rupiah, biaya-biaya beban yang lain juga ikut naik. Sementara, bagi pengusaha ekspor yang bahan bakunya impor juga tidak banyak menolong akibat beban kurs.

“Secara industrial semua pihak terpukul dengan situasi ini. Daya beli masyarakat juga lemah,” katanya. Fluktuasi ini juga dianggap akan menyulitkan dunia usaha dalam menghitung level aman rupiah.

Hal tersebut akan semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah yang akan menerapkan kenaikan tarif listrik tahun depan. “Tantangan kami sangat berat, cost logistik naik seiring dengan kenaikan BBM, biaya pelabuhan juga berat, infrastruktur yang belum mumpuni juga pastinya mempengaruhi beban distribusi,” ujarnya. (dee)