Rupiah Terus Melemah, Persis Kejadian 2013

IHSG hari ini Senin 2 Februari 2016 dibuka menguat

145017_224603_Saham1_BEC

Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) akhir-akhir ini menjadi sorotan. Hari ini rupiah terjungkal di kisaran Rp 12.900 per USD.

Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg hari ini Dibuka pada level Rp 12.930 per USD, atau terdepresiasi 216 poin dari penutupan kemarin di level Rp 12.714 per USD.

Menanggapi melorotnya nilai rupiah, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyamakan kondisi rupiah yang akhir-akhir ini terus melempem mirip dengan kondisi pada pertengahan 2013.


“Ini seperti pertengahan tahun 2013 kemarin, saat ada tapering off, ini yang mau kita susun langkahnya dari pemerintah maupun otoritas moneter dan keuangan,” ujar Bambang di Jakarta, Selasa (16/12).

Bambang menambahkan, yang dapat mengintervensi kondisi rupiah ini hanyalah Bank Indonesia (BI). BI-lah yang memiliki keputusan untuk mengintervensi kondisi rupiah tersebut. Ia menilai BI juga harus memantau pergerakan Rusia, yang saat ini juga disebut sebagai salah satu negara emerging market.

“Tentunya BI harus melihat bagaimana pergerakan ke depan yang terjadi hari ini. Rusia, mata uangnya kolaps, rubble, itu dianggap emerging economic seperti kita. Sehingga pasti ada imbasnya ke kita,” beber Bambang.

Untuk mengatasi hal tersebut, Bambang mengatakan bahwa pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BI akan mencermati pergerakan nilai rupiah yang terus melemah.

“Ini akan kami cermati dulu, akan terus koordinasi dengan BI dan OJK untuk memastikan bahwa kita bisa mengatasai kondisi yang datangnya dari global,” tandasnya. (chi/jpnn)