Liburan di Pulau Putri (2-habis), Tak Cantik Lagi seperti di Dongeng

TAK CANTIK LAGI : Kondisi Pulau Putri yang merupakan pulau terluar di BKRI yang kini tak cantik lagi.
TAK CANTIK LAGI : Kondisi Pulau Putri yang merupakan pulau terluar di BKRI yang kini tak cantik lagi.
TAK CANTIK LAGI : Kondisi Pulau Putri yang merupakan pulau terluar di NKRI yang kini tak cantik lagi.

POJOKSATU – Liburan di Nongsa, Batam belum lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Pulau Putri. Pulau terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia itu merupakan salah satu lokasi kunjungan yang populer. Kunjungan itu membuat pulau seluas 1 hektare tersebut padat setiap liburan.

Masalahnya, pulau tersebut tidak lagi tampak bagai putri yang cantik seperti dongeng yang melegenda di pulau itu. Kondisi alam membuatnya tampak sekarat.

Saat air laut surut, Pulau Putri menampilkan tiga bukit yang terpisah oleh medan yang landai berbatu. Namun, saat pasang, hanya akan tampak tiga pulau terpisah.

Gerusan ombak, terutama pada musim angin utara, telah merusak sebagian besar bentuk pulau itu. Lambat laun setiap sisi pulau tersebut semakin mundur.


Kemunduran itu tampak dari tebing curam di bukit yang terletak di tengah Pulau Putri. Setiap hari bukit tersebut terkena hantaman ombak dari arah utara. Menggerus dasar tebing, membuatnya labil, dan akhirnya merontokkan sedikit demi sedikit tebing itu. Di tebing tersebut, pengunjung bisa melihat proses hilangnya Pulau Putri yang akan terjadi jika tidak ada upaya untuk menyelamatkannya.

Bagian pulau yang paling terancam hilang karena abrasi adalah bukit paling utara dan tengah. Bukit paling utara semakin landai dan besarnya tidak lebih dari rumah ukuran 5 x 5 meter persegi.

Pohon nyiur yang dulu tumbuh subur kini hanya tinggal satu pohon. Itu pun hanya tinggal batang yang berdiri setinggi 10 meter. Pohon tersebut telah mati karena tidak ada lagi unsur hara yang bisa diserap.

Bukit paling utara dengan tengah sudah putus. Padahal, dulu bukit paling utara, tengah, hingga paling selatan terhubung. Kini hanya tinggal bongkahan batu yang akan tertutup habis bila air pasang.

Sementara itu, luas bukit di bagian tengah juga tidak lebih dari rumah berukuran 10 x 10 meter dengan tinggi bukit sekitar 10 meter. Masih ada beberapa tumbuhan yang bertahan karena terhalang bongkahan batu besar.

Bukit yang tengah awalnya juga terhubung dengan bagian selatan, namun kini sudah landai meninggalkan batuan-batuan kecil. Hanya ada satu rimbunan pohon bakau dan delapan pohon pedada (jenis bakau untuk bagian dalam) yang masih bertahan dari gerusan ombak.

Khusus untuk bagian selatan atau tempat mercusuar, luasnya juga semakin berkurang. Bahkan, saat musim utara (Desember), air laut sudah menutupi pulau itu setinggi lutut orang dewasa. Beberapa kali rumah penjaga mercusuar kebanjiran. ’’Mesin genset untuk lampu mercusuar sekarang baru, tempatnya sudah ditinggikan, sebelumnya rusak kena air laut,’’ ujar Ukmah penjaga mercusuar di Pulau Putri.

Air laut, kata dia, juga sampai ke tiang mercusuar. ’’Sekitar selutut orang dewasa,’’ ujarnya.

Kondisi Pulau Putri atau di peta dikenal dengan nama Pulau Nongsa yang terancam hilang itu memang memprihatinkan. Pulau tersebut berada di wilayah Batam yang bisa dijangkau hanya 10 menit dengan menggunakan pompong bermesin tempel dari Pantai Kampung Tua Nongsa.

’’Bangunan penahan ombak itu baru diadakan tahun lalu (2014),’’ ungkap Ukmah. Selain itu, ada dua toilet yang dibangun di situ pada tahun yang sama.

Menurut dia, untuk menyelamatkan pulau tersebut, khususnya bagian utara dan tengah, butuh pemasangan pemecah ombak sehingga ombak yang masuk ke area pulau menjadi bias. Alat itulah yang belum ada. ’’Kalau beton bulat-bulat ini hanya menahan agar pasir yang dekat mercusuar tak terbawa air. Padahal, pulau ini butuh pemecah ombak, minimal dipasang 10 meter dari bibir pulau. Jadi, ombak sebesar apa pun bisa pecah dan menjadi bias saat masuk ke area pulau,’’ jelasnya. (yer/adi/nur/JPNN/c23/diq/dep)