Keindahan Tak Berujung Salawai

Seram2-BeritaDaerah

Pulau Seram, tempat berdirinya Gunung Binaiya yang menjulang, punya segudang harta karun. Tidak seluruhnya sudah terungkap. Di antara harga yang menunggu didatangi tersebut, ada pesona laut, sungai, ekosistem yang kompleks, hingga keramahan warga yang tidak berbatas.

Laporan Priska Birahy

KEINDAHAN itu seolah tanpa ujung. Makin jauh kaki melangkah ke utara Pulau Seram, makin dalam pula persentuhan dengan keharmonisan angan. Semilir angin, desis suara binatang, tarian pepohonan, hingga jernihnya air begitu memanjakan setiap indra. Semua terbagi pada sejumlah destinasi wisata di Pulau Seram, Maluku. Pulau berlimpah kekayaan alam tersebut seakan tidak pernah surut dalam memikat pengunjungnya.


burung_laut_laut
BEBAS: Puluhan camar laut berjemur di dangkalan Sialon Maina. Itu jadi tempat berjemur dan bersantai saat siang. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

 

Begitu tiba di Pulau Seram, tepatnya di dermaga Amahai, Seram Selatan, segeralah mencapai sisi utara pulau. Perjalanan kudu ditempuh sekitar enam jam. Karena itu, sesampai di Sawai, kawasan utara Pulau Seram, para wisatawan harus istirahat semalam. Penjelajahan menikmati keelokan Sawai itu baru bisa dinikmati esok paginya, bersamaan dengan semburat mentari menyapu langit biru dan laut yang berair jernih.

Trip pertama yang wajib dikunjungi adalah menyusuri Sungai Salawai, sungai besar nan jernih yang seolah tidak berujung. Perjalanan menyusuri sungai kaya nipah dan pohon sagu tersebut dimulai dari titik yang jarak tempuhnya hanya 15 menit dari Sawai. Di sepanjang perjalanan, terlihat jajaran gunung batu dan air yang jernih. Sejumlah pulau tidak berpenghuni juga menjadi pemandangan elok sepanjang perjalanan.

kampung_sawai_diptawahyu
TUNGGU SUNSET: Dermaga Sawai jadi tempat strategis menanti malam dan kabut Taman Nasional Manusela yang menyelimuti desa. (Dipta Wahyu/JP)

”Di sini Caca (sebutan untuk saudara perempuan, Red) bisa lihat buaya,” ucap Ahmad Nusiin, salah seorang pemandu perjalanan wisata di Desa Sawai. Tidak hanya itu, bila beruntung, mata bisa terbelalak melihat rombongan burung camar yang terbang membentuk formasi hati di langit.

Ya, sembari long boat milik Pak Ali, pemilik penginapan Lisar Bahari, melaju, kami berpapasan dengan perahu kecil milik warga Desa Sawai. Mereka menuju tengah sungai yang ditumbuhi ribuan pohon sagu. Perekonomian keluarga mereka dibantu dari hasil penjualan sagu.

Titik paling elok di Sungai Salawai berhias pohon nipah di kiri-kanan. Seolah menjadi gerbang penyambut. Di daerah tersebut, beberapa ikan dan rumpun besar akar pohon nipah di dasar sungai jelas terlihat. Jernihnya air memang ibarat akuarium sekaligus cermin raksasa.

Setelah beberapa saat terdiam mengagumi kecantikan sungai, tiba-tiba mesin boat dimatikan. ”Pelan-pelan sa (saja, Red) Caca. Di sini tempat buaya biasa keluar,” ujar Ahmad sambil menatap tajam pinggiran tanah basah di bibir sungai.

Cuaca terik memang menjadi momen terbaik bagi para reptil itu untuk berjemur dan memanjakan diri. Namun, bukan hanya tepi sungai yang diamati, pinggir boat yang kami tumpangi pun tidak luput dari pantauan. Rasa deg-degan dan takut cukup meliputi hati para penumpang. Sebab, reptil tersebut bisa saja memunculkan separo badannya ke permukaan atau menyenggol perahu. Sayang, hasilnya nihil. Tampaknya, jadwal sunbathing para buaya itu dibatalkan.

Perjalanan terus kami lanjutkan dengan menyusuri sungai. Tidak seberapa lama, pemandangan unik terpampang di sisi kiri-kanan sungai. Beberapa lelaki separo baya membelah sebatang pohon sagu. Ada pula yang mengayak tepung basah dan menyaring sisa pembuangan dengan menggunakan perkakas alami.

Sungguh aktivitas tradisional yang sudah sangat jarang ditemui di Kota Ambon. Di situlah dapur pembuatan bahan baku makanan yang mirip lem tersebut dibuat. Boat kami lantas menepi sekaligus melihat langsung cara pembuatannya. Tidak perlu sungkan dan malu. Sebab, para wate –sebutan Paman dalam bahasa Seram– dengan senang hati mengajari pembuatan sagu manta.

Di dalam perjalanan pulang itulah, tanpa sengaja, seekor buaya sepanjang dua meter berbadan tambun melintas. ”Itu dia, itu buaya. Pelan-pelan. Kasih mati mesin,” teriak Ahmad. Namun, rupanya jadwal berjemurnya terganggu oleh kedatangan kami. Sang penguasa sungai tersebut kemudian memalingkan badan dan segera masuk ke sungai.

Setelah itu, kami melaju pulang ke desa untuk beristirahat. Tetapi, sebelum kami benar-benar merebahkan badan, boat harus berlabuh di sebuah pulau berpasir putih tidak berpenghuni. Hamparan pasir halus membuat tidak sabar untuk berlari dan menari di atasnya. Air berwarna biru jernih pun sayang bila dilewatkan begitu saja.

makan_dipulau_kosong
COLO-COLO: Tradisi makan siang di pulau kosong dengan makanan khas Maluku. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Di Pulau Lusa Olat (artinya, orang tua laki-laki) itulah, kami menikmati makan siang. Sajian ikan bakar segar, colo-colo, dan sayur pare yang dibawa dari penginapan segera menghentikan orkestra lapar di dalam perut. Semilir angin dan teduhnya suasanya segera membuai tubuh letih dan mengendurkan ketegangan setelah kami bertualang di Sungai Salawai. (*/c14/dos)

11466_9692_pulau-kosong-diptawahyu1
SWEET ESCAPE: Dangkalan berpasir putih di tengah laut menjanjikan panorama khas untuk menyendiri. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)