Libur Tahun Baru, Villa Liar Raup Untung Miliaran

VillaPOJOKSATU- Setiap Natal dan Tahun Baru, villa di kawasan Puncak Bogor mengaku harga vila naik tiga kali lipat dari harga sewa biasa.

”Untuk harga sewa biasa kami mematok Rp500.000 hingga Rp1 juta per malam, tergantung jumlah kamar. Jelang Tahun Baru harga sewa naik dari Rp2 juta hingga Rp3 juta per malam,” terang Suhaeli salah satu pengelola villa di kawasan Puncak Bogor.

Untuk satu kamar, kata Suhaeli, ruang tamu plus dapur ditawarkan Rp2 juta per malam. Sedangkan dua sampai tiga kamar dengan fasilitas lengkap ditawarkan Rp3 juta per malam. Tentu saja musim liburan menjadi berkah tersendiri
bagi Suhaeli. Sebab, ia mendapat 40 persen dari vila yang dikelolanya.

Pengelola vila lainnya, Abas (41), di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, mengalami hal serupa. Sejak satu bulan terakhir, pihaknya telah menerima pesanan dari pelanggan lama maupun baru dari Jakarta untuk libur Natal dan perayaan tahun baru.


Sejumlah pengelola hotel mengungkapkan, setiap Natal dan tahun baru, harga sewa dipastikan naik sesuai kesepakatan antarpengusaha dan perhimpunan pengusaha hotel dan restoran sebesar 30 persen dari harga sewa biasa.

Meski harga dinaikkan, Manajer Hotel Grand Cempaka Puncak Edison mengatakan, hal itu tak menyurutkan minat penyewa memesan kamar.

Sementara itu, selama libur Natal dan menjelang Tahun Baru 2015, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor kehilangan potensi pendapatan daerah dari pajak sekitar Rp37 miliar. Angka tersebut didapat dari harga vila di musim liburan rata-rata Rp3 juta dan dikalikan jumlah vila liar di kawasan wisata berhawa sejuk tersebut.

Kemudian dihitung selama seminggu musim liburan, sehingga nilainya mencapai Rp37 miliar. Ada 1.784 vila yang tersebar di Kecamatan Cisarua dan Megamendung akibat alih fungsi vila menjadi menjadi penyedia akomodasi alias penginapan tanpa legalitas.

Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) pemilik vila juga tidak masuk kas daerah lantaran bukan warga Kabupaten Bogor. Di wilayah Bogor bagian barat pun demikian. Datangnya musim liburan, sejumlah vila di Kecamatan Pamijahan,
Kabupaten Bogor, kebanjiran order. Vila di area Gunung Salak tersebut sudah dibuking sejak jauh-jauh hari oleh wisatawan yang akan tahun baruan di area Gunung Salak. Harga sewa vila bahkan naik hingga dua kali lipat.

Warga Kampung Lokapurna Desa Gunungsari Kecamatan Pamijahan, Ahmad Awing (52), mengatakan bahwa vila yang ada di wilayahnya selalu penuh jika musim liburan datang. Pria yang akrab disapa Rawing itu juga menjelaskan, vila yang terdaftar RW 08 ada 118 vila
dipatok dengan harga Rp750 ribu sampai Rp2 juta untuk hari biasa. Sedangkan jika hari libur mulai dari Rp3 juta sampai Rp5 juta.

“Dulu vila yang terdaftar di wilayah saya ada 118, tidak termasuk ilegal. Biasanya harga vila tahun baru naik beberapa kali lipat,” kata mantan ketua RW 08 itu.

Terpisah, seorang penjaga vila, Wahyuni, mengaku sengaja menaikkan harga vila karena hari biasa tidak terlalu ramai. “Untuk liburan tahun baru ini saya ingin mendapatkan untung dari hasil menyewakan
vila,” katanya.

Vila di Kecamatan Pamijahan nampak penuh. Sedikitnya ada 500 vila di Desa Gunungsari dan Gunung Buder. Sedangkan di kawasan timur Kabupaten Bogor juga semakin diminati pengunjung wisatawan lokal maupun domestik. Jelang pesta pergantian tahun dan libur panjang, kawasan timur Bumi Tegar Beriman juga dipadati pengunjung.

Villa3Ratusan vila liar milik para pejabat hingga pengusaha Jakarta semakin menjamur, mulai dari Kecamatan Jonggol, Sukamakmur hingga Tanjungsari. Tercatat, ada beberapa nama pejabat dari mantan camat hingga kepala dinas yang diduga menghiasi lahan perhutani.

Seperti mantan Camat Cileungsi Beben Suhendar, mantan Kepala Dinas Tataruang Burhanundin serta Kasatpol PP TB Luthfie Syam yang terletak di Desa Wargajaya, Kecamatan Sukamamur.

“Vila mereka memang berdekatan dan sering disewakan,” kata Omen, warga sekitar, kepada Metropolitan, kemarin.

Menurut dia, untuk menyewa vila pejabat yang lengkap dengan fasilitas bermain dan kolam renang disewakan per hari seharga Rp500.000 hingga Rp1 juta. Sedangkan vila di Desa Wargajaya dan sekitarnya selalu ramai ketika pergantian tahun dan kebanyakan
berdiri di lahan perhutani.

Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor TB Luthfie Syam membenarkan masih banyak vila liar yang tersebar di Kabupaten Bogor. Namun, ia enggan menyebutkan jumlah bangunan vila yang melanggar itu.

“Datanya bisa ditanyakan ke Dinas Tata Bangunan,” kata Luthfie kepada Metropolitan (Grup Pojoksatu.id).

 

(ps)