Bawakan Lagu Daerah, Bangga Jadi Pemenang Padus di Estonia

Kisah Paduan Suara Unair Jadi Juara di Estonia
Kisah Paduan Suara Unair Jadi Juara di Estonia
Kisah Paduan Suara Unair Jadi Juara di Estonia
Kisah Paduan Suara Unair Jadi Juara di Estonia

POJOKSATU.id, SURABAYA – Bangga, begitulah yang dirasakan 40 anggota Paduan Suara Universitas Airlangga (PSUA) dalam acara penyambutan di kantor manajemen, kampus C, pada Selasa (5/5). Mereka baru saja menjadi juara dalam tiga kategori sekaligus pada kompetisi The 14th International Choir Festival Tallinn (ICFT) 2015 di Tallinn, Estonia, 23–25 April lalu. Lomba tersebut diikuti sekitar 40 kelompok dari berbagai negara.

Di hadapan undangan, mereka mempersembahkan lagu-lagu andalan. Salah satunya Cingcangkeling, lagu daerah Betawi. Tidak hanya suara merdu, mereka juga menampilkan gerakan tari pendamping lagu.

Ketua PSUA Maria Charlin Norin Reswa menjelaskan, timnya menjadi juara I pada kategori folksong choir, juara III kategori early music, dan juara IV kategori mixed choir. ”Senang sekali rasanya. Kami berhasil,” kata Charlin.

Tim PSUA mendaftarkan diri dalam kompetisi internasional tersebut lima bulan lalu. Tahap demi tahap mereka lewati hingga terbang ke Estonia pada Sabtu (18/4). ”Sejak mendaftar, kami melakukan persiapan dengan berlatih rutin. Menang sudah menjadi tekad kami,” imbuhnya.


Menurut mahasiswa jurusan administrasi negara itu, prestasi yang telah dicapainya tersebut melalui perjuangan cukup keras. Terutama beradaptasi dengan lingkungan ekstrem di Estonia. ”Cuaca di sana sangat dingin. Beda jauh dengan Surabaya. Suhu bisa mencapai 1–2 derajat Celsius,” ujarnya.

Jet lag ditambah perubahan suhu itu mengakibatkan tenggorokan mereka sakit. Jelas saja, kondisi tersebut memengaruhi suara mereka. ”Ada yang hidungnya buntu, pilek. Banyak lah dampak perubahan iklim yang ekstrem itu,” kata perempuan 20 tahun tersebut.

Meski begitu, tidak pernah terlintas di benak mereka untuk menyerah, apalagi mundur dari kompetisi. Mereka saling memberikan semangat dan motivasi untuk terus melanjutkan perjuangan.

Untung, mereka menemukan strategi jitu untuk menghadapi cuaca dingin. Ide tersebut muncul dari Music Director PSUA Yosafat Rannu Leppong. Caranya, sebelum berlatih, mereka menghirup udara hangat dari alat pemanas. ”Kami menghirup udara hangat dari room heater (pemanas ruangan). Hal itu kami lakukan sebelum tampil. Sangat manjur,” kata Yosafat.

Sebelum naik ke panggung, semua anggota selalu menghirup udara dari heater tersebut. Selain melegakan tenggorokan, cara itu mampu mengurangi rasa grogi sebelum tampil.

Mereka juga menemukan kendala pada makanan. Charlin mengakui, mendapatkan makanan yang halal sangat sulit di Estonia. ”Tapi, kami sudah mengantisipasi dengan membawa mi instan untuk persediaan,” imbuhnya.

Mereka membawa bekal mi instan untuk persediaan selama 10 hari di Tallinn. ”Ya sekali-sekali membeli burger di sana. Tapi, kami nggak bisa sering-sering makan fast food,” imbuhnya.

Charlin menceritakan, mereka juga mengalami kesulitan terkait dengan tempat latihan. Hotel tempat penginapan mereka sempit. Jadi, mereka tidak bebas saat latihan menjelang acara. Untung, mereka mendapat bantuan dari alumnus Unair yang sedang mengambil S-3 di Estonia. Mereka diizinkan memakai auditorium di Tallinn University of Technology. ’’Senangnya bisa bebas latihan di sana. Apalagi peralatan musiknya bagus dan keren. Kami berharap Unair nanti bisa memiliki tempat seperti itu,” ungkapnya.

Usaha tersebut ternyata tidak sia-sia. Saat tampil, mereka berhasil membuat penonton berdecak kagum. Terutama terhadap penampilan mereka yang mengenakan pakaian adat Bali tanpa menggunakan alas kaki. ”Kami satu-satunya peserta yang tidak menggunakan alas kaki di panggung. Kami juga memvariasi gerakan sambil menyanyi,” ujar perempuan kelahiran Lamongan itu.

Mereka mengikuti kompetisi dalam tiga kategori. Yakni, folksong choir, early music, dan mixed choir. ”Sebenarnya ada delapan kategori, kami memilih tiga saja,” jelas Charlin.

Di antara tiga kategori tersebut, tim PSUA berhasil mendapatkan nilai 90,4 dalam kategori folksong. Tim PSUA membawakan tiga lagu dalam kategori folksong. Yakni, Ugo-Ugo (asal Banyuwangi), Cingcangkeling (Betawi), dan Janger (Bali). Karena berhasil mendapatkan poin di atas 90, mereka lolos ke babak grand prix yang belangsung pada Sabtu (25/4).

”Hanya ada enam tim yang lolos dalam babak grand prix. Salah satunya kami. Di babak ini, tidak ada pemenang. Enam tim ini yang terbaik dari total nilai yang didapat,” imbuhnya.

Acara berlangsung mulai pagi sampai malam. Tenaga dan pikiran mereka benar-benar terkuras dalam mengikuti kompetisi tersebut. Mereka tidak menyangka bisa lolos, apalagi pulang ke Indonesia dengan membawa medali juara. Kemenangan itu menjadi hadiah indah dari usaha dan semangat mereka.

(*/c7/ayi)