Surat Terbuka Anggun C Sasmi, Kematian Bukanlah Keadilan

Anggun C. Sasmi dan Richard Sedillot, pengacara terpidana mati Serge Atlaoui. | Foto: AFP
Anggun C. Sasmi dan Richard Sedillot, pengacara terpidana mati Serge Atlaoui. | Foto: AFP
Anggun C. Sasmi dan Richard Sedillot, pengacara terpidana mati Serge Atlaoui. | Foto: AFP

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aksi Anggun C Sasmi yang ikut berdemonstrasi di Prancis untuk menolak hukuman mati di Indonesia mendapat kecaman dan hujatan dari sejumlah netizen.

Sebagai jawaban dan tanggapan atas hujatan itu, Anggun C Sasmi membuat surat terbuka untuk rakyat Indonesia. Dalam surat terbuka tersebut, Anggun setuju bahwa pengedar harus dihukum berat, tetapi kematian bukanlah sebuah keadilan. Surat terbuka itu dia posting di akun Faceboknya.

Inilah isi lengkap surat terbuka Anggun C Sasmi.

To the People of Indonesia.


Belakangan ini ada kontroversi tentang opini saya mengenai hukuman mati yang kebanyakan datang dari hujatan netizen di social network dan ini penjelasan saya.

Saya adalah seorang ibu, darah saya 100% Indonesia. Seorang ibu yang mencintai anaknya seperti layaknya semua ibu di Indonesia. Dan tentunya saya menolak, berperang dan membenci Narkoba juga semua pihak yang membantu membuat atau menjualnya.

Narkoba adalah musuh manusia yang menghancurkan hidup dan memecahkan keluarga. Narkoba  memperkayai mafia juga orang yang gemar korupsi dibelakang kepedihan orang-orang kecil. Tentu saja saya berdiri di sisi korban dan di sisi semua orang yang membenci Narkoba. Mereka yang membuat dan menjual racun Narkoba harus di adili dan harus diberi hukuman yang seberat-beratnya di penjara.

Saya juga seorang pembela Hak Asasi Manusia. Saya bekerja sama dengan PBB sebagai Goodwill Ambassador dan dalam Universal Deklarasi Hak Asasi Manusia tertulis larangan membunuh manusia.

Saya sangat percaya bahwa kita tidak bisa membasmi kriminalitas dengan membunuh orang-orang yang terlibat dalam kejahatan. Nyawa yang dibalas nyawa tidak akan mengembalikan hidup korban.
Kematian bukanlah keadilan. Untuk saya, hanya Allah semata yang mempunyai hak atas hidup dan mati manusia.

Saya ingin hukuman yang setimpal dan seberat-beratnya kepada para kriminal. Saya membenci koruptor yang membantu bandar Narkoba menjalankan bisnis penjualan bahkan lewat penjara. Saya ingin adanya proyek bantuan kepada keluarga dari korban Narkoba, seperti Ibu Ephie Craze yang surat terbukanya amat dan sangat menyentuh saya.

Saya berada di posisi yang sama seperti semua ibu dan istri yang akan selalu berada disisi korban Narkoba. Tetapi saya juga menolak hukuman mati karena tidak manusiawi dan tidak berhasil membasmikan kejahatan.

Berpendapat seperti ini bukan berarti menyangkal darah yang mengalir di nadi saya atau mempertanyakan kedaulatan Indonesia yang saya hormat dan cintai. Ini hati saya yang berbicara.

Semoga Allah memberkati.

Anggun