Miliki Belasan Anak, Membuat Halilintar Sukses Dalam Hidup

Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Faruk bersama sebelas anak- anak di taman depan rumah mereka. Keluarga ini menyebut diri sebagai Kesebelasan GenHalilintar.(Miftahulhayat/Jawa Pos)
Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Faruk bersama sebelas anak- anak di taman depan rumah mereka. Keluarga ini menyebut diri sebagai Kesebelasan GenHalilintar.(Miftahulhayat/Jawa Pos)
Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Faruk bersama sebelas anak- anak di taman depan rumah mereka. Keluarga ini menyebut diri sebagai Kesebelasan GenHalilintar.(Miftahulhayat/Jawa Pos)
Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Faruk bersama sebelas anak- anak di taman depan rumah mereka. Keluarga ini menyebut diri sebagai Kesebelasan GenHalilintar.(Miftahulhayat/Jawa Pos)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Adzan Magrib berkumandang di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu petang (28/3). Kesibukan pun langsung terlihat di sebuah rumah di salah satu sudut kawasan permukiman elite tersebut. Para penghuni rumah itu langsung bersiap-siap. Tidak untuk pergi ke masjid atau musala, melainkan mendirikan salat di ruang keluarga.

Salat dipimpin sang kepala keluarga, Halilintar. Sang istri, Lenggogeni, beserta 11 (sebelas) anak mereka menjadi makmum. Setelah salat, mereka melanjutkan dengan tadarus Alquran sejenak. Maka, suara orang mengaji pun terdengar ramai di ruang keluarga itu.

Begitu kegiatan rutin setiap magrib tersebut rampung, Hali (panggilan Halilintar) menyempatkan untuk menemui Jawa Pos (Grup pojoksatu.id) yang menunggu di ruang tamu. Istri dan putra-putrinya diperintah untuk menyiapkan makan malam bersama. Mereka menata delapan meja kecil setinggi 60 sentimeter di ruangan yang sebelumnya menjadi tempat salat berjamaah itu.

Setelah semua siap, acara makan malam dimulai. Suasana pun jadi ramai oleh celoteh anak-anak GenHalilintar dan beradunya sendok-piring mereka. Sementara itu, Hali dan Gen (panggilan Lenggogeni) makan di satu piring tanpa sendok dan garpu. Mereka makan dengan tangan.


”Ya, beginilah suasana setiap hari kalau pas makan bersama. Ramai kan?” ujar Hali

Rumah GenHalilintar tergolong besar. Rumah itu bertingkat tiga. Maklum, penghuninya banyak: 13 orang. Selain kamar-kamar tidur anak-anak, ada beberapa ruangan untuk gudang dan kepentingan usaha.

Hali sempat menjelaskan beberapa ruangan itu. Hampir semua difungsikan sebagai tempat kerja atau semacam laboratorium untuk belajar bisnis anak-anak Hali. Ruang keluarga, misalnya. Selain tempat bercengkerama, ruangan itu multiguna. Bisa digunakan untuk salat berjamaah, makan bersama, sekaligus tempat latihan kerja bagi anak-anak. Tumpukan portable hard disk terlihat di salah satu meja.

Hali menyebut anak-anak sebagai Kesebelasan GenHalilintar. Mereka tidak memiliki asisten rumah tangga atau pengasuh balita. Hanya beberapa staf dan guru yang memang sering datang untuk mengajar putra-putri GenHalilintar.

Sebelas anak GenHalilintar terdiri atas enam laki-laki dan lima perempuan. Mereka adalah Muhammad Atta Halilintar (Atta), 19; Sohwa Mutammima Halilintar (Sohwa), 18; Sajidah Mutamimah Halilintar (Sajidah), 17; Muhammad Thariq Halilintar (Thariq), 16; Abqariyyah Mutammimah Halilintar (Abqariyyah), 14; dan Muhammad Saaih Halilintar (Saaih), 12. Lalu, Siti Fatimah Halilintar (Fatim), 11; Muhammad Al Fateh Halilintar (Fateh), 9; Muhammad Muntazar Halilintar (Muntaz), 6; Siti Saleha Halilintar (Saleha), 4; dan Muhammad Shalaheddien El-Qahtan Halilintar (Qahtan), 2.

Gen menjelaskan, seluruh anaknya lahir secara normal dan lulus ASI (air susu ibu) eksklusif. Empat di antara 11 anak Gen lahir di luar Indonesia. Yang pertama, Thariq lahir saat GenHalilintar transit di Brunei Darussalam dalam perjalanan bisnis. ”Pada usia 24 hari dia kami bawa terbang, lalu umrah pada usia 56 hari,” tutur Gen.

Berikutnya, Abqariyyah juga lahir saat pasutri itu transit di Jordania. Awalnya, Abqariyyah direncanakan lahir di London, Inggris. Namun, Gen kecopetan di Bandara Heathrow. Paspornya hilang. Dalam perjalanan kembali ke Indonesia untuk mengurus paspor baru, mereka transit di Jordania. Di situlah Abqariyyah lahir.

Kemudian, ada Saaih yang lahir saat GenHalilintar singgah di Pulau Labuan, Malaysia. Terakhir, Fateh lahir di Kuala Lumpur tidak lama setelah GenHalilintar terbang dari Jakarta. ”Saya sangat bersyukur diberi kemudahan-kemudahan saat hendak melahirkan,” ucapnya.

Kelahiran anak di luar negeri itu tidak lepas dari aktivitas bisnis GenHalilintar. Sejak menikah, mereka menjelajah ke lima benua untuk berbisnis. Puluhan negara sudah mereka singgahi. Tidak untuk jalan-jalan, melainkan untuk berdagang, khususnya di bidang retail.

GenHalilintar membuka butik dan kafe di Prancis, lalu peternakan kambing di Australia yang luasnya, kata Gen, hampir sama dengan kompleks Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Menurut dia, orang-orang yang sukses zaman dahulu adalah pengelana.

”Vasco Da Gama, Cheng Hoo, mereka berkeliling dunia tidak dengan tangan kosong, tapi membawa barang dagangan,” tuturnya.

Dalam bukunya, Kesebelasan Gen Halilintar, Gen menyebut dirinya sebagai pregnant traveler, breastfeeding traveler, dan keluarganya sebagai family traveler. Bahkan, dalam keadaan hamil tua pun, Gen nekat menjalani penerbagan ke berbagai negara hingga empat anaknya lahir di luar Indonesia.

Hingga saat ini, GenHalilintar rutin bepergian bersama seluruh anak mereka. ”Tiap pekan kami traveling, tidur di hotel,” ujar Hali.

Hal itu dilakukan karena pria kelahiran 13 Oktober 1968 tersebut sering diminta menjadi adviser di berbagai perusahaan, tidak hanya di Jakarta. Karena itu, setiap ke luar kota, Kesebelasan GenHalilintar selalu diajak serta. Tidak heran bila mereka menjadi kompak.

Bagaimana pendidikan anak-anak? Di situlah letak ciri khas GenHalilintar. Sebagai alumnus UI, bahkan Gen kini calon doktor di Malaysia, mereka tidak membiarkan anak-anak lepas dari pendidikan. Untuk itu, mereka membuat sistem homeschooling plus.

Beberapa anak GenHalilintar memang sempat mengikuti pendidikan formal hingga SMP. Selebihnya, mereka dididik dengan metode traveling. ”Sekolah” dilakukan dalam perjalanan bisnis. Menurut Gen, ilmu lebih mudah disampaikan saat mereka bersama-sama di dalam mobil. Sebab, saat itu anak-anak tidak punya pilihan selain berfokus pada pelajaran yang diberikan.

”Jadi, kalau saya menyampaikan pelajaran, semua mendengarkan dan semua aktif,” ucap anak ketiga di antara enam bersaudara itu.

Perjalanan panjang tidak terasa karena diisi dengan model pendidikan yang konsepnya berbeda dengan perkuliahan. Cara tersebut diyakini lebih efektif dan mendalam. Sistem pendidikan homeschooling plus dilakukan 24 jam sehari tanpa libur. Yang diajarkan bukan hanya soal akademis, namun juga pembinaan fisik, nafsu, serta hati.

Sejak kecil, seluruh anggota Kesebelasan GenHalilintar dikenalkan kepada Tuhan dan diajari konsep-konsep mencintai Tuhan. Lewat konsep ketuhanan itu, mereka menjadi anak-anak yang peduli terhadap lingkungan sekitar serta hormat dan sayang kepada orang tua.

Saat sesi makan malam itu, tampak jelas kerja sama di antara tiap anggota Kesebelasan GenHalilintar. Kata ”tolong” selalu terucap setiap salah seorang anggota meminta bantuan kepada kakak atau adiknya. Yang lebih tua mampu mengasuh yang muda dan yang lebih muda pun sayang kepada yang tua.

Hali menuturkan, ada empat unsur dalam pendidikan yang harus diajarkan secara bersamaan. Tetapi, di antara empat unsur itu, hanya dua yang diajarkan sekolah-sekolah formal di Indonesia. Yakni, unsur fisik dan akal. Dua unsur lain nyaris tidak pernah diajarkan. Yakni, jiwa dan nafsu.

Sistem pendidikan tersebut, kata Hali, merupakan buah petualangan GenHalilintar semasa muda, terutama Hali. Sejak muda, Hali gemar bertualang. Agustus 1992, saat masih berada di Malaysia, dia memutuskan untuk pergi ke Uzbekistan. Kala itu, dia mengaku sedang dalam pencarian jati diri.

Berbekal visa yang didapatnya di Malaysia, Hali seorang diri bertualang ke negara pecahan Uni Soviet tersebut. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang masuk Uzbekistan setelah merdeka pada 1 September 1991. Kala itu, kedutaan Indonesia bahkan belum berdiri karena kedua negara belum punya hubungan diplomatik.

”Kalau ada yang lebih dahulu, saya kalah. Tapi, menurut Kedubes Uzbekistan, saya yang pertama,” tuturnya.

Selama di Uzbekistan, Hali baru tahu bahwa negara tersebut merupakan tempat kelahiran penemu-penemu besar. Misalnya, Ibnu Batutah, Aljabbar, Ibnu Sina, dan cendekiawan hebat lain. Penemu ilmu atom, perbintangan, serta ilmu-ilmu dasar lainnya lahir di Uzbekistan. Bukan hanya muslim, banyak ilmuwan nonmuslim yang juga berasal dari sana.

Hali pun bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka menjadi sehebat itu? ”Rupanya, kuncinya adalah empat unsur tersebut. Mereka mampu mengelola dengan baik,” tutur sulung lima bersaudara itu. Sebab, ketika akal tidak dibatasi jiwa, nafsu akan berbicara. Jadilah barang berbahaya seperti bom atom dan senjata kimia.

Para cendekiawan itu sukses mengerem nafsunya dalam mengembangkan akal sehingga yang dihasilkan adalah penemuan penting yang berguna, tidak sampai berbahaya. Selama 21 hari, Hali berkelana di negara tersebut dan belajar banyak hal.

Sekembali ke Indonesia, dia pun meminang Gen. Kala itu, mereka masih sama-sama kuliah. Hali kuliah di Jurusan Elektro UI tahun keempat, sedangkan Gen jurusan ekonomi tahun kedua. Mereka sama-sama berasal dari Riau. Hali di Dumai, Gen di Rumbai. Orang tua mereka sama-sama pegawai di Caltex (sekarang Chevron).

GenHalilintar yakin, memiliki banyak anak bukanlah sebuah musibah, melainkan anugerah. Seperti pepatah lama, banyak anak banyak rezeki. Bagi mereka, setiap anak sudah dibekali rezeki sendiri-sendiri oleh Tuhan. Mereka tidak pernah khawatir karena yakin Tuhan menitipkan 11 anak bukan tanpa alasan.

Bagi Gen, anak harus dididik sejak dalam kandungan. Ibunya harus betul-betul menjaga si buah hati sejak dalam kandungan, lahir, dan tumbuh kembang hingga dewasa. Menjaga pendidikan akal, nafsu, dan jiwanya secara seimbang. Maka, dengan sendirinya bakat mereka akan tampak dan bisa menjadi aset.

Saat ini, Kesebelasan GenHalilintar mengikuti jejak orang tuanya. Salah satunya Atta. Sejak SD, Atta mengembangkan bakatnya dalam berdagang. Dia membuat prakarya, lalu dijual kepada teman-temannya di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Kadang juga menjual popcorn dan sandwich.

Saat kelas 5 SD, Atta sudah ikut memasarkan produk provider komunikasi yang dijual Hali. Usia 12 tahun, dia mulai berjualan gadget secara online. Tahun berikutnya, dia menjalankan bisnis jual beli mobil dan berhasil meyakinkan pembeli untuk membeli mobil yang ditawarkannya.

Beberapa pembeli pun sempat kaget saat datang untuk menjajal mobil dan bertransaksi. ”Ternyata, yang menawarkan mobil kepada mereka via telepon itu anak usia 13 tahun,” kenangnya bangga. Berbagai macam bisnis dilakoni Kesebelasan GenHalilintar. Termasuk membuka kafe, biro perjalanan, hingga penerbitan buku.

Seluruh kegiatan di rumah tiga lantai itu dikendalikan Kesebelasan Gen Halilintar. Atta menjadi komando utama yang menggerakkan adik-adiknya. Urusan laundry digawangi Sohwa. Mencuci, mengeringkan, hingga melipat pakaian dan memasukkannya ke ruang ganti merupakan spesialisasinya. ”Kami punya 13 basket (keranjang) pakaian sesuai nama masing-masing,” ujar Gen.

Kemudian, segala urusan dapur menjadi bagian Sajidah, sang chef. Bukan Gen yang memasak makanan di rumah. Olahan nan sedap itu adalah hasil karya Sajidah. ”Saya sudah tidak boleh masak sama dia,” lanjut perempuan kelahiran 29 Oktober 1972 itu sembari menikmati makanannya.

Urusan housekeeping (kebersihan dan kerapian) adalah spesialisasi Fateh. Dia paling disiplin dalam urusan itu. Saudara-saudari lainnya membantu sesuai dengan kesenangan mereka. ”We work as a team to help our parents (kami bekerja sebagai tim untuk membantu orang tua, Red),” ujar Muntaz menimpali dalam bahasa Inggris yang amat fasih

Belum lama ini, Gen menuntaskan buku yang mengisahkan keluarganya. Buku itu terasa spesial karena disusun seluruh anggota keluarga. Dia menjadi penulis, Sohwa menjadi editor, dan layout-nya dirancang Atta. ”Semua foto di buku itu hasil karya anak-anak,” tandas dia. (*/c5/ari/zul)