Pria Ini Korbankan Ruang Tamu Rumahnya Jadi Perpustakaan Komunitas

Neni Muhidin
Neni Muhidin
Neni Muhidin

POJOKSATU.id, PALU- Karena hobi, orang bisa melakukan apa saja. Orang-orang menginvestasikan banyak hal dalam hidupnya. Waktu, pikiran dan materi adalah kombinasi investasi yang akan terus mengkristal menjadi sebuah kenyataan, mewujud dalam cita-cita.

Terkadang, orang lain mengangap mereka aneh, seperti apa yang dilakukan Opik di Garut. Ia membangun perpustakaan alam dengan cara mendatangi para petani di kebun atau sawah mereka dengan tumpukan buku-buku miliknya.

Sementara di Palu, diam-diam seorang pria telah membuat kontrak dengan ibunya. Mau pindah ke Palu, asal diberi ruang untuk menjalankan hobinya.

Neni Muhidin, yang mulai jatuh cinta dengan buku semasa semester III saat kuliah dulu, pindah ke Palu bersama anak isterinya setelah Ibunya memberi lampu hijau; “lakukan saja hal positif apa yang kau mau, asal kau di Palu”. Dan Neni pun hijrah.


Di perpustakaan mini miliknya di Jalan Tururuka Palu Selatan, dalam suasana santai, ia berbagi cerita tentang usahanya membangun perpustakaan, mengorbankan ruang tamu rumahnya, untuk diletakkan rak-rak setinggi orang dewasa dengan buku-buku yang berjubel di atasnya.

Ruangan itu menjadi semakin sesak. Tak mampu menampung ribuan buku yang setiap waktu datang dari hasil donasi orang-orang. Berkat upayanya selama ini, pertengahan Oktober 2014, Neni mendapat penghargaan dari Kemendikbud, sebagai perpustakaan komunitas terbaik se Indonesia di hari Literasi internasional di Kendari. Untuk mengetahui lebih jauh tentang cerita bapak dua anak ini, berikut petikan wawancaranya dengan reporter Mohammad Sahril. (Wawancara Selengkapnya)

Saat ini, Neni Muhidin yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan literasi, sedang melakukan tur atas peluncuran buku terbarunya berjudul “Selfie: Sewindu Catatan dari Palu”. Jumat sore besok (27/03), ia dijadwalkan akan berbagi cerita di Warta-Kota Malang.

Sebelumnya, setelah diluncurkan di Palu, buku yang digagas menggunakan donasi dari netizen di Palu tersebut, mendapat ruang untuk dibedah bersama para pegiat literasi di C20 librery & collaborative di Surabaya, Rabu malam (25/03). (ril)