Libana, Pencipta 201 Warna Alam Kain Tenun NTT

Sariat Libana, Pencipta 201 Warna Alam Kain Tenun Ikat NTT
Sariat Libana, Pencipta 201 Warna Alam Kain Tenun Ikat NTT
Sariat Libana, Pencipta 201 Warna Alam Kain Tenun Ikat NTT
Sariat Libana, Pencipta 201 Warna Alam Kain Tenun Ikat NTT

POJOKSATU.id, JAKARTA – Menemukan Sariat Libana tidak terlalu susah. Sehari-hari dia berada di markas kelompok penenun ikat Gunung Mako yang dipimpinnya. Tepatnya di Dusun Hula, Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut.

’’Paling gampang cari Kampung Sumur Tuti Pandjaitan, lalu masuk. Dulu ada turis Jepang cari saya. Dia berputar-putar cari sumur di kampung itu. Ternyata, sumurnya tertutup pohon pisang sehingga sulit menemukan saya,’’ kata Sariat lantas terkekeh. Sumur Tuti Pandjaitan adalah nama kampung yang dulu mendapat sumbangan sumur dari istri pejabat Orde Lama yang namanya kemudian diabadikan di kampung itu.

Lucu dan energik. Begitulah kesan pertama yang tertangkap dari sosok perempuan 42 tahun tersebut ketika Jawa Pos (Grup pojokstu.id) menemuinya Rabu (11/3) di halaman belakang rumah yang dijadikan tempat berkumpul kelompok penenunnya.

Sembari mengunyah sirih dan pinang yang sudah dicelupkan ke bubuk kapur, istri Mohamad Libana itu berbagi cerita. Sederet gigi berlapis warna merah muncul saat dia tertawa.


Dia bercerita, dua tahun lalu, dirinya ditunjuk untuk menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) karena menenun dengan serat dan warna alam dengan peserta terbanyak. Tentu saja, setelah itu, banyak pejabat yang datang ke tempatnya.

’’Sembilan setel kain saya lalu diminta mereka. Habis. Tapi, tidak ada uang. Sudah, biar sajalah. Tidak usah marah ko. Kita cari uang di tempat lain,’’ ujarnya santai.

Sedih tentu saja. Apalagi bagi anggota kelompok penenunnya. Kain yang mereka kerjakan selama berhari-hari tak menghasilkan uang. Padahal, untuk menghasilkan satu setel kain, mereka butuh waktu satu minggu buat mengerjakannya. Kain tenun ikat tersebut lalu dijual dengan harga Rp 400–500 ribu per lembar.

”Saya bilang ke pak bupati, lain kali, ada penghargaan, biar saya saja yang ambil. Kalian tidak usah ke sini,” katanya. Lagi-lagi disusul tawa renyahnya.

Perempuan yang sejak berumur tujuh tahun membantu orang tuanya menghasilkan tenun ikat itu memang dikenal suka ceplas-ceplos, namun kreatif. Tak heran jika dia sering diundang untuk menjadi pembicara atau memberi pelatihan tentang penciptaan warna kain tenun ikat dari bahan-bahan alam.

”Tapi, tidak saya buka semua ilmunya. Enak saja. Ibarat kata na, saya yang ujian, orang lain yang naik kelas,” ucap ibu enam anak itu.

Berkat ketekunan dan keuletannya, hingga kini Sariat telah menemukan sedikitnya 201 warna alami untuk kain tenun ikat khas Alor. Hanya, dia belum sempat mematenkan. Dia mengaku tak paham caranya.

Perempuan yang disebut perancang busana Merdi Sihombing sebagai profesor warna itu menyatakan menunggu uluran tangan pemerintah. ”Saya minta dipatenkan. Kalau tidak, orang luar nanti yang klaim. Kalau sudah begitu na, terasa seperti Cita Citata. Sakitnya tuh di sini,” katanya sambil menepuk dada kirinya menirukan aksi penyanyi dangdut tersebut.

Setelah bilang begitu, Sariat langsung menyanyi dan berjoget diiringi cekikikan beberapa penenun yang menemaninya. Salah satunya lantas berceletuk, ”Teman Mama Sariat penyanyi dangdut semua.” Sariat kembali tertawa.

”Mama (dia memanggil Jawa Pos seperti itu, Red) coba buka Facebook. Cari halaman Ibu Sariat Libana. Di situ yang komen Saipul Jamil, Rina Nose, sama Cita Citata,” kata nenek lima cucu itu. Dia mengenal artis-artis ibu kota tersebut ketika beberapa kali ke Jakarta untuk mengikuti pameran yang mempromosikan tenun ikat khas Alor.

Setelah bercanda, Sariat lantas memanggil beberapa ibu untuk membantu dirinya mempraktikkan pewarnaan menggunakan bahan alam.

Langkah pertama, mereka merebus air dalam kuali besar. Dia lalu memasukkan kulit batang pohon mengkudu untuk mendapatkan warna alaminya.

etelah mendidih, gumpalan benang yang sebelumnya dibilas air garam dimasukkan ke kuali. Setelah setengah jam, benang dientas, kemudian dimasukkan ke air dengan sedikit kapur. Tahap berikutnya, benang dijemur sampai kering.

Selesai? Ya, kalau warna yang diinginkan adalah oranye. Jika ingin warna merah, prosesnya berlanjut. Gumpalan benang oranye itu diletakkan di atas karung plastik, lalu ditaburi kapur, diremas-remas, ditampar-tampar, dipilah helaian benangnya, ditaburi kapur lagi, diremas-remas lagi, dan ditampar-tampar lagi. Setelah itu ditutup selama satu jam, lalu dibilas dan dijemur lagi sampai kering.

Menurut Sariat, warna merah terbaik bisa diperoleh dari kulit batang pohon mengkudu yang sudah disimpan bertahun-tahun. Di samping mengkudu, bahan lainnya adalah daun nila. Daun yang ditumbuk dan dicampurkan ke gumpalan benang akan menghasilkan warna hijau, biru, atau abu-abu. Semua bergantung proses pencampuran serta bahan tambahan yang lain.

Sariat juga menggunakan biota laut untuk menciptakan warna alami. Salah satunya teripang. Binatang mirip buah mentimun tapi bergerigi itu menghasilkan warna merah hingga ungu. Sedangkan rumput laut bisa memberi warna cokelat, ungu, dan biru. ”Bergantung jenis rumput lautnya,” ujar Sariat.

Ada 20 jenis biota laut yang bisa diolahnya untuk mendapat warna yang diinginkan. Sedangkan dari darat terdapat 167 jenis tanaman yang mampu menghasilkan warna khas di kain tenun ikat Alor.

Keahlian Sariat itu warisan orang tuanya yang mengajari membuat warna dari sejumlah tanaman. Namun, dalam perkembangannya, dia memperkaya warna tersebut setelah sukses bereksperimen dengan berbagai bahan tanaman lain. Setelah sukses dengan aneka tanaman, dia juga mulai menggunakan biota laut sebagai bahan warna alami.

Selain menunggu bantuan untuk mematenkan karyanya, Sariat berharap pemerintah mau membantu pemasaran hasil tenun ikat Alor. Selama ini mereka kesulitan untuk melempar hasil kerajinan tangan rakyat Alor itu. Mereka baru bisa menjual dengan harga yang bagus bila ada pameran. ”Pemasaran kain tenun ikat Alor belum maksimal,” ungkapnya.

Sariat ingin semakin banyak orang yang mengenakan tenun ikat khas Alor. Dengan demikian, kesejahteraan para penenun di wilayahnya pun ikut terangkat. ”Tapi, Mama tidak usah sedih. Biar begini, kami tetap bahagia,” ujarnya.

Sariat lantas mengambil gitar gambus biru miliknya. Menyetel senarnya sebentar, lalu memainkannya. Lagu Kapas-Kapas Menjadi Benang pun mengalun merdu sore itu. (*/c5/c9/ari/zul)