Beberapa Cara Kembangkan Kreativitas Anak

LOW BUDGET : Clay decoration bisa membantu para orang tua yang bingung melakukan kegiatan untuk anak-anaknya pada liburan sekolah. (Frizal/Jawa Pos)
LOW BUDGET : Clay decoration bisa membantu para orang tua yang bingung melakukan kegiatan untuk anak-anaknya pada liburan sekolah. (Frizal/Jawa Pos)
LOW BUDGET : Clay decoration bisa membantu para orang tua yang bingung melakukan kegiatan untuk anak-anaknya pada liburan sekolah. (Frizal/Jawa Pos)

POJOKSATU – Tumbuh kembang anak di era modern seperti sekarang cukup membuat para orang tua harus memikirkan cara mengarahkannya ke dalam kegiatan yang positif.

Dengan adanya nomophobia yang menjadi sebuah ancaman anak-anak zaman sekarang. Nomophobia adalah ketergantungan anak terhadap gadget. Begitu banyak anak yang sangat agresif dalam arti negatif, tidak mudah bergaul, dan tidak mengerti sopan santun. Bahkan, kreativitas anak-anak sekarang cenderung sangat minim.

Contohnya, ketika seorang anak diberi kertas kosong dan pensil warna. Kemudian, pada saat bersamaan, dia diberi gadget dengan aplikasi game-game terbaru. Mayoritas anak-anak sekarang pasti memilih untuk memainkan gadget karena memberikan kesenangan yang instan kepada mereka.

Karena itu, para orang tua hendaknya lebih cerdas dalam memilih kegiatan untuk anak-anaknya. Salah satunya, mengajak anak melakukan aktivitas yang ’’memaksa’’ mereka untuk berkreasi. Misalnya, menghias kue dan membuat karakter dari clay yang diadakan di Supermall beberapa waktu lalu.


Yeni Chang, promotion manager Supermall, menyatakan, pihaknya cenderung menghelat acara yang bisa mengembangkan kreativitas, rasa percaya diri, dan motorik anak-anak. ’’Anak-anak butuh wadah untuk mengembangkan kreativitasnya. Jadi, mereka datang ke mal bukan hanya bermain, tapi juga bisa menumbuhkan kreativitas dan percaya diri mereka’’ ungkapnya.

Yeni, panggilan akrabnya, juga menjelaskan, menghias kue dan clay decoration tersebut bisa membantu para orang tua yang bingung melakukan kegiatan untuk anak-anaknya pada liburan sekolah. Selain menjauhkan pengaruh negatif TV gadget, kegiatan itu memberikan kemudahan untuk menghabiskan liburan dengan low budget.

Angelique, pemilik PawonQue, yang juga turut berpartisipasi dalam acara di Supermall menuturkan, dirinya menyediakan beberapa contoh cookies dengan karakter tokoh-tokoh kartun lucu yang bisa menarik perhatian anak-anak untuk menghias kue. ’’Tapi, kebanyakan anak-anak yang datang ke sini malah lebih memilih menghias kue dengan karakter mereka sendiri,’’ jelasnya.

Perempuan yang juga membuka gerai cookies decoration di rumahnya itu menambahkan, ketika anak-anak menghias kue, kreativitas mereka akan tumbuh. Demikian pula rasa percaya diri saat mereka menunjukkan cookies hiasannya. ’’Intinya, hasil hiasan yang bagaimanapun bentuknya jangan dihina atau dikritik. Nanti takutnya gak pede lagi,’’ terangnya.

Senada dengan hal tersebut, pasangan suami-istri Edward Christhoper dan Angela, owner Clay Angel, menyatakan, ketika anak-anak sudah berkreasi menghias atau membuat sesuatu, otomatis rasa keingintahuan dan percaya diri mereka akan ikut tumbuh. ’’Ketika imajinasi anak sudah mengambil alih, jangankan membuat sesuatu yang bagus, clay master piece pun bisa dibuat. Asalkan, kreativitas mereka terus diasah dengan kegiatan seperti ini,’’ ungkap Edward, lalu diiyakan istrinya, Angela. (rid/c19/tia/zul)