Keren, Bocah Bogor Ini Punya IQ Lebih Tinggi dari Albert Einstein

Cendikiawan Suryatmaja alias Dicky, bocah jenius di dunia
Cendikiawan Suryatmaja alias Dicky, bocah jenius di dunia
Sudah SMA di usia 10 tahun, dengan IQ 200. Dok: Radar Bogor
Sudah SMA di usia 10 tahun, dengan IQ 200. Dok: Radar Bogor

POJOKSATU – Seorang anak berusia 10 tahun memiliki IQ yang sangat cerdas. Anak ini menjadi salah satu siswa di kelas X SMA Kesatuan Bogor. Sebagai pembanding, IQ penemu teori relativitas, Albert Einstein cuma 161. Sedangkan IQ yang dimiliki Dicky -sapaan Cendikiawan- sebesar 200.

Kendati sudah menjadi anak SMA, Dicky tak bisa menyembunyikan wajah polos dan sifat kekanak-kanakannya. Tak ayal, hal ini kerap menjadi bahan candaan teman-temannya di sekolah. “Saya sering dicubit pipinya, tetapi saya tidak marah dan tidak merasa terganggu,” ungkapnya sambil tersipu kepada Radar Bogor, kemarin.

Dicky menjalani program akselerasi ketika dia duduk di SD Kesatuan. Masuk kelas I di usia enam tahun, Dicky berhasil loncat ke kelas III  di tahun berikutnya. Dicky tak sempat menyelesaikan pendidikannya di kelas IV, karena sang orang tua memindahkannya ke Singapura.

“Saya cuma enam bulan di sana. Saya merasa punya utang dengan Indonesia, makanya saya ingin kembali ke Indonesia,” ungkap Dicky bernada serius. Tepat di ulang tahunnya yang kedelapan, Dicky dipertemukan dengan pendiri Surya University, Prof Yohanes Surya.


Prof Surya kemudian mengasah betul ilmu fisika yang dimiliki Dicky lewat pendidikan home schooling di Surya University. Walhasil, bungsu dari tiga bersaudara ini menjadi peserta ujian nasional (UN) dua tingkat pendidikan sekaligus. Yakni, SD dan SMP. Dan bisa ditebak, Dicky lulus di kedua ujian tersebut.

Di SMA Kesatuan, Dicky mendapatkan perlakuan khusus. Dia hanya bersekolah formal atau masuk kelas ketika pelajaran fisika berjalan. “Setiap hari saya juga belajar fisika bersama guru (Surya University) selama empat jam. Sisanya saya belajar sendiri,” ungkap Dicky.

Soal prestasi, Dicky pernah ikut dalam olimpiade matematika dan mendapatkan medali perunggu. “Waktu itu saya ikut olimpiade matematika di Beijing,” sahutnya. Bocah yang getol membaca buku ini mengaku ingin membuktikan diri kepada dunia, bahwa anak Indonesia memiliki potensi besar dalam segala bidang.

Di keluarganya, Dicky bukan anak satu-satunya yang mengikuti program akselerasi. Sang ibu, Hannie, terlebih dahulu mengakselerasikan pendidikan si sulung, Dykso Dewantoro (20). Kini, kakak pertama Dicky itu sudah akan lulus kuliah di salah satu Universitas Inggris.

Terpisah, Kepala SMA Kesatuan Ahmad Junaedi mengatakan, Dicky merupakan anak yang cerdas. Bahkan bisa dibilang jenius. Bocah yang satu ini tidak hanya cerdas di bidang akademis, tapi juga dikenal anak yang rendah hati. “Saya yakin pendidikan karakter yang ditanamkan oleh orang tuanya sangat baik. Maka dari itu, Dicky pun menjadi anak yang spesial,” ungkap Dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Kota Bogor Jana Sugiana mendorong agar Dicky untuk terus mengukir prestasi sesuai bidang yang dipilihnya, yakni sains.  “Disdik terus mendukung Dicky untuk mengikuti olimpiade sains hingga tingkat internasional,” katanya saat ditemui pada Olimpiade Sains tingkat Kota Bogor, kemarin (11/2).

Dia juga menyampaikan bahwa Dicky diterima masuk SMA lantaran memiliki ijazah yang sah juga memiliki IQ yang tinggi. Di Kota Bogor sendiri hanya ada empat sekolah yang menyediakan program akselerasi, yaitu SMAN 3, SMAN 6, SMA Insan Kamil, dan SMP Insan Kamil.

Lama pendidikan yang ditempuh oleh siswa akselerasi yakni dua tahun, dengan jumlah 32 siswa di setiap sekolahnya. Mengingat usia Dicky yang masih 10 tahun, Jana menyampaikan, hal tersebut tidak menjadi persoalan. “Usia bisa disesuaikan, namun Dicky ini telah memiliki ijazah SMP, ya bisa masuk SMA,” ungkap dia.

Sejatinya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menghapus program pendidikan akselerasi mulai tahun ajaran 2015-2016. Penghapusan ini terkait dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 sekaligus untuk menghilangkan diskriminasi antara anak yang pandai dan yang biasa-biasa saja.

Dirjen Pendidikan Menengah Achmad Jazidie mengatakan, sebagai ganti dari program akselerasi, yaitu bagi siswa kelas tiga SMU/SMK bisa mengambil mata kuliah di perguruan tinggi. “Nantinya itu berdasarkan SKS, jadi siswa yang masih belajar di SMU/SMK bisa mengambil mata kuliah di perguruan tinggi yang nantinya akan diperhitungkan apabila masuk di perguruan tinggi,” jelasnya. (rp10/d/zul)