Bunda, Begini Cara Ajarkan Anak Bijak Gunakan Uang

Diperagakan Anna Lovely dan Satria Atmadja Agung Nugraha. (Dite Surendra/Jawa Pos)
Diperagakan Anna Lovely dan Satria Atmadja Agung Nugraha. (Dite Surendra/Jawa Pos)
Diperagakan Anna Lovely dan Satria Atmadja Agung Nugraha. (Dite Surendra/Jawa Pos)

POJOKSATU – Mengajari anak untuk berhemat sejak usia dini sejatinya adalah investasi. Mereka diajari menghargai kerja keras. Agar ketika mereka dewasa, mereka bisa belajar mandiri dan bertanggung jawab.

Financial Planner Maxi Money, Meydian Eka Rini RPP (registered para planner) mengatakan bahwa sebaiknya sejak usia tiga tahun, saat anak mulai mengenal angka, orang tua sudah mulai mengajarkan bagaimana merencanakan keuangan.

Perencanaan itu bisa diawali dengan memenuhi keinginan sang buah hati. Misalnya, sebagaimana yang diterapkan Dian, sapaannya, kepada anaknya. Suatu saat sang anak menginginkan tas bergambar karakter Frozen. Kala itu Dian hanya mencatat, tanpa membelikannya.

Sesampai di rumah, dia baru menyampaikan harga tas itu. Dan, untuk membelinya, sang anak harus menabung. Tentu, penjelasan itu disampaikan dengan bahasa anak agar mudah dipahami.


Nah, tabungan anak pun tak berbentuk rupiah. Setelah menjelaskan, lantas perempuan berkerudung itu membuat kesepakatan bersama anak. Jika tak menangis saat bunda bekerja, si kecil –bernama Kansha Almira– akan mendapat 2 poin. Jika bangun tidur langsung membersihkan tempat tidur, Kansha mendapat 3 poin. Membersihkan rumah, 5 poin yang didapat. Poin-poin tersebut biasanya berupa stiker bergambar bintang atau tokoh kartun favorit anak. Si anak sendirilah yang akan mengumpulkannya.

Perempuan alumnus jurusan multimedia Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (Stikom) Surabaya itu menghargai tiap poin senilai Rp 5 ribu. Dengan demikian, kalau poin-poin itu sudah terkumpul, tas Frozen yang diinginkan sang buah hati akan dibelikan. ”Upaya itu agar anak menjadi bijak dan tidak boros,” ujar perempuan asli Gresik tersebut.

Hal yang sama disampaikan Anglis Ayu Anjarsari MPsi, psikolog. ”Cara paling efektif adalah melalui teladan dari lingkungan sekitar,” ungkapnya. Menurut Anglis, upaya merencanakan keuangan bisa juga dengan membuat kesepakatan saat berbelanja bersama. Misalnya, ”Bunda nanti hanya belanja keperluan yang ada di catatan ini. Adik boleh beli kue atau snack. Tapi satu saja.” Kalau di supermarket tiba-tiba anak ingin beli banyak hal, harus tegas pada kesepakatan awal.

Lalu bagaimana jika anak menangis, merengek, dan merajuk? ”Orang tua harus tetap konsisten dan tidak menyerah dengan rengekan anak,” tegas ibu dua anak itu. Memang terkadang itulah tantangan yang menyulitkan orang tua. Jika orang tua mudah kasihan dan tidak konsisten, tangisan dan rajukan tersebut bisa jadi senjata

Tak jarang anak-anak, yang bahkan sudah dewasa, kerap mengancam orang tua kalau keinginannya tidak dituruti. Lantas, orang tua akan mengalami kesulitan dalam penanganan anak dan bisa saja terbelit kesulitan ekonomi ketika dalam kondisi terbatas.

Memang, ungkap Dian, sang perencana keuangan itu, cukup banyak klien yang datang dan mengeluhkan anaknya yang susah berhemat. Kata Dian, kuncinya adalah komunikasi. ”Sering-sering diajak ngobrol. Dengan begitu, kita akan mengerti apa yang mereka inginkan,” terangnya. Lalu, jangan lupa untuk mengajarkan bijak dengan menentukan skala prioritas untuk apa saja yang diinginkan dan dibutuhkannya.

Perempuan yang lahir pada 4 Mei 1984 itu juga mengisahkan, ada salah satu kliennya yang bahkan telah mengajak anaknya yang baru duduk di bangku kelas III SD berbicara tentang masa depan. Tentang dia ingin kuliah di mana nantinya, menjadi apa, tujuan-tujuan ekonomi, atau apa saja yang ingin dimilikinya di masa depan.

Kemudian, sang klien menuturkan bahwa untuk mencapai semua itu, diperlukan uang. Dengan pengertian-pengertian khas bahasa anak-anak, si kecil pun mengerti. Alhasil, saat kedua orang tua bekerja, bahkan saat weekend sekalipun, dia sama sekali tak pernah komplain. (ndi/c10/dos)