Meniti Jalan Panjang Ismail, Keliling Indonesia dengan Sepeda

BOKS

BISA keliling ke seluruh Indonesia dan mengunjungi setiap daerah dengan segala keindahan dan ragam adat budaya sudah tentu menjadi keinginan yang sulit untuk ditolak. Tapi, jika berkeliling Indonesia dengan hanya menggunakan sebuah sepeda sudah pasti membuat orang berfikir seribu kali sebelum melakukannya. Tapi tekad besar Ismail meruntuhkan itu semua.

Laporan: Guruh Permadi, Cianjur

KAYUHAN kaki laki-laki itu di atas pedal sepeda akhirnya mengantarkannya sampai di Cianjur. Dengan langkah pasti disertai gerimis yang sudah membasahi sebagian pakaiannya, ia menyempatkan diri mengunjungi kantor redaksi Radar Cianjur (Grup Pojoksatu.id) di Jalan KH Abdullah bin Nuh, kemarin.


Ismail, demikian nama laki-laki yang sudah memulai perjalanan berkeliling Indonesia dengan hanya menggunakan sepeda sejak 1989 itu. Ia mengaku, apa yang ia lakukan itu bukanlah sekedar ikut-ikutan dan mencari ketenaran. Tapi itu sudah menjadi panggilan hatinya sudah sejak ia kecil.

Ternyata, tekad berkeliling Indonesia itu sudah dimiliki Ismail sejak ia duduk di bangku klas 4 sekolah dasar. Cita-citanya hanyalah ingin menjadi seorang penjelajah serta bisa mencatatkan namanya dalam buku rekor dunia Guiness Book of Record. Selain itu, rasa cintanya pada tanah air yang begitu besar pun menambah kobaran semangatnya untuk menjejakkan kakinya di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

“Saya sudah punya cita-cita menjadi seorang penjelajah sejak klas 4 SD,” ujar Ismail.

Dikatakan laki-laki yang hingga kini masih membujang itu, tekadnya berkeliling Indonesia itu tidak pernah surut. Bahkan, setiap harinya semakin besar dan semakin tidak bisa ia bendung lagi. Sampai akhirnya, setelah kenaikan klas 1 di sebuah SMK di Indramayu, ia pun membulatkan tekadnya untuk memulai perjalanan panjang mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda.

“Jadi sekolah tidak saya lanjutkan lagi. Begitu naik kelas, saya langsung berangkat,” katanya.

Niatnya itu bukannya berjalan mulus. Berbagai penolakan dan larangan, terutama dari seluruh keluarga besarnya pun mengemuka. Bahkan, protes dan larangan keras pun datang dari kedua orangtuanya. Bahkan, sampai-sampai, ayahnya mempersulit keberangkatannya dengan meminta kepada pemerintah desa setempat agar tidak memberikan surat keterangan sama sekali.

Namun, hal itu justru tidak menyurutkan dan mengurungkan niat tekadnya sama sekali. Ia pun mendatangi langsung kepala desa dan mengatakan bahwa ia tetap akan berangkat dengan atau tanpa adanya surat keterangan dari pihak desa sekalipun.

“Saya bilang sama kepala desa, saya tetap akan berangkat dengan atau tanpa surat keterangan dari desa. Tekad saya sudah bulat,” ucap Ismail.

Akhirnya, Ismail pun memulai perjalanan impiannya itu dengan memulai mengarah ke timur. Tepatnya, dia mengawali keliling Indonesia pada 20 juni 1989 dengan rute Jawa Barat kemudian Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan terus ke arah timur menuju Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Timor-Timur (saat masih jadi bagian Indonesia, red) Irian Jaya (sekarang Papua) kemudian ke Maluku.

Tidak semua perjalanannya berjalan dengan cukup mulus dan lancar. Laki-laki kelahiran Desa Cangko, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, 5 Mei 1969 itu pernah disandera selama beberapa waktu oleh gerakan anti Indonesia yang menghendaki berpisah dengan NKRI.

“Kan saya pasang bendera merah-putih di sepeda saya. Makanya saya langsung disandera dan diintrerograsi. Saya dikira sebagai mata-mata dari Indonesia,” terang dia.

Tidak hanya disandera, diinterograsi dan disekap. Ismail juga harus mengalami siksaan mulai dari pukulan, tendangan serta berbagai jenis siksaan lainnya. Namun, ia tetap teguh dalam pendiriannya. Sampai akhirnya ia pun dilepas setelah terbukti bahwa dia bukanlah mata-mata dari Indonesia.

“Akhirnya dilepas setelah terbukti bahwa saya bukan mata-mata,” tutur dia.

Meski sudah mendapatkan pengalaman yang sangat tidak mengenakkan dan hampir merenggut nyawanya itu, Ismail tidak lantas malah menyerah. Ia malah terus melanjutkan perjalanannya ke arah Indonesia timur ke arah Papua.

Setahun kemudian, ia pun menginjakkan kakinya di tanah Papua. Hal yang sama pun harus kembali ia terima. Penyebabnya tidak lain adalah karena bendera merah-putih yang selalu berada pada bagian belakang sepedanya itu.

Kembali, ia pun harus mengalami penyekapan oleh Organisasi Papua Merdeka karena disangka sebagai mata-mata militer di Kabupaten Jayawijaya. Ismail pun akhirnya disandera selama tiga bulan. Setelah tak terbukti sebagai mata-mata militer baru ia dilepaskan. Namun sempat mengalami siksaan hingga gigi depannya hilang.

“Telunjuk saya diusap-usap ke pipi mereka. Dari situ mereka tahu kalau saya bukan mata-mata ataupun militer. Kalau telunjuk kasar itu pertanda sering memegang senjata, dan ternyata kepala OPM menilai telunjuk saya halus sehingga mempercayainya bahwa saya bukan mata-mata atau militer,” katanya.(ruh/dep)