Lebih dari 80 Persen Penderita Kanker Tak Sadar Terjangkit

ilustrasi
 80 Persen Pederita Kanker Serviks dan Payudara Telat Periksa ke Dokter

80 Persen Pederita Kanker Serviks dan Payudara Telat Periksa ke Dokter

POJOKSATU – Lebih dari 80 persen penderita kanker serviks dan payudara datang ke dokter dengan kondisi yang sudah parah. Padahal, penyakit tersebut sangat membahayakan jiwa penderita.

Kanker serviks dan payudara tercatat sebagai pembunuh nomor dua dan tiga wanita di Indonesia setelah penyakit jantung.

Fakta ini terjadi karena rendahnya pendidikan dan tingkat ekonomi sehingga pengetahuan seputar kanker dan keuangan untuk berobat atau sekadar periksa masih kurang. Sebab, penyakit tersebut banyak diderita kalangan menengah ke bawah.

Hal itu diungkapkan Ratna Mutiara Sari, salah seorang dokter yang menjadi konselor dan memberikan edukasi tentang kanker serviks dan payudara, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah, di Kelurahan Tembok Dukuh, Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (3/2).


“Biasanya, di suatu kawasan atau kelurahan tempat kami melakukan sosialisasi dan edukasi, mereka sama sekali belum pernah mengikuti kegiatan sosialisasi. Keinginan dan keberanian untuk bertanya lebih jauh tentang itu juga kurang. Mereka hanya paham penyakit dan akibatnya, namun tidak tahu gejala-gejalanya,” kata Ratna seperti yang dilansir Radar Surabaya (Grup pojoksatu.id), Rabu (4/2).

Karena tidak paham gejal-gejala dini yang ditimbulkan dan indikasi awal dari dua kanker tersebut, mereka enggan melakukan pemeriksaan sebelum mengeluhkan suatu gejala. “Gejala yang mereka rasakan itulah yang mengindikasi bahwa penyakit mereka sudah masuk tahap lanjut atau mulai kronis,” ujar Ratna.

Dengan seringnya ikut sosialisasi, masyarakat lebih berani dan terbuka. Bahkan, mereka mau dan berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan awal. Itu juga membantu menambah pengetahuan tentang penyakit tersebut sehingga mereka cepat memeriksakan diri.

Di kalangan menengah ke atas, ada beberapa alasan baru melakukan pengobatan setelah kondisi parah. Yaitu, mereka takut didiagnosis suatu penyakit dan dampak dari penyakit tersebut. (nur/iku/awa/jpnn/zul)