Keindahan Tak Berujung Pulau Seram, Maluku

Dermaga Sawai jadi tempat strategis menanti malam dan kabut Taman Nasional Manusela yang menyelimuti desa. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
Puluhan camar laut berjemur di dangkalan Sialon Maina. Itu jadi tempat berjemur dan bersantai saat siang. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
Puluhan camar laut berjemur di dangkalan Sialon Maina. Itu jadi tempat berjemur dan bersantai saat siang. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

POJOKSATU – Keindahan Pulau Seram seolah tanpa ujung. Makin jauh kaki melangkah ke utara Pulau Seram, makin dalam pula persentuhan dengan keharmonisan angan. Semilir angin, desis suara binatang, tarian pepohonan, hingga jernihnya air begitu memanjakan setiap indra. Semua terbagi pada sejumlah destinasi wisata di Pulau Seram, Maluku. Pulau berlimpah kekayaan alam tersebut seakan tidak pernah surut dalam memikat pengunjungnya.

Dermaga Sawai jadi tempat strategis menanti malam dan kabut Taman Nasional Manusela yang menyelimuti desa. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
Dermaga Sawai jadi tempat strategis menanti malam dan kabut Taman Nasional Manusela yang menyelimuti desa. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Trip pertama yang wajib dikunjungi adalah menyusuri Sungai Salawai, sungai besar nan jernih yang seolah tidak berujung. Perjalanan menyusuri sungai kaya nipah dan pohon sagu tersebut dimulai dari titik yang jarak tempuhnya hanya 15 menit dari Sawai. Di sepanjang perjalanan, terlihat jajaran gunung batu dan air yang jernih. Sejumlah pulau tidak berpenghuni juga menjadi pemandangan elok sepanjang perjalanan.

Di Desa Sawai, tepatnya di pinggiran tanah basah di bibir sungai Salawai kita bisa menjumpai banyak buaya. Tidak hanya itu, bila beruntung, mata bisa terbelalak melihat rombongan burung camar yang terbang membentuk formasi hati di langit.

Titik paling elok di Sungai Salawai berhias pohon nipah di kiri-kanan. Seolah menjadi gerbang penyambut. Di daerah tersebut, beberapa ikan dan rumpun besar akar pohon nipah di dasar sungai jelas terlihat. Jernihnya air memang ibarat akuarium sekaligus cermin raksasa.


Di pesisir sungai Salawai, beberapa lelaki separo baya membelah sebatang pohon sagu. Ada pula yang mengayak tepung basah dan menyaring sisa pembuangan dengan menggunakan perkakas alami.

Sungguh aktivitas tradisional yang sudah sangat jarang ditemui di Kota Ambon. Di situlah dapur pembuatan bahan baku makanan yang mirip lem tersebut dibuat. Boat kami lantas menepi sekaligus melihat langsung cara pembuatannya. Tidak perlu sungkan dan malu. Sebab, para wate –sebutan Paman dalam bahasa Seram– dengan senang hati mengajari pembuatan sagu manta. (*/c14/dos/zul)