Hati-hati, Pakaian Bekas Sebabkan Penyakit Ganas

HARUS BERSIH: Dua konsumen mengunjungi sebuah butik yang menjual baju-baju bekas di sebuah pusat perbelanjaan Surabaya Selatan Sabtu (31/1). (Angger Bondan/Jawa Pos)
HARUS BERSIH: Dua konsumen mengunjungi sebuah butik yang menjual baju-baju bekas di sebuah pusat perbelanjaan Surabaya Selatan Sabtu (31/1). (Angger Bondan/Jawa Pos)
HARUS BERSIH: Dua konsumen mengunjungi sebuah butik yang menjual baju-baju bekas di sebuah pusat perbelanjaan Surabaya Selatan Sabtu (31/1). (Angger Bondan/Jawa Pos)

POJOKSATU – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai penjualan pakaian bekas yang diimpor secara ilegal semakin mengkhawatirkan. Selain bisa merugikan industri nasional, pakaian bekas tersebut berpotensi menimbulkan penyakit yang membahayakan.

’’Aturannya, pakaian bekas tidak boleh diimpor. Diduga banyak pakaian bekas yang masuk secara ilegal, tidak melalui pelabuhan resmi. Banyak pelabuhan tikus di Sumatera bagian timur yang bisa menjadi pintu masuk pakaian bekas,’’ ujar Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo akhir pekan lalu (31/1).

Namun sayang, Kemendag tidak memiliki kewenangan untuk menindak pelabuhan-pelabuhan tikus tersebut. Karena itu, dia berharap bea cukai dan kepolisian dapat menutup ratusan pelabuhan liar itu. ’’Kewenangan kami hanya di pasar. Kalau ada pakaian bekas yang dijual, bisa kami sita. Itu pun sulit pembuktiannya,’’ kata Widodo.

Yang bisa dilakukan Kemendag saat ini adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membeli pakaian bekas. Sebab, berdasar uji laboratorium yang dilakukan Kemendag, diketahui pakaian bekas yang dijual di pasar-pasar banyak mengandung bakteri berbahaya. ’’Satu baju itu ratusan bakteri, sangat berbahaya kalau dipakai,’’ tuturnya.


Temuan tersebut diketahui dari hasil uji laboratorium yang dilakukan pada 25 sampel pakaian bekas dari Pasar Senen, Jakarta Pusat. ’’Ada 25 pakaian yang diambil di sekitar Pasar Senen. Terdiri atas pakaian anak, pakaian perempuan, pakaian laki-laki, remaja, dan jins. Kami pisahkan lima kelompok. Setelah uji lab selama sebulan, semua selesai dua hari lalu,’’ katanya.

Berdasar hasil uji laboratorium itu, diketahui bahwa pakaian-pakaian tersebut mengandung 216 ribu pergerakan koloni bakteri mikrobiologi. Bakteri itu bisa sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen yang memakainya. ’’Petugas laboratorium saja tangannya jadi gatal-gatal. Selain itu, bisa mengakibatkan diare dan penyakit saluran kelamin,’’ sambungnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menyatakan tidak bisa memperkirakan berapa banyak pakaian bekas yang diselundupkan ke Indonesia. Namun, hal itu bisa terlihat dari banyaknya pakaian bekas yang dijual di pasar-pasar tradisional. ’’Potensi kerugian industri juga sulit diperkirakan karena tidak ada data yang valid,’’ sebutnya.

Namun, jika masuknya pakaian bekas secara ilegal tersebut tidak dihentikan, akan ada dampak buruk bagi industri TPT nasional. ’’Bayangkan saja, jika satu orang tadinya mampu membuat 12 lusin pakaian dalam sebulan, sementara pakaian bekas yang masuk secara ilegal ribuan ton, berapa banyak tenaga kerja yang bakal terdampak,’’ jelasnya. (wir/c17/tia/zul)