Mau Coba Sensasi Tidur di Persawahan dan Bersepeda Bambu? Datang ke Tempat Ini

Pembuatan radio kayu (wooden radio) dan Sepeda Bambu.
Bersepeda Bambu membelah persawahan di Temanggung. Foto Spedagi
Bersepeda Bambu membelah persawahan di Temanggung. Foto Spedagi

POJOKSATU – Apa lagi yang dicari para pelancong kalau bukan kesan. Kesanlah yang akan menjadi embrio cerita para pelancong kepada orang lain, saudara dan handaitoulannya. Menikmati sensasi alam pedesaan dengan hamparan sawah, pasti akan menjadi kesan khusus bagi anda pecinta wisata pedesaan. Di Desa Kandangan-Temanggung, Jawa Tengah, anda akan dimanjakkan dengan suasana keakraban desa dan sisi unik dari karya wisata.

Di Kandangan, anda bisa menikmati sensasi tidur di tengah persawahan, menikmati olah raga pagi dengan sepeda bambu, dan tak ketinggalan melihat langsung bagaimana proses pembuatan radio kayu (wooden radio) karya Singgih S Kartono yang namanya sudah dikenal dunial.

Homestay Omah Yudi (Homestay Spedagi)

Dibangun dengan sentuhan arsitektur moderen minimalis berbahan kayu dan bambu serta atap rumbia, menjadikan Homestay Omah Yudi semakin anggun berada di tengah hamparan sawah. Homestay Omah Yudi sedikit berbeda dengan yang biasa anda kenal. Di sini, anda akan secara tidak sadar didorong untuk mempraktekkan nilai-nilai toleran, hemat dan akrab. Ia dibangun dengan konsep kebersamaan dan kesederhanaan. “Fasilitas kamar inapnya lebih ditujukan sebagai fasilitas tempat tidur dan sebagian besar bersifat sharing room. Anda akan didorong untuk lebih banyak beraktifitas di luar ruang, berinteraksi dengan tamu lain dan juga masyarakat sekitar,” kata Singgih S Kartono, pemilik ide awal Spedagy, yang juga penggagas homestay ini.


Homestay Spedagi bersifat semi self service. Para tamu bertanggungjawab untuk ikut menjaga kebersihan dan kerapihan ruang inapnya dan juga sekelilingnya. Setiap homestay dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dan toilet yang bersih, dapur dan ruang bersama serbaguna, serta wi-fi untuk koneksi internet. Untuk urusan mengisi perut, anda tak perlu khawatir. Sajian khas makanan pedesaan akan siap dinikmati 3 kali sehari. Disarankan, akan lebih mengesankan jika anda datang bersama orang-orang terdekat anda, keluarga atau teman kantor. Bukan hanya homestay Omah Yudi, Spedagi juga punya tempat inap lainnya, yakni homestay Omah Tani dan Kelingan. Juga masih berada di Kandangan.

Kalau dari homestay Omah Yudi dan Omah Tani, anda bisa menikmati pemandangan indahnya gunung Sumbing yang bagian puncaknya terpotong seperti tumpeng. Apalagi jika pemandangan itu dinikmati ketika pagi, dengan kabut yang menggantung di atas hamparan hijau persawahan. Sungguh menakjubkan.

Pembuatan radio kayu (wooden radio) dan Sepeda Bambu. Pemandangan gunung Sumbing dari Homestay Omah Yudi danOmah Tani
Pembuatan radio kayu (wooden radio) dan Sepeda Bambu.

Bersepeda Bambu Membelah Sawah

Kegiatan bersepeda memang belakangan ini semakin tren. Bentuk olah raga simpel ini bahkan bagi sebagian orang dianggap sebagai gaya hidup. Namun bagaimana jika aktifitas bersepeda ini dilakukan di tengah persawahan, menyusuri jalan-jalan setapak desa? Pasti sangat berbeda. Apalagi sepeda yang digunakan materialnya sebagian besar terbaut dari bahan alam, bambu. Suasana bersepeda pagi anda pasti akan semakin berkesan.

Menengok proses pembuatan radio kayu (wooden radio)

Setelah bersepeda menyusuri persawahan dari homestay, anda bisa mampir di workshop spedagi, yang juga masih di desa Kandangan. Anda bisa melihat langsung bagaimana Singgih dan beberapa karyawannya membangun ikon Indonesia melalui karya orisinilnya, “Magno”. Karya ini menurut Singgih, sudah mendapat beberapa penghargaan, seperti dari Japan Good Design Award 2008, Indonesia Good Design Selection-Indonesia Design Center 2005, Design Plus Award Ambiente-Frankfurt Germany 2009, Design for Asia Award 2008, Hong Kong Design Center dan International Design Resource Award (IDRA) 1997. Apa yang menarik dari karya Singgih ini, adalah kayu yang menjadi bahan baku pembuatan radionya diambil dari hutan alam. “Ini adalah bentuk komitmen kami terhadap lingkungan” katanya. Ia bahkan tak menggunakan pelitur untuk tetap mempertahankan kesan kayu yang menurutnya, justeru akan membuat kesan abadi dari kayu. Dan pastinya, pamilik radio Magno akan semakin bergairah menjaga radio kayunya setiap saat. Anda tertarik, datanglah ke Temanggung pada waktu libur, dan rasakan sendiri kesannya. (ril)