Uniknya Wisata di Sawah “Spiderman” NTT

USAHA EKSTRA: Penulis berada di lodok Desa Cancar dimana, garis pematang sawahnya benar-benar seperti gambar jaring laba-laba raksasa. (Dok Pribadi/jawapos)
USAHA EKSTRA: Penulis berada di lodok Desa Cancar dimana, garis pematang sawahnya benar-benar seperti gambar jaring laba-laba raksasa. (Dok Pribadi/jawapos)
USAHA EKSTRA: Penulis berada di lodok Desa Cancar dimana, garis pematang sawahnya benar-benar seperti gambar jaring laba-laba raksasa. (Dok Pribadi/jawapos)

POJOKSATU – Kabupaten Manggarai Barat benar-benar bersolek. Daerah yang khas dengan komodo, kadal terbesar di dunia itu benar-benar mempercantik diri. Dimulai dengan pembangunan Bandara Komodo, Labuan Bajo, dengan desain yang lebih modern.

Perjalanan dari Labuan Bajo ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar empat jam. Moda angkutan daratnya beragam. Bisa menggunakan bus angkutan umum bertarif Rp 50 ribuan, tetapi waktu tempuhnya bisa lebih lama karena suka ngetem (berhenti untuk mencari penumpang). Alternatif angkutan lain adalah dengan mobil travel Labuan Bajo–Ruteng dengan tarif Rp 100 ribuan sekali jalan.

Mobil travel menuju Ruteng paling sore berangkat sekitar pukul 17.00 Wita. Perjalanan dari Labuan Bajo ke Ruteng melewati jalan Trans-Flores yang cukup mulus. Meski begitu, siap-siap mabuk darat karena jalannya berliku memecah pegunungan antara Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai.

Di Ruteng banyak hotel dengan tarif menginap beragam. Hotel paling mewah di kota itu adalah Hotel Sindha. Tarif menginap paling murah di hotel tersebut Rp 350 ribu. Kamar kelas bawah di hotel itu memang tidak dilengkapi pendingin ruangan. Tetapi, jangan khawatir. Ruteng berada di ketinggian 1.200 mdpl. Hawanya selalu adem. Begitu pula air di kamar mandi.


Setelah matahari menyembul, perjalanan menjelajahi Kabupaten Manggarai dimulai. Kabupaten Manggarai cukup khas. Ia memiliki empat lokasi wisata ikonik di empat penjuru mata angin.

Di selatan ada perkampungan bersejarah Wae Rebo. Kemudian, di sisi utara ada situs purba Liang Bua, tempat penemuan tengkorak manusia purba Homo floresiensis. Lalu, di timur ada danau tenang dan asri bernama Ranamese. Terakhir, di sisi barat ada persawahan (lodok) unik. Garis pematang sawahnya dibuat menyerupai jaring laba-laba.

Wisata Wae Rebo dan Liang Bua tentu sangat familier bagi wisatawan yang berkunjung ke Ruteng. Namun ada yang lebih unik disini, yaitu persawahan jaring laba-laba di Desa Cancar. Untuk menuju ke Cancar, kita harus melewati jalan Trans-Flores, kembali menuju arah Labuan Bajo.

Perjalanan dari Ruteng ke Desa Cancar sekitar 1–2 jam. Perlu usaha ekstra untuk melihat lodok bak jaring laba-laba itu. Yakni, harus naik ke bukit dengan menyusuri anak tangga hingga jalan tanah setapak yang dipenuhi semak belukar. Jika dilihat dari jalan raya desa, sawah itu terlihat seperti sawah pada umumnya.

Setelah mendaki bukit sekitar 100 meter, baru terlihat keelokan lodok Desa Cancar. Garis pematang sawahnya benar-benar seperti gambar jaring laba-laba raksasa. Sawah yang aslinya berbentuk lingkaran itu diiris garis pematang sawah berbentuk segi tiga, lalu menjadi seperti jaring laba-laba.

Jika anda beruntung, anda dapat melihat masa transisi dari musim panen ke musim tanam. Dari atas terlihat ada petak sawah yang akan dipanen, sudah dipanen, dan ada pula yang dipakai untuk menyemai bibit padi. Kondisi itu membuat warna petak sawah tidak beraturan. Ada yang kuning, cokelat, dan hijau muda.

Menurut penduduk asli Desa Cancar waktu yang tepat melihat keindahan sawah jaring laba-laba tersebut antara Agustus dan September. Sebab, pada waktu itu, padi sedang hijau-hijaunya. Beberapa bulan kemudian, padi mulai menguning, lalu siap dipanen.

Sawah model jaring laba-laba ditemukan sekitar 1940-an. Saat ini lodok terbesar bernama lodok Pong Ndrung. Luas lodok itu mencapai 6 hektare dan dimiliki 50–60 orang.

Nama lain lodok adalah lingko. Pecahan-pecahan segi tiga di dalamnya bernama moso. Jadi, dalam satu lodok, terdapat beberapa moso. Satu moso dipecah menjadi petak-petak lebih kecil.

niknya, penetapan luasnya moso itu diambil dengan jari-jemari yang ditempatkan di poros atau pusat lodok. Penentuan dengan jari tersebut lantas ditarik garis lurus berpuluh-puluh meter ke belakang. (M Hilmi Setiawan/c6/dos/zul)