Sepeda Jadul Jadi Teknologi Mutakhir di Museum Kota Batu

museum angkut kota batu
museum angkut kota batu
museum angkut kota batu

POJOKSATU – Museum Angkut memiliki koleksi 56 sepeda. Sepeda tersebut dari berbagai tipe. Mulai sepeda untuk balap, transportasi, anak-anak, hingga sepeda untuk petugas pemadam kebakaran. Sepeda tersebut umumnya buatan luar negeri seperti Inggris, Prancis, dan Belanda.

Sejumlah merek sudah kondang di kalangan pencinta sepeda. Kelompok sepeda onthel didominasi merek-merek seperti Gazelle, Simplex, Raleigh, hingga Fongers. Namun, pabrikan sepeda tersebut tak hanya memproduksi sepeda transportasi, tapi juga sepeda anak.

Fongers, misalnya. Perusahaan sepeda Belanda itu juga memproduksi sepeda anak-anak roda tiga. Koleksi Museum Angkut bahkan memiliki sepeda anak-anak dengan sespan (kereta tempel) di sisi kiri sepeda. Tidak seperti sepeda anak zaman sekarang yang dibuat dari pipa besi dan plastik, sepeda anak-anak jadul terbuat dari baja solid. ”Makanya, sampai sekarang masih awet,” kata Asisten Manajer I Museum Angkut Soedariono.

Meski sepeda jadul, sejumlah sepeda tersebut mengusung teknologi mutakhir di zamannya. Sebagian sepeda anak-anak bahkan sudah menggunakan semacam timing belt.


Di Waroeng Sepeda Antik di sektor tema Kantor Pelabuhan Sunda Kelapa, terdapat sepeda tanpa rantai. Tenaga penggerak dari pedal dikirim ke roda belakang dengan sistem gardan. Jenis yang dimiliki Museum Angkut adalah Beveltech produksi pabrikan Jepang Maruishi. Selain mengusung sistem penggerak gardan, sepeda tersebut dilengkapi rem dengan sistem tromol. Teknologi tersebut membuat sepeda lebih awet. Sebab, sistem pengereman dan penggerak tak bakal rusak karena benturan atau cuaca.

Soedariono mengungkapkan, teknologi gardan kali pertama dikembangkan pada 1890 oleh A. Fearnhead dan Walter Stillman dari Amerika Serikat. Dalam dunia sepeda, teknologi itu disebut shaft-driven. Yakni, sistem gir yang menghubungkan pedal ke roda belakang. ”Sepeda ini awet tapi membutuhkan rangka yang kuat. Perbaikannya sulit jika terjadi kerusakan,” kata Soedariono yang merupakan pakar sepeda di Museum Angkut tersebut.

Koleksi lain yang bikin geleng-geleng kepala adalah sepeda jadul produksi perusahaan motor. Beberapa nama besar produsen otomotif dunia, antara lain, Opel, BSA (Birmingham Small Arms Company), Harley-Davidson, dan Royal Enfield (produsen motor gabungan Inggris-India). ”Mereka menciptakan sepeda di awal berdirinya perusahaan sebelum banyak dikenal dengan produk-produk otomotif mereka sekarang,” kata Soedariono.

Manajer Operasional Museum Angkut Titik S. Ariyanto mengungkapkan, koleksi sepeda mereka didatangkan dengan sejumlah cara. Mulai pembelian, hibah, hingga peminjaman. Banyak penggemar sepeda yang rela meminjamkan sepedanya, tapi tak ingin dipublikasikan. ”Mereka hanya ingin sepeda tetap terawat,” katanya.

Sepeda tertua yang dimiliki museum yang baru berusia empat bulan itu adalah sepeda kayu produksi 1860. Sepeda tersebut masih mengusung bentuk awal sepeda sejak kali pertama ditemukan Baron Karl Drais di Mannheim, Jerman, pada 1818. Namanya saat itu adalah Laufmaschine alias mesin untuk berlari. ”Sepeda yang ini kami dapatkan dengan cara rekonstruksi ulang dengan detail yang mirip dengan aslinya,” kata Titik.

Sepeda Pemadam Jadi Favorit

DI antara sekian banyak koleksi sepeda di Museum Angkut, ada satu sepeda yang selalu menjadi buah bibir di kalangan pengunjung. Yakni, sepeda pemadam kebakaran. Beberapa kali sepeda merah tersebut menjadi sasaran foto bareng dan foto narsis.

Sepeda produksi 1950 buatan pabrikan Inggris Birmingham Small Arms (BSA) tersebut membawa sejumlah perlengkapan pemadaman kebakaran. Yakni, selang yang dililitkan rapi di bagian tengah frame, sirene manual di handlebar, lampu berbahan bakar karbit yang dipasang di sekitar head tube, dan kapak.

Di sejumlah negara, terdapat fitur tambahan di sepeda tersebut. Misalnya, sepeda pemadam kebakaran versi Tiongkok. Boncengan bagian belakang diapit tabung pemadam dan selang yang berdiameter besar. Sepeda juga berwarna merah, tapi dilengkapi keranjang di bagian depan.

Asisten Manajer I Museum Angkut Soedariono mengungkapkan, animo besar terhadap sepeda tersebut membuat pihaknya hendak mendatangkan satu unit lagi sepeda pemadam kebakaran. Rencananya sepeda tersebut memiliki sirene manual dan lampu berbahan karbit yang lebih besar. ”Pasti bakal lebih ramai,” katanya. (aga/c10/fat)