Nikmatnya Suguhan Kopi dan Sepeda Langka

KHAS CYCLIST: Deretan meja untuk menikmati kopi menghadap rak yang memajang aksesori dan foto-foto sepeda, mulai yang berkesan vintage hingga futuristis. (Wahyudin/Jawa Pos)
KHAS CYCLIST: Deretan meja untuk menikmati kopi menghadap rak yang memajang aksesori dan foto-foto sepeda, mulai yang berkesan vintage hingga futuristis. (Wahyudin/Jawa Pos)
KHAS CYCLIST: Deretan meja untuk menikmati kopi menghadap rak yang memajang aksesori dan foto-foto sepeda, mulai yang berkesan vintage hingga futuristis. (Wahyudin/Jawa Pos)

POJOKSATU – Beecy Bike & Beans Coffee bukan sekadar kedai kopi biasa. Coffee shop di kawasan Kebayoran Baru itu tidak hanya mengusung tema sepeda, namun juga memiliki koleksi sepeda lipat yang cukup unik.

Beberapa merek folding bike seperti Brompton, Alex Moulton, Hon Solo, Frog, Strida, dan Peugeot terpajang rapi dan menambah kesan unik di ruangan tersebut.

Bahkan, beberapa merek yang terpampang sangat jarang dan susah dicari di tanah air. ”Sebagian besar merupakan  koleksi teman-teman yang rare item,” ujar Balarama Prakosa, salah soerang stakeholder Beecy Coffee Shop.

Sebut saja folding bike merek Dahon tipe The Hon Solo single speed milik Denny Hamzah, stakeholder lain Beecy Bike & Beans Coffee. Sepeda lipat tersebut hanya diproduksi sekitar 500 unit saja di seluruh dunia. Salah satu bagian yang menarik mata setiap pengunjung tentu saja handmade fender yang dibuat dari ornamen kayu. ”Pemiliknya sebenarnya orang Indonesia. Saya mati-matian dan butuh satu tahun untuk merayu dan akhirnya mendapatkannya,” ujar Denny.


The Hon Solo boleh saja cukup unik, namun folding bike yang menjadi ikon di kedai kopi tersebut adalah Brompton M type custom Golden Plate. Bagaimana tidak, sepeda lipat tersebut disepuh dengan emas 22 karat. Kini sepeda lipat tersebut menjadi primadona dan salah satu favorit mata pengunjung.

Kebanyakan terkesima dengan warna emas menyala yang menghiasi frame sepeda yang dibuat pabrikan asal Inggris tersebut. ”Saya ingin membuat sesuatu yang aneh dan unik, jadi di kromnya dari emas,” ujar Denny. ”Koleksi sepeda saya taruh di sini memang untuk menarik perhatian para pengunjung. Selain itu, di rumah juga sudah banyak, ada 47-an. Jadi, di sini juga untuk disimpan,” tambahnya, lantas tertawa.

Selain Brompton Golden Plate, masih banyak folding bike yang unik lainnya. Sebut saja Frog karya Riese und Mueller asal Jerman dengan ciri khas ban 12 inci yang hanya satu kali diproduksi dan sekali masuk pasar Indonesia. Juga, folding bike Peugeot tipe Cadre Allege keluaran 1978. Seri khusus Strida pun tidak kalah langka. Tidak hanya didominasi folding bike, sepeda fixie seperti merek Colnago pun turut menghiasi ruangan.

Sepeda-sepeda unik tersebut dipajang bukan tanpa alasan. Selain untuk menambah indah dekorasi ruangan, sepeda diharapkan memancing rasa penasaran yang pada akhirnya membuat para pengunjung terpikat dan jatuh cinta pada gaya hidup bersepeda.

”Tujuannya sebenarnya cuma satu, agar teman-teman yang senang sepeda bisa berkumpul dan minum santai. Yang awalnya sekadar ingin makan atau minum akhirnya bisa tertarik kepada dunia sepeda dengan suasana serta sepeda-sepeda itu,” ujar Denny. (mid/c10/fat/zul)