Jonie Hermanto dan Liku-Liku Menjadi Manajemen Artis

box-Joni--frizal-(2)

Tidak semua orang beruntung dan punya kesempatan mengembangkan bakat yang dimiliki. Jonie Hermanto sebagai show maker berusaha menemukan talenta-talenta terpendam tersebut.

Laporan Fahmi Samastuti, Surabaya

MENGAWALI karir di dunia entertainment lewat kompetisi lawak, Jonie Hermanto kini menekuni empat profesi. Sebagai talent management (manajemen artis), pembawa acara, komedian, dan dosen. ”Harus banyak aktivitas biar awet muda,” kata pria berumur 35 tahun itu.


Jonie adalah orang di balik Dreambox Entertainment, sebuah perusahaan show maker di Surabaya. Banyak event yang sudah dibuatnya. Beragam konsep acara juga pernah dituangkannya. Mulai show Aladdin ala Timur Tengah hingga Jurassic Park. Jonie berujar, resep membuat sebuah show yang menarik itu hanya satu, yakni jadilah gila dan wujudkan kegilaan tersebut.

Karir dunia showbiz dimulai Jonie pada akhir masa kuliahnya. Suami Angela Roseli itu dipaksa mengikuti sebuah Audisi Pelawak TPI. Yang memaksa dia mengikuti ajang tersebut adalah dosen pembimbing skripsinya, Andre Iskandar SKom MT MM. ”Waktu itu mikir juga, dosenku kok edan. Tapi, ya sudahlah, diikuti saja daripada skripsi saya kenapa-napa,” kenangnya. Usulan sang dosen diterima. ”Ya, waktu itu sih prinsip saya ’asal bapak dosen senang’,” kata Jonie bercanda.

Tak disangka, dia dan empat rekannya lolos. Bahkan, grup SQL –nama grup lawaknya saat itu– menjadi pemenang audisi Jawa Timur. Namun, jalannya terhenti pada babak empat besar. Selama melakoni show dan penggodokan di ajang tersebut, Jonie tidak hanya menimba banyak ilmu. Tapi, dia juga mengalami banyak cobaan. Keluarganya, terutama sang ayah, menentang karir lawaknya. Dia dilarang melanjutkan profesinya sebagai pelawak setelah kontrak dengan TPI selesai.

Namun, selepas kontrak, pihak televisi tetap mengejarnya. Jonie diminta menjadi konseptor, tim kreatif, hingga talent scouting untuk acara-acara bernuansa komedi di stasiun TV tersebut. Kesempatan mengaudisi ratusan bakat membuatnya sadar. Banyak bakat terpendam dan bagus, yang menurutnya menarik, terpaksa tersingkir.

Dari situlah, pria yang menamatkan studi teknik informatikanya pada 2005 itu membentuk cikal bakal Dreambox Entertainment. Pada November 2009, Jonie bersama Ivan Litan dan Gunawan mulai merintis usaha show maker tersebut. Bakat-bakat yang terpaksa angkat koper dikumpulkan.

Menurut dia, mereka bukanlah talenta tanpa arti dan tidak berharga, namun berlian yang belum diasah. ”Mereka tersingkir kan bisa karena gugup, kostum kurang bagus, dan gerakan kurang atraktif,” ujarnya.

Talenta-talenta seperti pemain akrobat, fire dancer, perkusi, bela diri, sampai MC dikumpulkannya. Tidak jarang, Jonie terpaksa mblusuk ke perkampungan-perkampungan Surabaya demi menemukan mutiara-mutiara terpendam. Bakat tersebut dilatih dan dikelola dengan baik. Jonie rela merogoh kocek untuk mendatangkan pelatih profesional. Hasilnya memang sesuai ekspektasi Jonie. Blusukan yang paling berkesan adalah saat mencari talenta penari reog. ”Waktu itu kita cari di Kertajaya,” kenang Jonie.

Dia menyangka, penari dan pemain musik tarian khas Ponorogo itu berada dalam satu sanggar. Ternyata, tebakannya sedikit meleset. ”Saya dan teman saya ngumpulin tukang becak dan tambal ban. Ternyata, mereka yang menarikan reog itu,” tuturnya.

Mereka yang semula terbuang dan diabaikan kini langganan tampil di acara-acara besar. Manajemen yang menaungi puluhan talenta usia 21–40 tahun tersebut mengundang banyak tawaran manggung. ”Sekarang kita punya show yang tergolong premium,” tutur Jonie.

Ada Nona Anna untuk MC dan komedian, Paulus Hermien untuk show sulap komedi, serta Andy untuk aksi tarian udara. Memelihara talenta yang sudah dibinanya juga menjadi tanggung jawab Jonie. Pria yang melepas masa lajangnya pada 2011 itu menuturkan, me-manage talent adalah hal sulit. ”Kita harus jaga mood dan kesehatan talenta dan bakat-bakat itu. Tanpa mereka, saya bukan apa-apa,” tegasnya.

Hal itu membuat bakat-bakat yang dibinanya enggan beranjak dari show maker pimpinan Jonie. Selain dukungan bakat dan talenta yang dimiliki anggota manajemennya, Dreambox Entertainment hidup berkat kemampuan Jonie menerjemahkan ide klien. ”Klien itu pasti punya ide di awang-awang. Tugas saya kan membawa ide itu ke alam nyata,” kata Jonie.

Jonie selalu mengadakan wawancara dan brainstorm ide dengan kliennya. Barulah dia membuat konsep, mulai setting panggung, kostum, konsep penampilan, hingga susunan acara. Namun, Jonie tidak menampik bahwa tidak semua permintaan kliennya bisa diwujudkan. Akibatnya, ada beberapa permintaan yang terpaksa ditolaknya. Dia tidak ingin sekadar mengejar profit, lantas melupakan kesempurnaan eksekusi konsep. ”Ada juga yang temanya nyeleneh, tapi datangnya seminggu sebelum hari H,” kenangnya.

Permintaan-permintaan aneh dari klien itu dianggapnya tantangan. Makin banyak, makin aneh, makin tertantang. Bahkan, pada 2015, jadwalnya mulai penuh hingga Oktober 2015. Pria yang terinspirasi Franco Dragoni, konseptor Cirque du Soleil tersebut, percaya bahwa totalitas dalam mengonsep acara akan berbuah manis.

Namun, totalitas tidak membuatnya stagnan di konsep-konsep yang sudah ada. Jonie menggali ide-ide pertunjukan unik dari tayangan unjuk bakat. ”Yang paling baru, menari sambil sulap. Mumet latihannya,” ujarnya.

Selain tempat mengadu nasib, dunia entertainment menjadi tempat bertemunya jodoh si tunggal itu. Dia bertemu Angela pada 2005, tepat setelah lulus kuliah. ”Waktu itu saya ke kosan teman, ngobrol soal talent,” tuturnya.

Pertemuan itu berlanjut hingga mereka berpacaran dan mengikat janji pernikahan empat tahun lalu. Selain sebagai istri, Angela Rosie adalah partner kerja Jonie. Perempuan yang menekuni seni menggambar sejak SMP tersebut merupakan salah seorang talenta yang dibimbing Jonie. Perempuan asal Bali itu awalnya seorang pelukis cat minyak. Namun, dia ”dipaksa’’ sang kekasih melukis dengan media pasir. Seminggu setelah berlatih sand painting, Angela mendapat order show untuk belasan acara.

Mengingat Angela tengah mengandung calon putri pertamanya, show lukis pasir agak dikurangi. Perempuan yang usia kehamilannya kini menginjak bulan ketujuh tersebut hanya menerima panggilan show dari Surabaya. Itu pun dibatasi, hanya dua atau tiga show sebulan. Lalu, adakah keinginan kembali tampil pasca melahirkan? ’’Mungkin istirahat sebentar dulu. Setelah beberapa bulan, manggung lagi sambil gendong si baby,” kata Jonie.

Sebagai lulusan teknik informatika, Jonie tidak lantas bagai kacang lupa kulitnya. Dia tetap menjalankan peran sebagai alumnus TI. Ilmu yang didapatnya disebarkan lewat profesi sebagai dosen dan konsultan bidang teknik informatika. ”Yang ini (konsultan dan dosen IT) buat mengasah otak kiri. Seni dan lawakan buat otak kanan. Imbang toh,” ucapnya jenaka.

Meski kini menjalani cukup banyak profesi, bagi Jonie, uang bukan ukuran segalanya. Wajah-wajah yang terhibur, tepuk tangan penonton, dan klien yang puas adalah bayaran yang tidak ternilai. Namun, ada satu momen yang amat menyentuh hatinya. ”Saya disalami seorang ibu karena anaknya mau ngomong sehabis nonton show saya,” kenangnya.

Anak si ibu itu diduga mengalami depresi yang mengakibatkannya bungkam dan enggan merespons sekitar. Melihat anaknya tertawa bahagia, tentulah si ibu ikut bahagia. Begitu pula saat menjalani profesi dosen. Jonie tidak pernah sekali pun absen atau memanggil dosen pengganti untuk mata kuliah yang dibimbingnya. ”Jam mengajar itu kan kepercayaan. Wajib saya tangani sendiri dengan sebaik-baiknya,” tandasnya. (*/c6/ayi)