Paul Matheson, Tunanetra Pertama Peraih Lisensi Asisten Pelatih dari FA

Paul Matheson

Penyandang tunanetra masih bisa berkiprah di sepak bola. Contoh paling nyata adalah Paul Matheson. Pria yang kehilangan indra penglihatan itu baru mendapat lisensi asisten pelatih dari Football Association (FA).

SEPULUH tahun silam, dunia serasa gelap bagi Paul Matheson. Pria 47 tahun itu tidak bisa melihat apa-apa. Dokter memvonis Paul mengalami kebutaan. Menurut dokter, ada kerusakan saraf optik yang dikenal dengan glaucoma.

Kenyataan tersebut jelas memukul perasaan Paul. Dia tidak bisa lagi menikmati tontonan favoritnya, sepak bola. Penggemar Newcastle United itu juga sedih. Sebab, setiap pekan dia tidak bisa lagi menonton aksi Super Al, julukan Alan Shearer, kapten Newcastle United saat itu.


Paul yang sejak berusia lima tahun rutin mendatangi St James Park (markas Newcastle) setiap akhir pekan kini hanya bisa mendengar keriuhan pendukung Newcastle. Padahal, saat itu dia tercatat sebagai salah seorang pemegang tiket terusan. Maklum, Paul yang berasal dari Walker –salah satu kawasan di Kota Newcastle upon Tyne– merupakan pendukung fanatik Newcastle.

Tidak hanya menonton dari atas tribun, Paul juga gemar bermain sepak bola. Karena itu, kebutaan yang diderita sepuluh tahun lalu bagaikan ’’kiamat’’ bagi Paul. ’’Saat kehilangan penglihatan, saya hanya berhenti bermain sepak bola,’’ ujar Paul sebagaimana dikutip Mirror.

Paul memang hanya berhenti bermain sepak bola. Tetapi, kecintaannya terhadap olahraga yang satu ini tidak bisa lepas begitu saja. Dia tetap datang ke stadion untuk mengobati kerinduannya pada atmosfer pertandingan.

Nah, pertemuan tidak sengaja dengan salah seorang staf Henshaws, organisasi pemerhati tunanetra, Philipa Taylor, mengubah jalan hidup Paul. Pertemuan tersebut terjadi pada akhir 2012 atau tujuh tahun setelah Paul kehilangan penglihatan. Dari Philipa, dia mendapat informasi tentang pelatihan sepak bola untuk tunanetra. Pelatihan itu tidak hanya diperuntukkan bagi pemain, tetapi juga buat mereka yang ingin menjadi pelatih. Paul tertarik dengan proyek tersebut. Mulai awal 2013, dia langsung mengikuti pelatihan yang didukung Henshaws Society for Blind People. Bukan sembarang orang yang melatih Paul. Salah seorang pelatihnya adalah Craig Riach. Dia sama seperti Paul, tunanetra.

Craig sudah mendapat lisensi pelatih level 2 Coaching Disabled Footballers dari IFA atau Federasi Sepak Bola Irlandia. Dari pelatihan itulah, Paul mendapat ilmu tentang cara membangun pendekatan dengan pemain, komunikasi, dan keterampilan bersosialisasi. Selain itu, dia tentu memperoleh pengetahuan taktik sepak bola.

Dibutuhkan waktu hampir dua tahun bagi Paul untuk mematangkan kualifikasinya. Kesabaran Paul dalam menyerap ilmu akhirnya membuahkan hasil. Pekan lalu FA menahbiskan Paul sebagai asisten pelatih berlisensi nasional. Bukan hanya untuk kaum difabel, lisensi tersebut juga bisa dipakai Paul untuk menjadi asisten pelatih tim profesional. Paul mengungkapkan, awalnya dirinya ragu mengambil lisensi dan kursus kepelatihan.

Dia butuh waktu untuk merenung dan mengambil keputusan. ’’Awal-awal pelatihan, saya sangat ragu-ragu dan hanya berdiri menunggu bola datang. Butuh beberapa pekan beradaptasi, kemudian saya bisa meningkatkan konfidensi dan berani mengejar bola,’’ bebernya.

Sekarang Paul berfokus untuk membina tim anak-anak di Walker. Setiap Rabu malam, dia menyampaikan ilmunya di Walker Activity Dome. Bahkan, November silam dia merepresentasikan Newcastle United dalam sebuah turnamen sepak bola segi empat di Belfast, Irlandia.

Philippa yang menjabat ketua pengembangan layanan komunitas Henshaws itu sangat terpesona dengan keterampilan Paul. Demikian juga mobilitas dan kemandiriannya. ’’Dia tidak pernah berhenti membuat saya takjub dengan apa yang sudah dilakukan,’’ terang pria 51 tahun tersebut.

Lebih lanjut, Paul berjanji meningkatkan level lisensinya. Bukan lagi sebagai asisten pelatih, dia ingin menjadi pelatih. Tentu, Paul harus melewati lisensi pelatih level dua lebih dulu. Yang pasti, dia berterima kasih atas pelatihan bagi tunanetra yang menyelamatkannya.

’’Semua ini membuka pintu bagi saya untuk melihat dunia dan mengembalikan sepak bola ke dalam hidup saya. Sebuah pelajaran, tidak ada yang harus berubah begitu kehilangan penglihatan. Beberapa orang boleh beranggapan sepak bola hanya sebuah permainan. Tapi, bagi saya lebih dari itu,’’ tegas Paul. (ren/c19/bas)