Bunda, Waspadai Sindrom Ini pada Anak

POJOKSATU – Salah satu sindrom yang wajib diwaspadai orang tua adalah sindrom nefrotik, karena sindrom ini menyerang ginjal anak. Akibatnya, tubuh anak bisa bengkak lantaran tidak mampu lagi mengatur keseimbangan protei  dan caira  dalam tubuh.

Sindrom nefrotik memang menyerang ginjal. Ia bukan penyakit sebenarnya. Namun, sindrom atau gejala tersebut adalah penanda bahwa organ ginjal yang bertugas menyaring darah sudah tidak berfungsi dengan baik. Meski begitu, bila tidak ditangani dengan cepat, gangguan itu akan menjadi penyakit yang lebih serius seperti gagal ginjal.

Menurut dr Risky Vitria Prasetyo SpA(K) dari di RS Premier, air seni yang dikeluarkan dari ginjal sudah tidak boleh lagi mengandung protein. Namun, saat seseorang terkena sindrom nefrotik, urinenya akan mengandung protein, khususnya albumin, dalam jumlah besar.

Karena itu, terang dokter Kiki, sapaannya, diagnosis sindrom tersebut diketahui melalui pemeriksaan urine. Karena mengandung protein tinggi, kencing penderita biasanya berbusa dan keruh. Nah, karena terbuang lewat urine, kadar protein dalam darah menjadi sangat berkurang. Akibatnya, tubuh penderita selalu lemas.


Anak yang didiagnosis positif sindrom nefrotik tak hanya harus mengonsumsi obat secara rutin. Dokter Farapti MGizi menganjurkan orang tua juga memperhatikan asupan gizi yang masuk ke tubuh anak. Karena protein ikut keluar bersama urine, konsumsi makanan tinggi protein tak bisa diabaikan. Anak harus diberi banyak makanan yang memiliki kandungan protein tinggi.

”Protein merupakan salah satu unsur makanan yang penting bagi tubuh. Jadi, sebisa mungkin jangan kurang,” imbuh dosen Jurusan Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga tersebut.

Selain itu, hindari makanan dengan kadar garam tinggi agar kondisi tidak semakin parah. Sebab, garam memiliki sifat menarik cairan. Dengan begitu, tubuh akan menyimpan cairan kian banyak. Akibatnya, jaringan tubuh membengkak lantaran timbunan cairan tersebut.

Dokter Ninik A. Soemyarso SpA(K) menyebutkan, meskipun dapat menyerang berbagai tingkat usia, fakta di lapangan menunjukkan bahwa gejala itu lebih sering menyerang anak-anak dalam rentang usia 18 bulan hingga 10 tahun. Banyak penderitanya yang harus bergantung pada obat seumur hidup.

Selain itu, 80 persen kasus sindrom nefrotik pada anak merupakan penyakit idiopatik. Artinya, penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Sedangkan penderita dewasa biasanya mengalami sindrom nefrotik karena penyakit primer lain. Artinya, sindrom itu merupakan komplikasi penyakit lain. Dengan begitu, pengobatan utamanya mengatasi penyakit primer tersebut.

Pengobatan sindrom nefrotik akan disesuaikan dengan gejala dan keluhan. Untuk penyebab idiopatik, terapi kortikosteroid berupa asupan obat-obatan. Tentu obat itu memiliki efek samping. Salah satunya, seseorang akan memiliki moon face atau wajah tembam.

Namun, jika tidak segera ditangani, sindrom nefrotik dapat menyebabkan beberapa komplikasi serius. Di antaranya, malanutrisi, penggumpalan darah, gangguan kolesterol, tekanan darah tinggi, dan gagal ginjal. (ndi/c11/c15/dos/zul)