Rambut di Tubuh Berlebih Tanda Kelainan, Benarkah?

POJOKSATU – Beberapa perempuan punya rambut yang tebal pada kaki dan tangan. Sebagian juga memiliki kumis tipis yang membayang seperti lelaki. Salah satu yang mengalami itu adalah Tifani Kim. ’’Ya gimana? Keturunan sih. Mama dan papaku begitu semua,’’ kata perempuan 25 tahun tersebut.

Namun, Tifani tidak merasa nyaman dengan tumbuhnya bulu-bulu itu. ’’Malu dan risi karena orang-orang memperhatikan aku,’’ ungkap perempuan yang bekerja di sebuah bank tersebut. Fani, sapaannya, sempat memandang dirinya aneh. Sejak SMA, dia pun kerap mencukur rambut-rambut itu. Sayangnya, rambut tersebut tumbuh makin kasar. Kini dia biasa menjalani waxing setiap enam bulan.

Lain lagi kisah Didia Purnamasari, 23. Dia merasa biasa saja dengan rambut berlebih di tubuhnya. ’’Aku malah bangga lho. Selama nggak mengganggu orang lain, ya aku nggak ambil pusing,’’ ujarnya. Perempuan asli Gresik itu mengungkapkan bahwa selama ini dirinya tidak pernah berusaha mengurangi atau menghilangkan rambut-rambut di tangan, kaki, serta kumis tipisnya.

Didia tetap percaya diri dengan bulu berlebih yang dirinya punya. Ada berbagai cerita yang bisa dibagi dengan para pembaca terntang penampilannya. ’’Memang orang-orang, khususnya yang nggak kenal, sering ngelihatin aku,’’ tutur dia, lantas tertawa. ’’Aku dasarnya cuek, ya sudah,’’ tambahnya.


Jangankan orang asing yang tidak mengenalnya, teman-temannya bahkan tidak pernah bosan mempertanyakan tentang bulu berlebih tersebut. ’’Kebanyakan mereka bersyukur nggak punya bulu banyak seperti aku,’’ terangnya.

Tidak hanya itu, terkait dengan bulu berlebih yang dia punya, banyak orang yang menghubungkan dengan libido tinggi. ’’Biarin aja, kan bagus. Artinya, aku bisa menyenangkan pasanganku,’’ ujar perempuan yang berprofesi guru tersebut, lalu tertawa.

Ungkapan Didia itu ditegaskan dr Ni Putu Susari Widianingsih SpKK. ’’Pendapat itu ada benarnya juga. Bulu berlebih kan karena adanya hormon androgen dan testosteron seperti laki-laki dan umumnya memiliki libido tinggi,’’ jelas dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Husada Utama tersebut.

Untuk ’’mengakali’’ penampilannya, Didia, alumnus Sastra Inggris Universitas Airlangga, kerap mengenakan busana tertutup. ’’Aku seringnya memakai baju lengan panjang,’’ paparnya. Sesekali dia pernah menggunakan baju lengan pendek. Tetapi, Didia selalu selalu membawa jaket atau sweter. Dia juga tidak pernah membeli baju-baju tanpa lengan. Begitu pun bawahan. ’’Aku selalu pakai celana panjang ke mana pun, rok sama sekali tak pernah,’’ ungkapnya. Perempuan berambut sebahu itu juga bersyukur atas alis tebalnya. ’’Aku nggak pernah pakai pensil alis. Cuma rajin rapikan,’’ katanya.

Lantas, bagaimana pendapat para ahli soal fenomena tersebut? Dokter Putu memaparkan bahwa rambut berlebih di tangan, kaki, bahkan kumis pada perempuan sebenarnya disebabkan faktor hormon. Fenomena itu biasa disebut hirsutisme. Yaitu, pola pertumbuhan rambut seperti pada laki-laki (male pattern hair growth). Sebab, perempuan mengalami abnormalitas kadar androgen plasma. Beberapa kasus lagi disebabkan faktor yang tidak diketahui.

Dokter Leni Kumalasari dari Emdee Clinic menambahkan, bagi perempuan yang sering mengonsumsi bahan berkadar gula tinggi seperti biskuit, cake, pasta, dan lainnya, pertumbuhan rambutnya akan terpacu. Begitu juga kalau mereka mengasup karbohidrat olahan dengan porsi berlebih. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu menyatakan bahwa makanan-makanan tersebut memiliki indeks glycaemic tinggi yang dapat mengakibatkan resistansi insulin.

Insulin adalah hormon yang mengontrol kadar gula darah. Jika telah ada kondisi resistan, berarti hormon kurang efektif menurunkan kadar gula darah. Tubuh harus bekerja keras agar kebutuhan insulin tetap cukup atau memadai. Masalahnya, ketika kadar insulin ditingkatkan tubuh, itu memicu ovarium meningkatkan produksi hormon testosteron. ’’Hormon testosteron inilah yang berperan menumbuhkan rambut-rambut halus di beberapa bagian tubuh perempuan seperti laki-laki,’’ tandas dokter 32 tahun tersebut.

Laser agar Tak Minder

Rambut berlebih memang bukan kondisi yang membahayakan kesehatan tubuh. Tentu pengecualiannya adalah rambut berlebih yang berkaitan dengan penyakit tertentu. Namun, perempuan kerap tidak nyaman dan kurang percaya diri dengan keadaan tersebut. Karena itu, mereka mencari cara untuk menanganinya.

Dokter Leni Kumalasari menyatakan, jika faktor penyebab rambut berlebih itu adalah gangguan hormon androgen, problem tersebut lebih sulit disembuhkan atau dihilangkan sama sekali. Namun, hormon itu masih bisa dikontrol dengan obat-obatan atau suplemen hormon tertentu.

Menurut dr Ni Putu Susari Widianingsih SpKK, cara paling tepat dan aman adalah menggunakan laser atau intense pulse light (IPL). ’’Karena lebih efektif dan bersifat long term atau lebih permanen,” ujarnya. Dia menambahkan, efek samping seperti infeksi dan scar atau luka parut juga lebih kecil.

IPL dilakukan dengan memancarkan sinar pada daerah yang memiliki rambut berlebih dan ingin dihilangkan. Sinar itu akhirnya merusak folikel (kantung tempat akar) rambut. Prosedur tersebut harus dilakukan beberapa kali dengan jangka waktu secara berkala. Tentu saja dosisnya disesuaikan.

’’Penggunaan IPL dapat menahan pertumbuhan rambut baru lebih lama jika dibandingkan dengan pencukuran maupun waxing,” tambah dr Leni, perempuan kelahiran Surabaya, 9 Januari 1982. Rambut yang tumbuh setelah proses IPL umumnya lebih halus dan lebih pucat. Bahkan, pada beberapa orang, rambut tersebut dapat menghilang 100 persen (tidak tumbuh lagi).

”Prosedur ini terbilang cukup aman jika dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu. Sebaliknya, prosedur yang tidak tepat dan tidak sesuai indikasi dapat mengakibatkan luka bakar dan perubahan warna kulit yang akan bertahan selama beberapa bulan. (ndi/c14/c6/dos)