Putra Jenderal Soedirman: Adipati Dolken Mirip Bapak Saya

Adipati Dolken (tengah) saat konferensi pers film Jenderal Soedirman, Selasa (20/1). Foto: Fedrik Tarigan/Jawa Pos (Grup Pojoksatu)
Adipati Dolken (tengah) saat konferensi pers film Jenderal Soedirman, Selasa (20/1). Foto: Fedrik Tarigan/Jawa Pos (Grup Pojoksatu)

POJOKSATU – Film tentang pahlawan Indonesia yang berjudul Jenderal Soedirman, segera diproduksi.

Sutradara film itu, Viva Westi, 42, menjanjikan film ini menggugah semangat dan menguak fakta baru tentang sejarah Indonesia setelah kemerdekaan RI zaman itu.

Film tersebut mengangkat kisah Soedirman mulai 1945 hingga 1948, berawal saat Belanda mengingkari perjanjian Renville. Soekarno-Hatta diasingkan Belanda. Sementara itu, Soedirman dan dokter pribadinya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Desa Sobo, Grobogan.

’’Film ini menitikberatkan bahwa gerilya Pak Soedirman itu bisa berhasil karena didukung rakyat,’’ tutur Westi ketika ditemui di syukuran film Jenderal Soedirman di Balai Soedirman, Tebet, Jakarta, Selasa (20/1).


Perempuan yang menyutradarai film Rayya itu menyatakan, film tersebut penuh tantangan. Dia tidak boleh salah cerita. Apalagi, film itu diproduksi mabes TNI-AD. Westi menggandeng aktor Adipati Dolken sebagai pemeran utama, Mathias Muchus sebagai Tan Malaka, Lukman Sardi sebagai Yusuf Ronodipuro, Ibnu Jamil sebagai Kapten Tjokropanolo, Nugie sebagai Hatta, dan Baim Wong sebagai Soekarno.

’’Memilih Adipati sendiri nggak gampang. Pak Soedirman itu ganteng lho. Beda sama foto-foto yang biasanya beredar itu. Saya langsung ke Pak Teguh (Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, anak bungsu Soedirman, Red). Pak, ini lho pemain saya. Katanya, ini Bapak. Bapak ya seperti ini,’’ ujarnya.

Adipati merasa bangga dipercaya memainkan karakter tokoh besar seperti Jenderal Soedirman. Dia menyatakan banyak mencari referensi dan berbincang dengan putra bungsu Soedirman untuk mendalami karakternya. Bahkan, menurut Adi, Teguh tidak sekadar memberikan masukan, tetapi juga meminjamkan CD perjuangan ayahnya.

Saat ini Adipati sudah menyelesaikan latihan khusus dengan Kopassus (Komado Pasukan Khusus) di Situ Lembang selama delapan hari. Dia dan beberapa pemain lain harus ditempa secara fisik dan mental.

’’Capek itu pasti. Tapi, kalau nggak ngerasain sakitnya, nanti saya tidak bisa mendapatkan feel karakternya,’’ ungkapnya.

Setiap pagi selama di tempat latihan, Adipati dan para pemain lainnya harus bangun pukul 04.00. Mereka lantas menjalani kegiatan hingga malam. Padahal, malamnya mereka harus bergantian bangun untuk jaga barak.

’’Tapi, justru di sana saya gendut. Berat badan naik 6 kg. Sepulang dari Lembang, saya mulai diet dan menerapkan pola tidur terbalik (tidur siang aktivitas malam). Sekarang sudah turun beratnya,’’ jelas bintang film Perahu Kertas itu.

Kini berat Adipati yang semula 59 kg menjadi 65 kg. ’’Target saya turun 3 kilo lagi,’’ lanjutnya. Adipati juga mulai membiasakan diri untuk bersikap seperti Soedirman, kalem dan berwibawa. ’’Di rumah, saya dipanggil bapak atau jenderal. Teman-teman saya juga manggil begitu,’’ jelasnya.

Film Jenderal Soedirman syuting pada 25 Januari mendatang di Jogjakarta, Situ Lembang, dan Sobo. Rencananya, film tersebut dirilis sekitar Agustus mendatang. (jpnn/yas/c15/jan/ps)