Unisma Cetak Wirausaha dengan Budidaya Jamur

PANEN : Rektor Unisma, Nandang Najmulmunir (tengah) saat berkunjung ke saung budidaya jamur FISIP Unisma di Kalurahan Pengasinan.SBI/RADAR BEKASI
PANEN : Rektor Unisma, Nandang Najmulmunir (tengah) saat berkunjung ke saung budidaya jamur FISIP Unisma di Kalurahan Pengasinan.SBI/RADAR BEKASI
PANEN : Rektor Unisma, Nandang Najmulmunir (tengah) saat berkunjung ke saung budidaya jamur FISIP Unisma di Kalurahan Pengasinan.SBI/RADAR BEKASI

POJOKSATU – Budidaya jamur yang dikembangkan Fisip Unisma di RT 02/ 28 Kelurahan Pengasinan mulai membuahkan hasil. Diharapkan, usaha  yang dimulai sejak akhir 2014 ini bisa menyikapi persaingan ekonomi jelang pasar bebas ASEAN (MEA).

Budidaya jamur ini adalah realisasi dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) Unisma yang pada Agustus 2014 lalu mendapatkan suntikan dana dari Kopertis Wilayah IV Provinsi Jawa Barat dan Banten, sebagai satu di antara 12 plan project terbaik. Juga didukung oleh tenaga dari alumnus pelatihan budidaya jamur Dispera.

Dosen Pembimbing PMW, Ervina mengatakan, jamur adalah salah satu komoditas yang memiliki pangsa pasar yang sangat bagus di Kota Bekasi. Sebab, dari hasil kajian yang sudah dilakukan, satu pasar besar saja membutuhkan 3 ton jamur. Sedang sampai sejauh ini 3 ton jamur tersebut disuplai dari daerah di luar Bekasi.

’’Kita biasa ngambil dari Cianjur, Subang, dan Purwakarta. Nah, kalau ngambilnya dari luar daerah terus dibawa ke Bekasi itu kan butuh waktu. Belum lagi harga jamur di pasaran yang lumayan tinggi, 1 kg Rp14 ribu. Sementara, harga kita Rp12 ribu per kilo dengan kualitas lebih bagus dan segar,” ujarnya.


Sampai saat ini, saung budidaya jamur Unisma di Pengasinan mempunyai 1.000 baklok yang bisa menghasilkan rata-rata 10 Kg jamur per hari. Jika dikalkulasi lebih rinci, satu baklok bisa memproduksi 2 Kg dalam 6 bulan, yang seharga Rp24 ribu, kemudian dikali 1.000 menghasilkan Rp24 juta per 6 bulan sekali.

’’Angka tersebut tentu akan terus bertambah jika baklok yang kita miliki semakin banyak. Baklok ini saya beli dari pemasok di Bantargebang seharga Rp2 ribu per biji. Karena ini berbasis pengabdian pada masyarakat, kami juga akan mengadakan pelatihan budidaya jamur dan menerima kalau ada warga yang hendak investasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor Unisma, Nandang Najmulmunir yang meninjau langsung lokasi budidaya jamur sangat mengapresiasi keuletan mahasiswa dan berjanji akan men-support penuh kegiatan pengembangan jamur tiram di sana. Menurutnya, apa yang telah dilakukan ini adalah bentuk implementasi dari visi dan misi Unisma.

Nandang memproyeksikan budidaya jamur ini nantinya akan menjadi inkubator bisnis yang besar jika melihat potensi yang ada. Seperti, fakta bahwa Indonesia termasuk Negara pengidap diabetes terbesar di dunia, dan salah satu manfaat jamur adalah dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes.

’’Kita tidak ingin masyarakat Bekasi hanya menjadi masyarakat yang konsumtif. Kalau ada potensi kewirausahaan mari kita kembangkan bersama. Ini memang masih ibarat bayi yang baru merangkak, tapi dengan komitmen kita (Unisma) dari berbagai disiplin keilmuan yang ada kita yakin ini akan menjadi besar,” pungkasnya. (sbi/ps)