Demi Film ‘Di Balik 98’ Chelsea Islan Rela Hitamkan Kulit

Chelsea Islan. Foto: istimewa
Chelsea Islan. Foto: istimewa
Chelsea Islan. Foto: istimewa

POJOKSATU – Muda, cantik, dan bertalenta. Tiga keunggulan tersebut mungkin ada dalam sosok Chelsea Elizabeth Islan (19). Artis yang tengah naik daun itu mengatakan bahwa dirinya tidak pernah setengah-setengah dalam menjalani profesi sebagai pemain film.

Chelsea mengatakan bahwa dirinya juga siap melakukan apa pun demi dapat tampil optimal di depan layar. Itu, antara lain, terlihat pada aktingnya di dalam film layar lebar Di Balik 98 yang baru saja dia selesaikan.

Pada film layar lebar besutan sutradara Lukman Sardi tersebut, Chelsea yang berperan sebagai Diana, aktivis dari Universitas Trisakti, terlihat berkulit lebih gelap. Wajahnya pun tampak kumal. Khas aktivis jalanan pada era reformasi 17 tahun silam. Meski dikenal sebagai artis yang memiliki wajah cantik dan bintang iklan salah satu produk kecantikan, Chelsea mengaku tidak berkeberatan dengan keadaan itu.

“Memang sengaja tanning biar kulitnya hitam. Soalnya kan di film ini jadi mahasiswi yang demonstrasi turun ke jalan,” kata Chelsea di XXI Djakarta Theater, pertengahan pekan lalu.


Bukan hanya itu. Chelsea juga mengaku menjalani “terapi” sendiri demi menghitamkan kulit dan membawa kesan kumal di wajah. Misalnya, naik kendaraan umum. “Waktu persiapan film, memang dikasih tahu bahwa Diana ini kulitnya agak hitam. Jadi, saya harus menghitamkan kulit. Saya dukung juga dengan sering-sering naik bajaj, naik ojek, dan naik bus supaya makin hitam,” terang dia sambil tertawa.

Totalitasnya dalam berakting tidak hanya soal penampilan di depan layar. Dara kelahiran Amerika Serikat (AS) tersebut menuturkan bahwa pemahaman dalam mendalami peran atau karakter tidak kalah penting. “Pas syuting saya selalu taruh di otak saya bahwa sekarang ini tahun 1998,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan ikut terjun langsung dalam riset sejarah di saat pembuatan film Di Balik 98. Salah satunya, mengunjungi Museum Trisakti atau Museum Tragedi 12 Mei. “Saya juga baca dan riset. Saya bertemu dengan mantan aktivis dan mantan demonstran. Saya melihat jaket almamater yang berlumuran darah. Itu nggak gampang,” tuturnya.

Selain itu, demi peran Diana yang aktivis, dia sampai menjalani tiga kali proses casting. Bagaikan mengikuti seleksi pejabat tinggi negara, Chelsea bahkan harus menghadapi interview seputar sejarah Orde Lama dan Orde Baru.

“Saya suka dengan sejarah. Intinya, saya senang, mudah-mudahan film ini bisa mengedukasi. Juga, menjadi bahan belajar di sekolah di Indonesia,” ujarnya. (dod/c10/dos)