Pola Makan Keliru Picu Obesitas Anak

Ilustrasi. Foto: ist
Ilustrasi. Foto: ist
Ilustrasi. Foto: ist

POJOKSATU – Gemuk kerap dinilai sebagai tanda bahwa bayi atau balita sehat. Selain itu, balita gemuk sering dipuji lucu dan menggemaskan. Padahal, kegemukan pada anak bukan hal yang membanggakan. ”Bayi atau balita yang gemuk itu mencemaskan. Sebab, mereka rawan penyakit kronis,” ujar dr Nur Rochmah SpA, spesialis endokrin anak RSUD dr Seoetomo.

Dia menjelaskan, bayi dan balita gemuk rawan terkena penyakit kronis. Di antaranya, hipertensi, gangguan metabolik, dan diabetes melitus (DM) tipe 2. Hal itu disebabkan terjadinya resistensi insulin pada tubuh anak. Insulin atau hormon yang mengedarkan glukosa pada tubuh tidak bekerja baik. Karena itu, kadar gula dalam darah anak naik.

Selain penyakit kronis, kegemukan meningkatkan risiko sakit pada anak. Sebab, gejala sakit pada fisik anak samar dan sulit dideteksi. Rochmah mencontohkan kasus diare pada anak. ”Pada anak obesitas, gejala seperti mata cekung, penurunan bobot, dan dehidrasi sulit dilihat karena ketutupan gemuk,” katanya.

Obesitas atau kegemukan adalah masalah yang bisa terjadi pada usia berapa pun, termasuk bayi, balita, dan anak-anak. Risiko obesitas semakin tinggi pada bayi yang lahir prematur, bayi dengan bobot lahir rendah (BBLR), serta bayi besar. Sebab, ketiganya rentan resistensi insulin. Secara umum, obesitas dipengaruhi dua faktor, yakni genetik atau keturunan dan nutrisi. (fam/c23/tia)