Stres Picu Kematian Ibu Pasca Melahirkan

Stres picu kematian pada ibu. Foto: Ilustrasi
Stres picu kematian pada ibu. Foto: Ilustrasi
Stres picu kematian pada ibu. Foto: Ilustrasi

POJOKSATU – Faktor kematian ibu pasca melahirkan masih menjadi momok menakutkan bagi dunia kesehatan nasional. Dalam kasus kematian ibu, tak jarang dipengaruhi oleh faktor stres yang dialami setelah melahirkan.

Hal ini hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) di antaranya kurangnya pengetahuan ibu tentang tanda bahaya dan terlambat mendapat layanan kesehatan yang layak.

Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu/Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Anung Sugihartono mengungkapkan, tingginya angka kematian ibu hamil tidak hanya dipengaruhi faktor konvensional saat melahirkan. Justru, kebanyakan ibu meninggal pascamelahirkan.

“Kematian paling banyak itu, saat melahirkan dan nifas. Kalau nifas banyak faktor, bisa karena stres, pendarahan, dan ketidaksiapan setelah melahirkan,” katanya kepada INDOPOS (Grup JPNN.com), Jumat (26/12).


Selain itu, faktor teknis lainnya juga turut menyumbang tingginya angka kematian ibu. Seperti, kurangnya pengetahuan ibu terkait tanda bahaya, dan kurang sigapnya antisipasi proses melahirkan.

Survey Riskesdas 2010, sekira hanya 44 persen ibu hamil mengetahui tanda bahaya, dan 23 persen faktor keterlambatan dalam mengurusi ibu hamil.

Oleh sebab itu, program pembangunan kesehatan Indonesia saat ini akan diprioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok paling rentan kesehatan yaitu, ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi baru lahir.

Nah guna menggalang kesadaran masyarakat untuk turut menaggulangi tingginya angka kematian ibu. Kemenkes kembali menggiatkan program suami siaga dan keluarga siaga.

“Ibu hamil sangat rentan stres, saat stres, tekanan darah naik, sehingga ibu rentan beresiko kematian,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal itu, Anung menilai peran suami sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan jiwa ibu saat melahirkan dan pasca melahirkan. Peran suami pada moment seperti ini, sangat diperlukan untuk mendorong semangat ibu dalam menjalani prosesi persalinan.

Sulitnya mengganti peran suami, kala istri akan melahirkan menjadi persoalan tersendiri manakala suami tidak berada disamping istri, dengan berbagai kendala di lapangan seperti tugas luar kota.

Dalam persoalan tersebut, Anung mengatakan suami harus tetap memberikan support-nya, meskipun hanya melalui suara atau pesan singkat.

“Meski jarak jauh, suami harus tetap memberikan perhatian khusus kepada ibu melahirkan, caranya dengan menghubungi istri melalui sarana komunikasi. Sebab, suara suami dan dorongan semangat suami akan memberikan dampak yang positif bagi ibu melahirkan,” terangnya.

Makanya, tegas Anung, untuk menghindari perkara-perkara yang tidak diduga saat ibu akan melahirkan, proses kelahiran perlu direncanakan.

“Saya sangat menekankan kalau hamil itu harus direncanakan. Soalnya, kehamilan itu tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab istri saja,” pungkasnya.(fad)