Menikmati Pesona Alam Desa Nanai, Kab Balangan

BEDA: Wisatawan bisa menikmati keindahan alam yang hijau dengan diselingi sinar matahari pagi di Desa Nanai.(Wahyudi/Radar Banjarmasin/JPNN)
BEDA: Wisatawan bisa menikmati keindahan alam yang hijau dengan diselingi sinar matahari pagi di Desa Nanai.(Wahyudi/Radar Banjarmasin/JPNN)
BEDA: Wisatawan bisa menikmati keindahan alam yang hijau dengan diselingi sinar matahari pagi di Desa Nanai.(Wahyudi/Radar Banjarmasin/JPNN)

Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, memiliki topografi yang cukup beragam. Mulai dataran, bukit-bukit, hingga pegunungan. Itu membuat daerah tersebut mempunyai banyak keindahan alam yang sangat berpotensi untuk dijadikan objek wisata alam.

NUANSA alam eksotis yang didukung kondisi hidrologis yang masih alami semakin menyejukkan suasana. Keindahan itulah yang memanjakan mata saat tiba di salah satu desa yang terletak di Desa Nanai, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Untuk menuju Desa Nanai dari ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin, memang diperlukan waktu yang cukup panjang, yaitu sekitar enam jam perjalanan dengan tujuan Desa Ajung, Kecamatan Tebing Tinggi. Sesampai di Desa Ajung, kendaraan dititipkan di rumah kepala desa, tentunya setelah memperoleh izin terlebih dahulu. Kepala desa kemudian akan meminta salah seorang warganya untuk menjadi penunjuk jalan hingga tiba di Desa Nanai.

Setelah segalanyasiap, baik peralatan mendaki gunung maupun makanan untuk mengisi perut selama perjalanan, petualangan menuju Desa Nanai dimulai. Berangkat dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang berupa tanjakan dan turunan selama kurang lebih tiga jam,sesampai di tempat tujuan, selain disapa nuansa alam yang sangat menggoda mata, warga setempat menyambut dengan hangatnya, membuat letih dan peluh untuk menggapai tempat itu pun seakan terbayar tuntas.


Sayang, segala keindahan dan potensi wisata yang ditawarkan Desa Nanai belum bisa dinikmati semua orang. Sebab, promosi wisata minim dan kurangdapat perhatian dari pihak terkait.”Kadang ada juga wisatawan yang berkunjung ke sini untuk mencoba arung jeram di sungai. Dari wisatawan itu, kami bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk harga sewa lanting dan joki sebesar Rp 200 ribu, tapi itu sangat jarang,” ujar Iwan, salah seorang warga setempat, kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group).

Dia menambahkan, andai warga diberi dukungan moril dan materiil, potensi mendatangkan wisatawan yang lebih banyak sangat terbuka. Dengan begitu, lanjut Iwan, ekonomi masyarakat sekitar akan terdongkrak.

Beda dengan saat berangkat, perjalanan pulanglah yang sangat ditunggu di desa yang terletak di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kotabaru tersebut. Tidak seperti perjalanan awal yang mengharuskan berjalan kaki menelusuri hutan, perjalanan pulang dilalui dengan menggunakan lanting dari bambu atau yang biasa dikenal dengan olahraga bamboo rafting.

”Dari semua sungai yang biasa digunakan sebagai sarana olahraga bamboo rafting yang pernah saya temui dan kunjungi di daerah lain di Kalimantan Selatan, sungai ini mempunyai arus yang luar biasa, lebih memacu adrenalin. Cocok buat mereka yang menyukai olahraga arung jeram. Sangat berpotensi untuk dikembangkan,” ungkap Riki, salah seorang wisatawan.

Selama perjalanan pulang dengan menggunakan lanting bambu, pemandangan alam hijau yang diselingi sinar matahari pagi yang menembus sela-sela dedaunan plus embun membuat pengunjung ingin kembali lagi. (wah/JPNN/c11/diq)