Tarif PSK Maroko Rp2 Juta Semalam

Security Kota Bunga bekerjasama dengan MUI merazia belasan wanita beberapa waktu lalu. Foto Farhan/Radar Cianjur/pojoksatu.id
Security Kota Bunga bekerjasama dengan MUI merazia belasan wanita beberapa waktu lalu. Foto Farhan/Radar Cianjur/pojoksatu.id
Security Kota Bunga bekerjasama dengan MUI merazia belasan wanita beberapa waktu lalu. Foto Farhan/Radar Cianjur/pojoksatu.id

POJOKSATU – Selain gadis pribumi, para mucikari di Kota Bunga, Cianjur, Jawa Barat juga menyiapkan PSK asal Maroko. Mereka didatngankan khusus untuk memberikan service plus kepada turis Timur Tengah (Timteng). “Tarifnya Rp 2-3 juta semalam,” tutur NN (42), salah seorang penyalur wisatawan Timteng kepada Radar Cianjur (grup pojoksatu.id).
Para wanita penghibur di Kota Bunga kerap mengenakan cadar atau jilbab besar untuk mengelabui aparat dan warga sekitar.
“Kalau PSK pribumi biasanya menyamar jadi tukang masak ke vila-vila Arab. Kalau tukang masak asli itu sehari dapat Rp150 ribu. Namun, jika juru masak plus-plus, bayarannya Rp500-740 ribu,” ujarnya.

Banyaknya PSK yang keliaran di Kota Bunga membuat warga sekitar resah. Karenanya, Management Real Estate Kota Bunga mulai sibuk melakukan razia.

“Sejak beberapa bulan ini, hampir 200 PSK, waria, germo, sudah kami jaring. Kami kerjasama dengan aparat, MUI Desa Sukanagalih, dan masyarakat. Sebanyak 15 persen dari mereka berasal dari Cipanas, sisanya dari Cianjur Selatan dan Sukabumi,” terang Pengawas Security Kota Bunga, Ridwan Mulyana.

Pihaknya sangat mengharapkan, Kota Bunga bisa kembali seperti semula sebagai objek wisata. Terlebih banyak wanita penghibur yang punya tujuan lain, seperti mencuri barang-barang milik turis Arab. Hal seperti itu tentu saja merusak citra Cipanas di mata turis asing.


“Makanya kami terus awasi gerak-gerik mereka. Sehingga foto wanita penghibur itu sudah kami pajang, untuk tanda. Jika mereka sudah lebih dari satu kali akan kami bawa ke pihak berwajib,” tegasnya.

Kapolsek Pacet AKP Wadi Sabani menyangkan keberadaan WNA Timteng juga protitusi di Kota Bunga itu, kerap berbenturan dengan masyarakat. Salah satunya, setiap adanya kecelakaan Arab yang selalu menyewa motor dengan warga sekitar dan itu kerap jadi masalah.

“Bahkan motor sewaan itu dan WNA terrsebut kerap ditilang hingga melibatkan kedutaan. Tak hanya sampai di situ, mereka kerap membawa perempuan dari luar daerah Pacet, bahkan membawa pasangan laki-laki juga karena ada juga turis yang homoseksual. Jelas tindakan mereka itu bisa membuat warga resah,” tegas Wadi.

Ia mengaku sudah mengimbau kepada broker yang menyewakan vila atau juga managemen vila agar tidak berbuat di luar aturan. Namun sangat disayangkan tindak tanduk mereka kerap meresahkan.

“Kami harapkan pihak dari Kantor Keimigrasian bisa bertindak dengan pengawasan orang asing itu, karena prilaku mereka kerap meresahkan. Tentunya hal itu tidak bagus terhadap iklim pariwisata di Cipanas,” paparnya.

Meskipun, WNA terutama dari Arab Saudi juga, mengeluh banyaknya razia namun pihaknya tak gentar untuk menegakan aturan agar mereka bisa mengikuti aturan hukum yang ada di Indonesia.

“Pengawasan orang asing itu harus dilakukan masing-masing stakeholder yang terkait. Mencegah itu harus dilakukan bersama-sama, sebelum terjadinya gesekan dengan masyarakat,” paparnya.

Dadang (62) warga Desa Sukanagalih mengaku resah dengan prilaku warga Arab di Kota Bunga. “Saya tidak mengira orang Arab itu berprilaku buruk. Mereka seenaknya saja berbuat apa yang mereka inginkan, bahkan tindakan mereka itu dilakukan didepan umum terhadap wanita Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, maraknya pelacuran bisa merusak citra daerah Pacet. Sehingga pemerintah bisa segera bertindak. “Kami harapkan, kerjasama semua pihak agar prostitusi itu tidak ada, dan kunjungan WNA itu bisa berdampak baik bagi masyarakat,” imbuhnya.(fhn)