Kasus Ijazah Palsu Bupati Bengkalis, Kemenristek Dikti Turun Tangan

ijazah palsu jokowi, hoax, jokowi
Ilustrasi ijazah palsu.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (kemenristekdikti), Muhammad Nasir didesak untuk segera menetapkan status legalitas ijazah bupati terpilih Bengkalis Amril Mukminin.

Ketua LSM-Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan (IPMPL) Solihin mengemukakan, ada temuan janggal dari ijazah S1 Amril yang didaftarkannya untuk maju pencalonan bupati Bengkalis periode 2016-2021.

“Keganjilan pertama legalisir ijazahnya tertera atas nama Universiatas lain yaitu Universiatas Setia Budi. Keganjilan kedua legalisir itu ditanda tangani atas nama Ir. Ahmaruzar, MM,” beber Solihin dalam diskusi Pilkada Watch bertajuk “Dugaan Penggunaan Ijazah Palsu Kepala Daerah” di bilangan Menteng, Jakata Pusat, Kamis (2/2).

Padahal, pada kopian legalisir ijazah S1 Amril tercantum atas nama Universitas Setia Budi Mandiri yang merujuk situs resmi Perguruan Tinggi Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi berstatus non aktif.


“Malah universitasnya termasuk dalam data 243 perguruan tinggi yang dinonaktifkan oleh Menristekdikti,” jelas Solihin.

Tak hanya itu, kata Solihin, dosen atas nama Ir.Ahmaruzar,MM yang melegalisir Ijazah S1 Amrik, tidak tercantum profil ataupun namanya di Pengkalan Data Perguruan Tinggi Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi. Namun yang jelas hingga kini IPMPL masih menunggu perkembangan laporan ijazah Amril ke Polda Riau.

“Kemenristekdikti harus cepat selesaikan kasus ini, biar masyarakat Bengkalis bisa tenang pemimpin mereka ijazahnya palsu atau tidak,” desaknya.

Mabes Polri juga harus meminta Polda Riau untuk mengusut tuntas masalah ini.

Menanggapi hal itu, Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti ‎Paristiyanti Nurwardani menyatakan akan mempelajari lebih lanjut dan menerjunkan kembali tim untuk menelusuri dugaan ijazah palsu Bupati Bengkalis.

“Kami akan turunkan kembali tim untuk studi dokumen, wawancara dengan kopertis dan perguruan tinggi yang bersangkutan terus lakukan obeservasi proses belajar menngajar selama yang bersangkutan aktif disana,” kata Paristiyanti.

Paristiyanti mengakui jika salah satu kelemahan yang sering dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi dan swasta adalah konsistensi untuk memadukan data-data mahasiswa yang ada.

(wid/rmol/ps)