Menristekdikti Diminta Tinjau Ulang Gelar Widyo Pramono, Katanya Ada Kasus Plagiat

Ilustrasi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Institute for Justice and Law Enforcement Indonesia (IJLEI) menyurati Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Rektor Universitas Diponegoro untuk melakukan peninjauan ulang atas jabatan guru besar dan gelar profesor yang disandang Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung Widyo Pramono.

Peninjauan ulang perlu dilakukan sampai ada kepastian atas dugaan plagiarisme dalam buku karya Widyo dinyatakan selesai.

“Permintaan ini kami ajukan atas dugaan plagiarisme sebanyak 61 paragraf buku yang dibuat Prof. Widyo Pramono dengan buku Almarhum Prof. Dr. Marwan Effendy,” beber peneliti IJLEI Prana Noraga Pramudita kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/12).

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta Menristekdikti Mohammad Nasir membentuk tim etik untuk memeriksa beberapa bab dalam buku berjudul ‘Pemberantasan Korupsi dan Pidana Lainnya: Sebuah Perspektif Jaksa dan Guru Besar’ yang diduga terdapat unsur plagiat dengan buku ‘Diskresi, Penemuan Hukum, Korporasi dan Tax Amnesty dalam Penegakan Hukum’ karya Marwan Effendy.


Selain Menristekdikti dan Universitas Diponegoro, IJLEI juga akan berkirim surat kepada Prof. Dr. Widyo Pramono sendiri untuk meminta klarifikasi atas dugaan tersebut. Tujuannya agar ada kepastian dan pengakuan terkait proses penulisan buku.

Prana menambahkan, tuntutan pihaknya merupakan kekhawatiran sebagai genarasi bangsa atas maraknya aksiĀ  plagiarisme di Indonesia. Apalagi pelakunya adalah salah seorang petinggi institusi penegak hukum yang dituntut memiliki integritas luar biasa. Menurutnya, pasal 1 butir 3 UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen menyebut bahwa guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.

“Jika benar seorang maha guru ditengarai melakukan plagiarisme maka rusak sudah tatanan mutu pendidikan di Indonesia. Konsep revolusi mental Presiden Joko Widodo jelas tercoreng karena telah terjadi degradasi kualitas mental bangsa,” jelasnya.

Apalagi, seorang profesor memiliki empat kewajiban sangat vital yang mempengaruhi kelanjutan dunia pendidikan di Indonesia. Seperti memberi kuliah dan seminar sesuai bidang ilmu, melakukan penelitian, pengabdian pada masyarakat, hingga melatih akademisi muda.

Untuk diketahui, dugaan plagiarisme dalam buku karya Widyo Pramono terdapat pada halaman 95-100, yakni sekitar 61 paragraf dari 65 paragraf. Diduga sama persis dengan buku karya Marwan Effendy halaman 119-162 tanpa adanya pencantuman sumber pada catatan kaki ataupun daftar pustaka.