Suka Duka Guru di Sekolah Khusus Anak-Anak Kurang Mampu Ber-IQ Tinggi (1)

HANGAT: Rikrik Rizkiyana (tengah), pendiri Cugenang Gifted School bersama siswi. Pengacara itu sangat dekat dengan murid-muridnya. Foto Ken/Jawa Pos

PUNYA murid bodoh, menyebalkan. Namun, kalau murid kelewat cerdas, malah bisa bikin repot. Seperti yang dialami para pengajar di Cugenang Gifted School, sekolah khusus untuk anak genius dengan intelligence quotient (IQ) di atas 130.


Gifted children bisa diartikan anak genius. Memiliki IQ di atas 130. Namanya juga anak genius, mereka punya kemampuan inteligensi dan bakat spesifik di atas rata-rata anak sepantaran.  Di Indonesia, perhatian untuk gifted children masih sangat minim. Sebab, populasi gifted children hanya 2–5 persen. Kondisi tersebut membuat anak-anak yang sebenarnya genius dicap bandel, pemberontak, dan sulit diatur.

Nah, Cugenang Gifted School (CGS) sengaja didirikan untuk mewadahi anak-anak ”bandel” itu. Sekolah untuk anak-anak genius tersebut didirikan pada 2010 oleh seorang pengacara sekaligus pemerhati pendidikan anak, Rikrik Rizkiyana.

Berlokasi di daerah Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sekolah itu memiliki lingkungan yang sangat nyaman untuk belajar. Dari segi fasilitas, CGS sangat baik. Ada 18 ruang kelas pembelajaran. Selain itu, ada sebuah laboratorium, ruang perpustakaan, masjid, ruang makan bersama, aula serbaguna, teater multifungsi, serta sebuah gedung asrama bertingkat untuk para murid dan guru pendamping.


Tidak hanya memperhatikan sisi fungsi, bangunan CGS juga didesain sedemikian rupa sehingga menarik secara penampilan. Semua bangunan didesain dengan nuansa segi tiga. Terbilang elite untuk sekolah yang tidak memungut biaya alias menggratiskan muridnya.

Kepala Sekolah (Kasek) CGS Cipto Triyugo menyatakan, meski sekolah digratiskan, mendapatkan murid bukan urusan mudah bagi pihaknya. Hingga saat ini, total murid CGS dari kelas I SD hingga VIII SMP hanya 23 anak. ”Kenapa sulit? Sebab, tidak banyak orang paham apa itu gifted children,” ujar Cipto.

Kasek 42 tahun itu menuturkan, untuk mencari anak-anak gifted tersebut, pihaknya kerap melakukan road show ke sejumlah PAUD. Baik di Cianjur maupun daerah lain. Mereka juga berkampanye ke sekolah-sekolah umum untuk mencari anak-anak gifted itu.

Alumnus Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menuturkan, publikasi di media juga cukup membantu sosialisasi CGS kepada masyarakat. Para orang tua dari luar daerah, bahkan luar Jawa, beberapa kali mengunjungi CGS untuk berkonsultasi.

Namun, tidak semua anak gifted bisa bersekolah di CGS. Ada beberapa tes yang harus diikuti calon murid. Salah satunya tes IQ. Calon murid setidaknya memiliki IQ di atas 130. Kemudian, ada juga tes kreativitas dan komitmen. Semua tes tersebut didampingi psikolog. Ada juga sesi wawancara dengan orang tua untuk mengetahui latar belakang keluarga calon murid.

”Satu lagi yang paling penting, usia calon murid tidak lebih dari delapan tahun. Karena kalau sudah di atas itu, susah ngebentuknya. Jadi, ada beberapa yang berkonsultasi ke kami, tapi terpaksa tidak kami terima. Sebab, meski IQ-nya tinggi, usianya sudah melewati delapan tahun,” tuturnya.

Ayah satu putri itu menjelaskan, membentuk anak-anak gifted sehingga mampu memaksimalkan potensi bukan hal mudah. Sebab, sekali anak gifted menyukai sesuatu, kemampuannya bisa melesat luar biasa di bidang tersebut. Dia mengungkapkan, pada awal bergabung dengan CGS, bisa dibilang anak-anak gifted itu liar. Bahkan, mereka tidak segan untuk bertindak ekstrem ketika marah. Di samping itu, anak-anak genius terkenal moody. Mereka juga terbiasa mengungkapkan apa pun yang ada dalam pikiran.

Keunikan-keunikan anak gifted tersebut ternyata tidak mudah dipahami semua orang, termasuk para guru. Cipto menuturkan, mencari pengajar yang betah mendampingi para murid gifted sangat sulit. Bukan hal baru bahwa pergantian guru di CGS cukup cepat. Sebab, mereka tidak terbiasa dan kaget dengan perilaku murid gifted yang memang berbeda dengan anak kebanyakan.

”Bahkan, ada yang baru tes calon guru tapi sudah kabur besoknya. Karena ya anak-anak gifted ini moody. Juga, kadang kalau gurunya nggak cocok, mereka bisa marah. Wong pernah ibu asramanya itu digigit kok,” tutur Cipto.

Bersambung…