Suka Duka Guru di Sekolah Khusus Anak-Anak Kurang Mampu Ber-IQ Tinggi (2)

HANGAT: Rikrik Rizkiyana (tengah), pendiri Cugenang Gifted School bersama siswi. Pengacara itu sangat dekat dengan murid-muridnya. Foto Ken/Jawa Pos

BEGITU juga pimpinan sekolah. Cipto adalah kepala sekolah kelima sejak CGS didirikan. Sebelum dia, pemilik jabatan kepala sekolah itu berasal dari kalangan pakar pendidikan yang paham betul dunia anak-anak gifted. Secara ilmu, mereka cukup mumpuni. Namun, praktik langsung tampaknya tidak semudah yang dibayangkan. ”Ya, memang tidak mudah menghadapi anak-anak seperti ini. Saya ini kepala sekolah kelima,” ujar Cipto, lalu tersenyum.

Menurut Cipto, guru anak-anak gifted harus ekstrasabar dan kreatif. Sebab, karakteristik tiap-tiap anak sangat berbeda. Dia mencontohkan, ada murid bernama Iwang yang memang tidak mau mencatat materi pelajaran, namun ketika diberi pertanyaan selalu bisa menjawab. Waktu ujian pun, nilainya selalu bagus. Ada juga Irsyad. Bocah sembilan tahun itu sudah mahir dengan Corel Draw. ”Kalau kami tidak siap membawa keadaan, mereka akan bosan. Juga, dalam mengajar itu, mereka nggak suka yang bertele-tele, maunya yang lugas, langsung ke intinya. Saya pernah dikatain lebay sama mereka,” katanya.

Hal tersebut juga dirasakan salah seorang guru CGS, Bety Agustiani. Guru berusia 24 tahun itu sudah dua tahun mengabdi di CGS. Guru bahasa Indonesia tersebut mengungkapkan, meski dalam satu kelas yang diajarnya hanya dua orang, dirinya sempat kesulitan pada awalnya.

”Awalnya, murid saya cuma satu, namanya Veli. Dia ini tipikalnya suka asyik sendiri dan sukanya nulis terus. Jadi, mau saya nyanyi atau joget di depan dia sampai saya bikin yel-yel, dia ya nggak peduli, terus nulis aja. Jadi, untuk mata pelajaran yang seharusnya diselesaikan dalam waktu enam bulan, dia dalam tiga bulan sudah selesai,” paparnya.


Masalah muncul ketika Veli mendapat teman bernama Bunga. Berkebalikan dengan Veli, Bunga adalah siswi yang gemar mengobrol. Bahkan, saking sukanya, dia sering meminta Bety untuk terus bercerita sepanjang pelajaran. ”Makanya, kami dituntut harus kreatif dan bisa nuruti mood si anak. Kalau sudah bisa, biasanya mereka akan nurut kok,” ujarnya.

Selain Bety, ada Iwan Gunawan. Dia juga merupakan guru yang tergolong betah di CGS. Guru yang berusia 26 tahun tersebut bergabung sejak CGS didirikan. Dia pun terbiasa menghadapi berbagai macam anak gifted di sekolah tersebut. Alumnus Jurusan PGSD Universitas Pasundan, Bandung, itu menuturkan, kunci mendidik anak-anak gifted adalah sabar dan ikhlas. ”Karena mereka itu awalnya biasanya cukup liar,” katanya.

Iwan mencontohkan seorang siswa bernama Rama. Awalnya, Rama gemar mengancam dengan pisau ketika marah. Sejak kedatangan siswa tersebut, para guru pun harus pandai menyembunyikan senjata tajam seperti pisau. Namun, siswa itu sangat jago bermain catur. ”Misalnya diisengi sama seniornya atau kalah main catur, dia akan ngamuk. Sekarang, setelah lama di sini, paling-paling dia nangis. Kalau sudah begitu, dibiarkan saja, nanti juga dia akan mendekat sendiri. Karena nangisnya itu bisa bersambung,” kata Iwan.

Beda lagi pengalaman Rifky Tabrizi. Guru sains yang berusia 26 tahun itu adalah pengajar yang baru bergabung dengan CGS. Dia mengakui, di awal mengajar, dirinya sempat kaget dengan keterusterangan siswa dan kadar moody murid yang cukup tinggi. Namun, lama-kelamaan, dia terbiasa. ”Sekarang mulai biasa. Jadi, semoga saya betah di sini,” katanya.

(ken/c11/ang)