Fakta Miris Guru, Sebulan Hanya Digaji Rp75 Ribu

Guru honorer K2
Demo guru honorer K2

POJOKSATU.id, BANJARMASIN – Pesoalan pendidikan begitu kompleks. aMuvai dari sarana pendidikan hingga kesejahteraan guru pun masih sangat memprihatinkan. Di Banjarmasin, nasib guru honorer di sekolah swasta, hanya digaji Rp75.000 per bulannya.

Kondisi ini membuat para anggota komisi IV DPRD Banjarmasin turut prihatin. Fakta itu terungkap saat para Anggota PPR menerima kedatangan Forum Guru Honorer Sekolah Swasta Kota Banjarmasin yang bertempat di ruang rapat mini gedung dewan, Rabu, (18/5/2016).

“Kita sangat prihatin dengan nasib para guru honorer swasta kita ini, masa ada yang cuma digaji Rp75.000 per bulannya, ini sangat jauh dari kesejahteraan,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Kota Banjarmasin, Darma Sri Handayani, usai menerima para guru honorer.

Umumnya kata dia, keluhan yang disampaikan adalah gaji yang didapatkan para guru honorer swasta yang tidak melebihi Rp500 ribu perbulannya. Itu sangat jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) daerah ini.


Makanya, para guru honorer swasta itu meminta untuk diperjuangkan oleh DPRD agar dibuatkan Peraturan Daerah (Perda) tentang tunjangan daerag guru honorer swasta.

Selain itu, para guru mengusulkan adanya pengangkatan guru honorer swasta menjadi guru honorer tetap daerah dan databese Kota Banjarmasin melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota.

“Ini mereka inginkan, karena di daerah Kabupaten Tanah Laut bisa dilakukan demikian,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Guru Honorer Swasta Kota Banjarmasin M Rifani menyatakan, dirinya didampingi puluhan guru honorer swasta lainnya datang ke dewan untuk minta diperjuangkan kesejahteraan. Selama ini pengabdian mereka tidak begitu dihargaai.

“Kita datang ke dewan ini menyampaikan aspirasi sebanyak 2.380 orang lebih guru honorer swasta anggota kita karena gaji yang jauh dari kesejahteraan,” ungkapnya.

Selama ini kata dia, guru honorer swasta atau yang mengajar di sekolah-sekolah swasta di daerahnya hanya mendapat gaji atau honor yang umumnya berkisar Rp300 ribu perbulannya, bahkan ada yang hanya Rp75.000.

“Kita sangat mengharapkan ada perhatian pemerintah terhadap nasib kita ini, jangan sampai dibiarkan,” tuturnya diamini guru lainnya.

(amr/ril/PS)