Film Despicable Me pakai Desain Font Mahasiswa Unair

Desain font (huruf) seorang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) bernama Adien Gunarta dipakai sebagai font untuk tulisan yang berbunyi 'Eagle Hair Club'.
Desain font (huruf) seorang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) bernama Adien Gunarta dipakai sebagai font untuk tulisan yang berbunyi 'Eagle Hair Club'.

POJOKSATU.id, JAKARTA- “Despicable Me” merupakan salah satu film Hollywood yang ceritanya yang menghibur, tokoh Minions dalam film tersebut mampu menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan.

Siapa sangka, ternyata karya anak bangsa turut unjuk gigi dalam film tersebut. Desain font (huruf) seorang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) bernama Adien Gunarta dipakai sebagai font untuk tulisan yang berbunyi ‘Eagle Hair Club’. Tulisan tersebut muncul di salah satu scene film untuk menjelaskan tempat penjualan rambut palsu.

“Tim film tersebut menghubungi saya via e-mail dan mengonfirmasi kalau font saya dipakai,” ujarnya dikutip dari laman Unair, Selasa (1/3/2016).

Kebolehan Adien mendesain font memang tidak bisa diragukan lagi. Sejauh ini, dia menuturkan, ada 103 kreasi font yang sudah diciptakan dan bisa diunduh di laman dafont.com. Uniknya, mahasiswa Departemen Komunikasi Jurusan Ilmu Komunikasi itu menggunakan nama-nama Indonesia untuk font ciptaannya, seperti Buka Puasa Bersama, Aceh Darusalam, Nur Kholis, dan lain sebagainya. Sementara font yang digunakan dalam Film “Despicable Me” sendiri bernama Ceria Lebaran.


“Di laman dafont.com, saya hanya menyarankan agar user menghubungi saya bila mau memakai. Tapi, karena ini laman berbagi yang gampang diakses siapa saja, tidak semua orang mau memberitahu.” ucapnya.

Putra dari Sri Hartati dan Muhammad Gun Abdul Rasyid itu mengungkapkan, merasa bangga saat tulisannya diakui dunia perfilman internasional. Bahkan, beberapa font ciptaannya juga pernah dipakai dalam katalog Klingspor Museum Jerman, Macgill University, dan masuk Fonstruct Nominee, yakni sebuah kompetisi dunia bagi pembuat font.

“Sejumlah waralaba supermarket, makanan, dan restoran di Indonesia pernah memakai font yang saya rancang. Meski memang, tidak semua melakukan konfirmasi.” terangnya.

Dia menambahkan, tidak semua pengunduh desain font yang dia buat melakukan pembayaran. Pasalnya, menurut dia, beberapa di antaranya berbentuk donasi atau seikhklasnya.

“Jadi bentuknya semacam donasi atau seikhlasnya, bukan royalti. Hal itu juga berlaku saat Ceria Lebaran dipakai di film Hollywood tersebut. Saya dapat uang, tetapi tidak banyak. Hanya, lumayanlah,” pungkas cowok yang mulai mendesain font sejak SMP itu.

(Sikah/Pojoksatu)