POJOKSATU.ID — Mobil listrik kini jadi primadona.
Dari artis ibu kota sampai pejabat daerah, semua berlomba memamerkan kendaraan tanpa asap.
Kampanye zero emission digembar-gemborkan di mana-mana.
Tapi di balik gemerlap promosi ramah lingkungan itu, muncul pertanyaan besar.
Baca Juga: Soal Revisi UU HAM, Begini Kata Sekjen Kementerian HAM
Apakah kendaraan listrik benar-benar sebersih yang kita bayangkan.
Mobil Tanpa Asap, Tapi Tidak Tanpa Jejak
Tak bisa dipungkiri, mobil listrik jauh lebih bersih di jalan.
Tidak ada asap knalpot, tidak ada bau bensin, dan tidak ada polusi suara.
Namun, kalau ditelusuri lebih dalam, setiap kWh listrik yang mengalir ke baterai itu punya cerita panjang.
Baca Juga: Style Hijab Sesuai Bentuk Wajah: Panduan Biar Penampilan Gak Salah Gaya
Sekitar 60% listrik di Indonesia masih berasal dari PLTU batubara, sumber energi yang dikenal paling kotor.
Artinya, setiap mobil listrik yang mengisi daya di rumah sebenarnya tetap berkontribusi pada emisi karbon hanya saja tidak di jalan, tapi di cerobong pembangkit.
Jadi, walau mobil listrik tampak bersih di depan rumah, proses di baliknya masih bergantung pada energi fosil.
Baterai Jantung Sekaligus Tantangan
Bagian paling mahal sekaligus paling bermasalah dari mobil listrik adalah baterai.
Baca Juga: Lagi, Pebalap Binaan Astra Honda Melesat Kencang di Barcelona Ciptakan Sejarah untuk Indonesia
Untuk memproduksinya, dibutuhkan nikel, litium, dan kobalt, mineral yang harus ditambang dari bumi.
Proses penambangan ini memakan energi besar dan sering menimbulkan dampak ekologis.
Indonesia sebagai salah satu penghasil nikel terbesar dunia kini menjadi sorotan global.
Beberapa daerah seperti Morowali dan Halmahera disebut mengalami tekanan lingkungan akibat ekspansi tambang nikel.
Baca Juga: Onad Ajukan Surat Rehabilitasi ke BNN, Hasil Assesment Menunggu dari BNNP
Di satu sisi, ini peluang ekonomi besar.
Tapi di sisi lain, jika tak dikelola hati-hati, energi hijau bisa berubah jadi paradoks hijau terlihat ramah, tapi menyimpan kerusakan di hulu.
Selain itu, limbah baterai juga jadi perhatian.
Baca Juga: Style Hijab Sesuai Bentuk Wajah: Panduan Biar Penampilan Gak Salah Gaya
Belum ada sistem daur ulang yang matang di Indonesia, padahal satu baterai EV bisa menyimpan ratusan kilogram bahan kimia berbahaya.
Energi Terbarukan, Kunci Menuju Hijau Sejati
Meski begitu, masa depan tidak suram.
PLN dan pemerintah mulai mempercepat proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mengganti peran batubara secara bertahap.
Targetnya, 23% bauran energi nasional berasal dari sumber terbarukan pada 2030.
Baca Juga: Layanan Vasektomi Ditanggung BPJS, Ini Syarat dan Alurnya buat Para Laki-laki
Artinya, semakin banyak listrik berasal dari tenaga surya, air, dan angin semakin bersih pula mobil listrik kita.
Beberapa kota besar sudah mulai bereksperimen dengan SPKLU berbasis panel surya, misalnya di Bali dan Bandung.
Langkah-langkah kecil ini penting, karena kendaraan listrik hanya benar-benar hijau jika sumber energinya juga hijau.
Solusi di Tangan Kita
Selain menunggu pemerintah dan PLN, masyarakat juga bisa berperan.
Baca Juga: Memanah Prestasi Gemilang, Mahasiswa UB Raih Emas dan Perak POMNas 2025 Cabang Panahan
Banyak pengguna EV kini mulai mengisi daya di malam hari, saat beban listrik nasional rendah, untuk efisiensi energi.
Sebagian bahkan memasang panel surya pribadi di rumah untuk mengisi mobil tanpa bergantung pada listrik PLN.
Komunitas pengguna mobil listrik juga aktif mengedukasi masyarakat lewat gerakan No Emission Ride dan kampanye From Garage to Green Planet.
Baca Juga: HINDARI! 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Keriput Sebelum Waktunya
Mereka membuktikan bahwa gaya hidup berkelanjutan bisa dimulai dari hal kecil termasuk dari cara kita mengisi baterai mobil.
Jalan Menuju 2030 Masih Panjang
Pemerintah Indonesia menargetkan dua juta kendaraan listrik beroperasi pada 2030, dan net-zero emission pada 2060.
Tujuan besar ini tidak mungkin tercapai tanpa kolaborasi antara industri, pemerintah, dan masyarakat.
Baca Juga: DLH Pandeglang Siap Tambah Tong Sampah di Jalan Protokol, Antisipasi pertambahan Sampah Akhir Tahun
Kita butuh lebih dari sekadar insentif pembelian atau SPKLU baru.
Yang dibutuhkan adalah ekosistem energi bersih dari hulu ke hilird ari tambang nikel yang ramah lingkungan.
pabrik baterai yang efisien, hingga listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan.
Baca Juga: Style Hijab Sesuai Bentuk Wajah: Panduan Biar Penampilan Gak Salah Gaya
Tanpa itu semua, kendaraan listrik hanya akan menjadi versi baru dari ketergantungan lama bukan solusi sejati.
Hijau Bukan Sekadar Warna Cat
Kendaraan listrik adalah masa depan.
Namun untuk benar-benar ramah lingkungan, kita tak boleh berhenti di level permukaan.
Perlu transparansi dari industri, regulasi dari pemerintah, dan kesadaran dari pengguna.
Baca Juga: CPNS 2026 Fokus Formasi Digital dan Kesehatan, Pemerintah Terapkan Sistem Zero Growth ASN
Karena pada akhirnya, hijau bukan sekadar warna cat di bodi mobil, tapi tentang bagaimana energi dihasilkan dan digunakan.***



