POJOKSATU. ID — Di pameran otomotif 2025, dari ujung hall hingga area test drive, satu hal mencolok mobil listrik asal China di mana-mana.

Logo BYD, Wuling, Chery, hingga MG mendominasi panggung, menyingkirkan dominasi Jepang yang selama ini tak tergoyahkan.

Indonesia, yang dulu menjadi lahan basah mobil konvensional, kini berubah jadi medan perang kendaraan listrik, dan China muncul sebagai pemain paling agresif.

 

Invasi Mobil Listrik China

Kehadiran merek China di Indonesia bukan lagi wacana.

Baca Juga: 5 Kuliner Legendaris di Bogor yang Selalu Bikin Kangen Rasanya Nggak Pernah Gagal!

Dalam dua tahun terakhir, mereka berhasil mengambil alih pangsa pasar kendaraan listrik secara signifikan.

Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), hingga pertengahan 2025, lebih dari 60% mobil listrik yang terjual di Indonesia berasal dari pabrikan China.

BYD memimpin dengan model Dolphin, Sealion 7, dan M6, disusul Wuling Air EV yang sudah jadi ikon EV ringkas di jalanan kota.

Harga yang kompetitif, desain futuristik, serta teknologi baterai canggih membuat masyarakat cepat jatuh hati.

Baca Juga: 66 Anak di Tangsel Mengalami Campak Rubela

Sementara itu, merek Jepang seperti Toyota, Honda, dan Nissan masih fokus di segmen hybrid, bukan full EV.

Akibatnya, dominasi mereka mulai tergeser.

 

Strategi Agresif Pabrik, Harga, dan Ekosistem

China tak sekadar menjual mobil, mereka datang dengan strategi lengkap.

BYD dan Chery sudah menyiapkan pabrik perakitan lokal di Jawa Barat dan Bekasi, sedangkan Wuling terus memperluas jaringan dealer dan servisnya di seluruh Indonesia.

Langkah ini bukan hanya soal produksi, tapi juga strategi jangka panjang menanamkan akar di ekosistem industri Indonesia.

Baca Juga: Tenaga Honorer di Ujung Jalan, PPPK Jadi Satu-satunya Harapan Setelah CPNS Dibatasi

Dari sisi harga, mobil listrik asal China dijual 30–40% lebih murah dibanding produk sekelas dari Eropa atau Jepang.

Misalnya, BYD Dolphin dijual di kisaran Rp400 jutaan dengan fitur yang setara SUV Jepang di atas Rp600 juta.

Dengan formula harga hemat, fitur lengkap, pabrikan China sukses mematahkan stigma lama.

Baca Juga: Penjarahan ke Syukuran, Ahmad Sahroni Bangkit Lagi “Saya Bersyukur Masih Bisa Hidup”

Namun, di balik strategi agresif ini, muncul pertanyaan besar ke mana peran industri otomotif lokal.

 

Industri Lokal di Persimpangan

Keberhasilan brand China ibarat dua sisi mata uang.

Di satu sisi, mereka mempercepat transisi Indonesia menuju kendaraan listrik.

Tapi di sisi lain, dominasi mereka membuat pabrikan lokal dan rantai pasok dalam negeri tertinggal.

Baca Juga: TPG Triwulan 3 2025 Sudah Cair di Banyak Daerah tapi Masih Ada yang Belum, Cek Daftar Daerah Siap Cair!

Sektor komponen otomotif lokal belum siap memproduksi baterai, chip, atau sistem manajemen energi yang menjadi inti mobil listrik.

Akibatnya, sebagian besar komponen tetap harus diimpor dari China.

Pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan strategi lewat proyek hilirisasi nikel untuk mendukung industri baterai lokal.

Namun, implementasinya masih butuh waktu.

Baca Juga: Seleksi PPG 2025 Kini Gunakan Sistem Digital SIMPKB dan Tes ANBK, Peserta Wajib Siap Adaptif!

Selama celah itu belum tertutup, dominasi China akan terus menguat.

 

Konsumen Senang, Tapi Ada Risiko

Bagi masyarakat, membanjirnya mobil listrik China tentu kabar baik.

Harga jadi lebih terjangkau, pilihan model makin banyak, dan fitur teknologi semakin canggih.

Namun di balik itu, ada risiko yang perlu diwaspadai ketergantungan pasar terhadap produk impor.

Baca Juga: LBH Buana Caruban Nagari Ajukan Gugatan Ke PN Kota Cirebon Soal Dana Hibah Kejari

Jika seluruh rantai pasok mulai dari baterai hingga software dikuasai asing, maka Indonesia hanya akan jadi pasar, bukan pemain.

Kondisi ini mirip dengan era awal ponsel pintar, ketika merek China seperti Xiaomi dan Oppo menguasai pasar tanpa banyak transfer teknologi ke lokal.

Pemerintah pun dituntut memperkuat regulasi agar industri otomotif nasional tidak hanya menjadi penonton di tengah revolusi kendaraan listrik.

 

Harapan Baru dari Kolaborasi

Meski dominasi China kuat, bukan berarti industri lokal tak punya peluang.

Baca Juga: Soroti Isu Lingkungan, Supian Suri Ajak Warga Depok Beralih ke Air Perpipaan Demi Selamatkan Air Tanah

Beberapa kolaborasi mulai muncul seperti kerja sama antara Pertamina, PLN, dan perusahaan Tiongkok untuk membangun ekosistem baterai EV lokal.

Universitas di Bandung dan Surabaya juga mulai mengembangkan riset baterai berbasis nikel dari tambang domestik.

Jika langkah-langkah ini berjalan konsisten, Indonesia bisa menjadi bukan sekadar pasar, tetapi produsen teknologi EV di Asia Tenggara.

Kuncinya: regulasi jelas, investasi terarah, dan kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

 

Dari Pasar ke Pemain

Gelombang kendaraan listrik asal China telah mengubah peta otomotif Indonesia.

Baca Juga: Bupati Bandung Apresiasi ASN: Raih Nilai 96 Persen dari Ombudsman, Bukti Pelayanan Publik Makin Baik

Mereka datang cepat, murah, dan siap berinovasi sesuatu yang selama ini kurang dimiliki produsen lain.

Namun keberhasilan sejati bukan hanya soal penjualan, tapi kemampuan membangun industri sendiri.

Indonesia kini di persimpangan mau tetap jadi pasar besar, atau melangkah lebih jauh jadi pemain utama di era mobil listrik Asia.

Satu hal pasti jalan menuju kemandirian energi dan otomotif sudah dimulai, dan roda perubahan tak akan berhenti berputar.***