POJOKSATU.id – Dukungan untuk kontingen Indonesia di Asian Games 2026 datang dari panggung budaya warga Indonesia di Nagoya.

Komunitas masyarakat Indonesia menggelar pertunjukan seni di area Stadion Paloma Mizuho, Nagoya City, Sabtu (19/09/2026).

Kegiatan tersebut digagas Perhimpunan Pelajar Indonesia Nagoya bersama Sekolah Bhinneka Nagoya untuk menyemarakkan kompetisi.

Beragam pertunjukan tradisional ditampilkan sebagai bentuk dukungan moral kepada atlet Indonesia yang berlaga.

Baca Juga: Asian Games 2026 Resmi Dibuka, Pesan Persatuan Asia Menggema

Ketua PPI Nagoya, Bomby, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dipersiapkan untuk menyambut kontingen Indonesia dan warga Tanah Air.

“Untuk mendukung Tim Indonesia di Asian Games tahun ini, kami menyiapkan berbagai penampilan budaya,” ujar Bomby.

Menurutnya, pertunjukan budaya juga menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang.

Budaya Indonesia Jadi Bentuk Dukungan

Rangkaian pertunjukan tidak hanya berlangsung pada pembukaan Asian Games 2026 di Nagoya.

Baca Juga: Persija Jakarta Bungkam Java United, Tempel MU di Puncak Klasemen

Bomby menyebut penampilan budaya juga dijadwalkan berlangsung pada 24 dan 25 September mendatang.

“Kami berharap masyarakat Indonesia terus memberikan dukungan kepada atlet Indonesia di Nagoya,” katanya.

Ia mengajak masyarakat Indonesia yang berada di Jepang maupun Tanah Air untuk memberikan semangat.

Bomby berharap para atlet mampu tampil maksimal selama mengikuti rangkaian pertandingan Asian Games 2026.

“Saya harap atlet Indonesia bisa bertanding dengan full power,” ujarnya saat memberikan pesan kepada kontingen.

Ajakan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana diaspora Indonesia ikut mengambil peran selama ajang olahraga berlangsung.

Tarian Sinanggar Tulo Ikut Meriahkan Acara

Sekolah Bhinneka Nagoya turut melibatkan siswa dan anak-anak Indonesia dalam pertunjukan budaya tersebut.

Perwakilan Sekolah Bhinneka Nagoya, Yuri, mengatakan mereka menampilkan tarian Sinanggar Tulo asal Sumatra Utara.

“Kami dari Sekolah Bhinneka Nagoya ini akan menampilkan tarian Sinanggar Tulo,” ujar Yuri.

Persiapan penampilan dilakukan cukup panjang, termasuk latihan tari dan penyediaan kostum dari Indonesia.

Yuri menyebut latihan sudah berlangsung sekitar satu tahun untuk mempersiapkan pertunjukan tersebut secara matang.

“Latihan sudah dari satu tahun lalu, mulai dari cari kostum, latihan nari,” katanya.

Bagi para peserta, pertunjukan tersebut menjadi kesempatan menunjukkan budaya Indonesia sekaligus mendukung perjuangan atlet.

“Teman-teman dari Sekolah Bhinneka Nagoya kasih dukungan pada semua atlet Indonesia,” tutur Yuri.

Kehadiran komunitas Indonesia di Nagoya menunjukkan dukungan kepada atlet dapat disampaikan melalui berbagai bentuk.

Di tengah persaingan olahraga Asia, budaya menjadi cara masyarakat diaspora menjaga semangat kebersamaan.***