POJOKSATU.id, Insiden meninggalnya atlet selam asal Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja, dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 mendorong Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jateng untuk meninjau kembali pelaksanaan pertandingan, terutama pada nomor selam laut.
Syabilla mengembuskan napas terakhir setelah mengalami insiden ketika berlomba di Awann Costa, Kota Semarang, pada Minggu (25/10/2026).
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius bagi penyelenggara, khususnya terkait perlindungan dan keselamatan peserta selama kompetisi.
Ketua KONI Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, memastikan pihaknya akan mengkaji berbagai aspek penyelenggaraan pertandingan.
Evaluasi mencakup kesiapan pengamanan, pelayanan medis, hingga langkah pencegahan untuk mengurangi risiko yang dihadapi atlet.
Sujarwanto mengungkapkan bahwa selain kejadian yang dialami Syabilla, terdapat dua peserta lain yang mengalami gangguan saat mengikuti perlombaan.
Atlet asal Kota Magelang harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat sengatan ubur-ubur, sementara peserta dari Cilacap mengalami kelelahan fisik.
"Evaluasi pasti ada. Karena tadi juga ada dua lagi (yang kelelahan). Satu dari Kota Magelang kena ubur-ubur sampai harus dirawat di rumah sakit. Satu lagi Cilacap, fisik kelelahan," kata Sujarwanto.
Ia menilai nomor selam laut dengan jarak mencapai tiga kilometer memiliki tantangan tersendiri karena menuntut kondisi tubuh dan daya tahan yang prima.
Oleh karena itu, penyelenggara perlu memastikan seluruh perangkat pertolongan siap digunakan apabila terjadi keadaan darurat.
Sebagai tindak lanjut, KONI Jateng berencana menambah personel medis dan memperkuat ketersediaan kapal penyelamat.
Penempatan fasilitas tersebut akan diperhatikan agar atlet yang mengalami kendala selama perlombaan dapat segera memperoleh pertolongan.
"Jujur berat renang 3 km, maka akan kami tambah tim medis, kapal untuk penyelamatan, kita pastikan safe meski sebenarnya sudah safe," ujar Sujarwanto.
Upaya perbaikan juga menyasar pemeriksaan kesehatan sebelum pertandingan dimulai.
Setiap atlet nantinya akan menjalani skrining fisik yang lebih ketat untuk memastikan kesiapan mereka menghadapi tuntutan kompetisi, terutama pada nomor yang membutuhkan tenaga dan stamina besar.
Tidak hanya itu, mekanisme kerja tim penyelamat atau rescue juga akan diperbarui.
Petugas di lapangan diharapkan tidak lagi menunggu atlet menyatakan menyerah sebelum memberikan bantuan ketika menemukan tanda-tanda kondisi darurat.
Sebelumnya, tim penyelamat disebut masih mempertimbangkan status pertandingan seorang atlet sebelum mengambil tindakan.
Keraguan tersebut muncul karena pertolongan yang diberikan sebelum peserta menyatakan mundur dikhawatirkan memengaruhi kelanjutan mereka dalam perlombaan.
Kini, KONI Jateng menegaskan bahwa tindakan penyelamatan harus segera dilakukan ketika keselamatan atlet terancam.
Keputusan untuk memberikan pertolongan tidak boleh bergantung pada pernyataan menyerah dari peserta.
"Nanti tambahan prosedur pemeriksaan sebelum bermain untuk pastikan kesehatan fisik. Tim penyelamat (awalnya) tak berani kalau atlet belum menyerah, karena menyangkut nasib tanding mereka, tetapi sekarang kalau ada kejadian begitu tak tunggu menyerah, langsung ambil langkah," tegas Sujarwanto.
Sementara itu, Syabilla sebelumnya dilaporkan mengalami insiden tenggelam ketika mengikuti nomor selam laut dalam Porprov Jateng 2026.
Ia diduga mengalami kelelahan berat hingga kehilangan kemampuan fisik saat memasuki putaran ketiga pertandingan.
Atlet berusia 22 tahun tersebut merupakan salah satu peserta yang memiliki prestasi di cabang olahraga selam.
Dalam kompetisi Porprov Jateng 2026, Syabilla berhasil mempersembahkan dua medali melalui nomor selam kolam 100 meter dan 200 meter bifins putri.
Selain aktif berkompetisi, Syabilla juga menjalani pendidikan tinggi di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai mahasiswa angkatan 2023.
Ketertarikannya terhadap olahraga renang telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Kecintaannya pada olahraga tersebut berlanjut ketika menempuh pendidikan di UGM, tempat ia bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Renang.
Peristiwa yang merenggut nyawa Syabilla menjadi pengingat pentingnya penerapan standar keselamatan dalam setiap kompetisi olahraga.
Melalui evaluasi ini, KONI Jateng berupaya memperbaiki kesiapan medis, sistem evakuasi, pemeriksaan kesehatan peserta, serta respons petugas agar penanganan keadaan darurat dapat dilakukan lebih cepat, terutama dalam pertandingan dengan tingkat risiko tinggi.***






