POJOKSATU.ID - Pernah nggak sih kamu mikir, kok barang impor bisa lebih murah dari produk lokal?

Lah, ini yang bikin banyak pelaku usaha dalam negeri geleng-geleng kepala.

Ternyata, di balik fenomena itu, ada praktik nakal ekspor impor yang diam-diam menggerus ekonomi rakyat kecil.

Isu ini makin ramai dibahas di tahun 2026.

Baca Juga: Gila! Praktik Nakal Ekspor Impor 2026 Bikin Triliunan Rupiah Mengalir ke Luar Negeri

Bukan cuma soal kebocoran devisa triliunan rupiah, tapi juga dampak nyata yang dirasakan langsung oleh pelaku UMKM.

Duh, ini sih nggak kelihatan di permukaan, tapi efeknya nyata banget.

Salah satu praktik yang disorot adalah manipulasi nilai barang atau yang dikenal dengan istilah under invoicing.

Nah, lewat cara ini, barang impor bisa masuk dengan nilai lebih rendah dari harga sebenarnya.

Baca Juga: Ketua RT dan RW di Karawang Dapat BPJS, Dijamin Kecelakaan Kerja hingga Kematian

Akibatnya? Pajak jadi kecil, biaya jadi murah, dan ujung-ujungnya harga jual bisa ditekan.

“Kalau begini terus, kita yang jualan produk lokal bisa kalah harga,” ujar seorang pelaku UMKM yang mengaku omzetnya turun dalam beberapa bulan terakhir.

Eh, nggak cuma itu. Ada juga praktik dumping terselubung, di mana barang impor dijual dengan harga sangat rendah untuk menguasai pasar.

Sekilas sih menguntungkan konsumen, tapi dalam jangka panjang? Wah, bisa jadi bumerang.

Kenapa? Karena produk lokal jadi nggak punya ruang untuk bersaing.

Bayangin aja, pelaku usaha lokal harus bayar pajak, biaya produksi, tenaga kerja, belum lagi distribusi.

Sementara barang impor “dipermainkan” harganya. Ya jelas kalah start.

Dampaknya nggak main-main. Banyak UMKM mulai kesulitan bertahan.

Baca Juga: Jatim Kembali Disorot OTT KPK, Khofifah Ungkap Ada Grup WA Kepala Daerah untuk Koordinasi dan Jaga Integritas

Bahkan, ada yang terpaksa mengurangi produksi hingga merumahkan karyawan. Waduh, efek domino banget kan?

“Yang kerja jujur malah kalah sama yang curang,” celetuk seorang pengusaha kecil dengan nada kecewa.

Masalah ini sebenarnya bukan cuma soal persaingan usaha.

Tapi juga menyangkut masa depan industri dalam negeri.

Baca Juga: Pojok Berkah Jambi Tetap Berjalan Saat WFH, Hesnidar Haris Tekankan Sedekah Amanah

Kalau dibiarkan, bukan nggak mungkin produk lokal akan semakin terpinggirkan di negeri sendiri.

Pemerintah memang sudah mulai bergerak.

Pengawasan di sektor ekspor impor diperketat, sistem digitalisasi ditingkatkan, dan audit dilakukan lebih intensif.

Tapi ya itu, praktik curang biasanya selalu selangkah lebih maju.

Di sisi lain, masyarakat juga punya peran penting. Kesadaran untuk mencintai produk lokal jadi salah satu kunci.

Meski kadang harganya sedikit lebih mahal, tapi itu bagian dari mendukung ekonomi dalam negeri.

Menariknya, sejumlah pengamat menilai bahwa masalah ini harus dilihat secara menyeluruh.

Bukan hanya penindakan, tapi juga perbaikan sistem dan regulasi agar celah-celah kecurangan bisa ditutup.

Kalau tidak, praktik seperti ini akan terus berulang dengan pola yang berbeda.

Baca Juga: Pojok Berkah Jambi Tetap Berjalan Saat WFH, Hesnidar Haris Tekankan Sedekah Amanah

Dan yang paling dirugikan? Ya, pelaku usaha kecil dan menengah.

Jadi, lain kali kalau kamu lihat barang impor yang harganya “nggak masuk akal”, mungkin ada cerita panjang di baliknya.

Bukan sekadar murah, tapi bisa jadi ada sistem yang sedang tidak baik-baik saja.

Hmm, miris sih. Tapi semoga ke depan, kondisi ini bisa diperbaiki.

Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi produk lokal bisa benar-benar jadi tuan rumah di negeri sendiri?***