POJOKSATU.ID - TransJakarta kembali menambah layanan transportasi publik yang menghubungkan wilayah strategis Jakarta.
Kali ini, rute baru Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menuju Blok M resmi dibuka dan langsung menyedot perhatian publik.
Namun alih-alih mendapat sambutan positif sepenuhnya, kebijakan ini justru memantik perdebatan hangat di media sosial.
Rute Soetta–Blok M dinilai sebagai langkah TransJakarta dalam memperluas konektivitas bandara dengan pusat aktivitas warga Jakarta.
Baca Juga: Bupati Karawang Resmikan MPP Cikampek, Pelayanan Publik Kini Lebih Dekat ke Warga
Blok M dipilih karena dianggap sebagai salah satu simpul transportasi penting yang terintegrasi dengan MRT, TransJakarta koridor utama, serta angkutan pengumpan lainnya.
Meski begitu, tidak sedikit netizen yang mempertanyakan alasan pemilihan Blok M sebagai titik akhir.
Istilah “Blok M sentris” pun ramai digunakan warganet untuk menggambarkan kebijakan transportasi di Jakarta yang dinilai terlalu berfokus pada kawasan tersebut.
“Kenapa harus Blok M lagi? Padahal Jakarta luas,” tulis salah satu pengguna media sosial yang unggahannya viral.
Baca Juga: DPRD Murka! Kasus Keracunan MBG Palembang Terungkap, Roti Kedaluwarsa Diduga Dilabel Ulang
Komentar serupa bermunculan, mempertanyakan mengapa rute bandara tidak diarahkan ke kawasan lain seperti Jakarta Timur atau Jakarta Utara yang dinilai minim akses langsung dari bandara.
Blok M sendiri memang mengalami transformasi besar dalam beberapa tahun terakhir.
Kawasan ini berkembang menjadi pusat transit sekaligus ruang publik, dengan revitalisasi terminal, hadirnya pusat kuliner, hingga aktivitas ekonomi kreatif yang kian menggeliat.
Faktor inilah yang diduga menjadi alasan utama TransJakarta menjadikan Blok M sebagai hub utama.
Pengamat transportasi menilai, keputusan tersebut tidak lepas dari strategi integrasi antarmoda.
Dengan menghubungkan bandara ke Blok M, penumpang memiliki banyak opsi lanjutan perjalanan tanpa harus berganti kendaraan berkali-kali.
Dari Blok M, penumpang dapat langsung mengakses MRT menuju pusat kota atau TransJakarta ke berbagai penjuru Jakarta.
Namun demikian, kritik publik juga dianggap wajar.
Jakarta sebagai kota megapolitan memiliki kebutuhan mobilitas yang beragam.
Ketergantungan berlebihan pada satu titik transit dikhawatirkan memicu penumpukan penumpang dan ketimpangan akses transportasi.
Di sisi lain, TransJakarta menegaskan bahwa pembukaan rute Soetta–Blok M merupakan bagian dari tahap awal pengembangan layanan bandara.
Ke depan, tidak menutup kemungkinan rute serupa akan diperluas ke kawasan lain sesuai evaluasi dan kebutuhan masyarakat.
Bagi sebagian warga, rute ini tetap menjadi solusi praktis.
Tarif yang lebih terjangkau dibanding transportasi bandara lainnya serta jadwal operasional yang panjang dinilai menguntungkan penumpang pesawat, khususnya pekerja dan pelancong dengan mobilitas tinggi.
Perdebatan soal “Blok M sentris” pun mencerminkan tingginya perhatian publik terhadap kebijakan transportasi Jakarta.
Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masyarakat semakin kritis dan berharap sistem transportasi publik dapat berkembang lebih merata dan inklusif.
Dengan pro dan kontra yang mengiringi, rute Soetta–Blok M kini menjadi salah satu topik hangat yang menunjukkan betapa strategisnya peran transportasi publik dalam wajah mobilitas ibu kota ke depan.***

