POJOKSATU.id - Jenazah Mirna Salihin diotopsi 3 hari setelah meninggal dalam kasus kopi sianida Jessica Wongso.
Hasilnya, tim forensik menemukan adanya kandungan sianida dalam organ tubuh Mirna Salihin.
Akan tetapi hasil otopsi itu dinilai janggal oleh pihak Jessica Wongso.
Baca Juga: Soal Usulan Gibran Rakabuming Bakal Jadi Cawapres, Prabowo Kirim Sinyal Positif
Alasannya, 70 menit setelah Mirna Salihin meninggal, hasil pemeriksaan menyatakan negatif sianida.
Hal itu ditanggapi Shandy Handika, Jaksa dalam kasus kopi sianida Jessica Wonso.
"Itu tidak lengkap informasi yang disampaikan ke publik," kata Shandy dalam podcast Curhat Bang Denny Sumargo, dikutip Pojoksatu.id, Rabu 11 Oktober 2023.
"Yang diambil itu hanya 0,1 mililiter. Untuk menguji apakah ada pH, sianida, arsenik, kafein, itu butuh lebih banyak sampel," sambungnya.
Shandy menyatakan, sampel 0,1 itu hanya pengujian pH saja.
"Keluar dari lab hasilnya negatif karena memang itu tidak diuji. Yang disampaikan (pengacara Jessica) seolah diuji, padahal tidak. Ini tidak diuji," tegas dia.
Baca Juga: Seluruh ASN di Purwakarta Tandatangani Pakta Integritas Netralitas ASN di Pemilu dan Pemilukada 2024
Hal ini berbeda dengan keterangan yang disampaikan dokter Slamet Purnomo.
Dimana dokter Slamet Purnomo menemukan bahwa rongga mulut dan kerongkongan Mirna mengalami korosif
Shandy menyatakan, hal ini tidak akan terjadi jika memang Mirna Salihin tidak meminum racun sianida.
"Kalau Mirna tidak minum racun kenapa mulut dan kerongkongannya korosif?" tuturnya.
Baca Juga: Polda Jabar Segera Umumkan Status Hukum Tamara Bleszynski Terkait Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik
Shandy juga mengomentari pernyataan dokter Djaja dalam podcast Richard Lee terkait temuan kandungan 02 mg sianida dalam organ tubuh Mirna.
Dokter Djaja menyebut bahwa 0,2 mg sianida itu terlalu sedikit dan disebut tidak akan mematikan.
Namun hal itu dijawab Shandy dengan penjelasan dan keterangan saksi ahli yang menjadi fakta persidangan.
Bahwa temuan sianida dalam jumlah sangat kecil itu disebabkan karena telah dilakukan proses embalming atau pembalseman pada jenazah Mirna Salihin.
Sebab pembalseman itulah racun sianida kemudian menjadi terurai.
"Jangan berhenti hanya di 0,2 miligram. Karena 0,2 itu ditemukan 3 hari setelahnya. Dan itu setelah melalui proses pembalseman. Racun akan terurai pada saat proses embalming," jelas dia.
Baca Juga: Bukan Hanya Karena Populer, Ini Alasan Ayah Azizah Salsha Setujui Pratama Arhan sebagai Menantu
Sebaliknya, adanya kandungan 0,2 mg sianida itu menunjukkan bahwa sejatinya sianida dalam tubuh Mirna Salahin adalah sangat besar.
Sebab jika dilakukan pembalseman, maka racun sianida itu akan hilang sepenuhnya.
"Kalau racun itu tidak sedemikian banyaknya, setelah proses embalming, pasti nol," jelasnya.
"Salah satu ahli mengatakan, karena racun sangat banyak, makanya masih ada 0,2. Harusnya nol," sambung Shandy Handika.
Sebelumnya, ahli forensik, dr Djaja Surya Atmadja, menyatakan bahwa otopsi tubuh Mirna Salihin hanya dilakukan dengan mengambil sampel
Baca Juga: Rahasia di Balik Gambar Ilusi Optik Sipitkan Mata yang Viral di Media Sosial dan Cara Membuatnya
berupa isi lambung, darah, hati dan urine.
"Waktu itu dibuka perutnya doang, diambil isi lambungnya, ambil jaringan hatinya, ambil darah, ambil urine. Udah, ditutup lagi," ungkap dr Djaja Surya Atmadja, dikutip dai podcast dr Richard Lee.
Dia mengakui memang ditemukan adanya kandungan sianida pada lambung Mirna Salihin.
Akan tetapi kandungan sianida yang ditemukan sangat kecil yakni 0.2 mg.
Baca Juga: Gak Kapok Masuk Penjara, Masriah Kembali Buang Sampah di Depan Rumah Wiwik
Sianida tersebut, kata dr Djaja, muncul dari akibat pembusukan jasad Mirna Salihin.
"0.2 mg itu kecil banget, logikanya kalau dia ada sianida besar, kemudian jadi kecil itu mungkin masuk di akal, tapi kalau tidak ada kemudian jadi ada, itu kan tanda tanya, dari mana?" jelasnya.
"Bisa juga karena pembusukan, pembusukan bisa menghasilkan sianida walaupun kecil,” sambung dr. Djadja.***

