POJOKSATU.ID – Program Internet Rakyat 2025 digadang-gadang sebagai solusi digital murah.

Paket WiFi 5G FWA dengan kecepatan hingga 100 Mbps cuma bayar Rp100.000 per bulan.

Namun beberapa pengguna mulai melaporkan realita di lapangan: kecepatan internet mereka jauh di bawah klaim, hanya sekitar 30 Mbps, bukan 100 seperti dijanjikan.

Menurut Surge, layanan Internet Rakyat dirancang untuk menjangkau banyak rumah dengan tarif rendah melalui teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) berbasis Open RAN.

Baca Juga: Cara Menyusun Jawaban Wawancara PPG 2025 Agar Dinyatakan Layak Menjadi Calon Guru

Harga Rp100.000 untuk 30 hari dengan kuota unlimited menjadi daya tarik utama. 

Surge mengklaim tidak ada biaya pemasangan dan modem disediakan tanpa biaya awal.

Meski klaim “100 Mbps”, sejumlah laporan menyebut bahwa kecepatan download atau upload yang dirasakan pengguna “hanya di kisaran 20–30 Mbps” (keluhan umum ini jadi sorotan komunitas pengguna internet).

Banyak pengguna merasa kecewa karena ekspektasi kecepatan tinggi tidak sejalan dengan kenyataan di rumah masing-masing.

Baca Juga: Kelurahan Plawad Sambut Mahasiswa KKN 2025, Tiga Program Utama Siap Dijalankan

Sampai sekarang, Surge dan pihak penyedia belum banyak angkat suara soal keluhan ini dalam rilis publik.

Tidak banyak juga liputan media besar yang mendalami komplain pengguna terkait “ia hanya dapat sepertiga dari kecepatan yang dijanjikan”.

Apa Saja Penyebab Potensial?

1. Kapasitas Jaringan Terbatas

Meski teknologi Open RAN relatif efisien, kapasitas menara 5G FWA bisa terbatas jika banyak pelanggan aktif di waktu bersamaan.

Hal ini bisa menurunkan kecepatan saat puncak penggunaan.

2. Lokasi dan Jarak ke BTS (Base Station)

Karena ini FWA (nirkabel), jarak rumah ke menara 5G atau penghalang lingkungan (seperti bangunan tinggi atau vegetasi) bisa meredam sinyal dan menurunkan performa.

3. Perangkat Modem / CPE (Customer Premises Equipment)

Meskipun modem disediakan, tidak semua modem memiliki kualitas antena optimal.

Jika perangkat di rumah kurang baik, kecepatan bisa tidak maksimal di sisi pengguna.

Baca Juga: Panduan Lolos Wawancara PPG Prajabatan! 7 Jawaban yang Paling Dicari Asesor

4. Kondisi Pra-registrasi / Early Trial

Layanan Internet Rakyat masih dalam tahap awal (pra-pendaftaran), jadi mungkin sejumlah pelanggan adalah “uji coba” awal di wilayah yang belum optimal jaringannya.

Keluhan seperti ini bisa berdampak negatif terhadap kepercayaan publik terhadap program Internet Rakyat.

Jika banyak pengguna merasa kecewa, maka tujuan besar program yaitu pemerataan akses internet cepat bisa terganggu.

Selain itu, asosiasi penyedia jasa internet (ISP) seperti APJII menyuarakan pentingnya keberlanjutan dan kualitas dari skema internet cepat ini agar tidak jadi proyek “promo bayar murah, tapi performa standar rendah”.

Baca Juga: Internet Rakyat 2025, Apakah Warga Pelosok Bisa Ikut? Ini Penjelasan dan Cara Daftar

Uji Kecepatan (Speed Test)

Pengguna yang merasa kecepatannya rendah bisa menjalankan tes kecepatan (misalnya via Speedtest.net) pada berbagai waktu pagi, siang, malam.

Ini bisa membantu mendeteksi apakah masalah kecepatan terkait beban jaringan (traffic) atau bukan.

Lapor ke Layanan Pelanggan Surge / Telemedia

Jika hasil tes consistently jauh di bawah klaim, pengguna dapat mengajukan keluhan formal melalui kanal resmi Surge atau Telemedia.

Pantau Pengembangan Jaringan

Karena ini tahap awal, kapasitas dan jangkauan jaringan kemungkinan akan meningkat seiring penambahan menara dan optimasi Open RAN.

Baca Juga: UMKM Karawang Panen Rezeki di Gelaran LKKB 2025

Gunakan Mode LAN / Optimalkan Router Internal

Jika memungkinkan, sambungkan lokal perangkat ke modem dengan kabel LAN agar mendapat performa lebih stabil.

Program Internet Rakyat 5G adalah langkah ambisius dan positif untuk mendorong inklusi digital di Indonesia.

Namun, agar visi “internet cepat dan murah untuk semua” benar-benar tercapai, Surge dan pemangku kebijakan harus mendengarkan keluhan pengguna dan transparan soal batasan kapasitas serta roadmap perbaikan.

Untuk publik, idealnya ada monitoring berkala dan laporan performa agar konsumen bisa menilai apakah layanan memenuhi janji.

Bila dikelola dengan baik, Internet Rakyat bisa jadi salah satu tonggak revolusi konektivitas nasional bukan sekadar gimmick promo.***