POJOKSATU.ID — Inisiatif Internet Rakyat kini semakin nyata: pemerintah tengah menyiapkan layanan internet cepat dengan kecepatan hingga 100 Mbps yang bisa dinikmati masyarakat hanya dengan biaya sekitar Rp 100 ribu per bulan.
Program ini diharapkan bisa mempercepat pemerataan konektivitas di berbagai wilayah Indonesia.
Kementerian Komunikasi dan Digital bersama pihak swasta mendorong penyediaan internet rumah (fixed broadband) berbasis teknologi Fixed Wireless Access (FWA) menggunakan frekuensi 1,4 GHz.
Pemerintah memilih skema ini karena dinilai paling efisien dan bisa memangkas biaya pemasangan kabel optik yang selama ini menjadi hambatan utama dalam layanan internet di sejumlah wilayah.
Baca Juga: Wagub Erwan Ingatkan ASN Jaga Integritas dan Terapkan Prinsip 4 Aman hingga Pensiun
Menurut Dirjen Infrastruktur Digital, Wayan Toni, berdasarkan kajian daya beli masyarakat, tarif Rp 100 ribuan adalah “batas wajar” untuk paket internet rumah yang terjangkau namun tetap cepat.
Harga Paket Internet Rakyat dipatok sekitar Rp 100.000 per bulan untuk wilayah tertentu.
Kecepatan Hingga 100 Mbps, cukup untuk aktivitas berat seperti video conference, streaming, dan kerja remote.
Kuota Unlimited, tanpa batas penggunaan data.
Baca Juga: CPNS 2026 Siap Dibuka, Ini Daftar 5 Instansi yang Berpeluang Besar Menerima Lulusan SMA dan SMK Lengkap Formasi
Perangkat Gratis peminjaman modem saat berlangganan Internet Rakyat.
Promo awal Pengguna baru bahkan mendapat langganan gratis di bulan pertama.
Pemerintah melalui Komdigi telah melakukan lelang spektrum 1,4 GHz (80 MHz) untuk memastikan operator yang menang bisa membangun jaringan FWA secara nasional.
Salah satu pemenang lelang adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) melalui anak usahanya penyedia WiFi 5G.
Mereka berencana membangun ribuan stasiun basis untuk memperluas cakupan layanan di berbagai wilayah.
Tahap awal layanan akan dijalankan di beberapa area prioritas, seperti Pulau Jawa, Maluku, dan Papua.
Ekspansi ke wilayah lain direncanakan secara bertahap seiring pembangunan infrastruktur.
Tantangan dan Risiko
1. Keterbatasan pembangunannya
Infrastruktur FWA memerlukan pemancar yang strategis.
Daerah terpencil atau pegunungan bisa sulit dijangkau, meskipun ada upaya penyebaran stasiun basis.
2. Ketergantungan pada perangkat
Karena menggunakan FWA, modem/stasiun penerima menjadi elemen penting.
Ketersediaan modem yang cukup dan kualitasnya menentukan pengalaman pengguna.
3. Komitmen operator
Meski sudah memenangkan lelang, operator harus memenuhi janji tarif dan kecepatan.
Jika komitmen jangka panjang rendah, masyarakat bisa dirugikan.
4. Regulasi dan pengawasan
Penggunaan spektrum 1,4 GHz harus diawasi agar tidak disalahgunakan.
Baca Juga: Peserta Magang Nasional Batch 2 Langsung Disuruh Kerja Tanpa On Boarding, Kenapa Bisa Begitu?
Pemerintah perlu memastikan operator menjaga kualitas dan kesesuaian tarif.
Pemerataan digital dengan harga terjangkau dan kecepatan tinggi, lebih banyak rumah tangga bisa mendapat akses internet layak, terutama di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Peningkatan literasi digital akses stabil bisa mendukung pendidikan daring, UMKM berbasis digital, serta komunikasi masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi digital internet murah bisa jadi pendorong ekosistem startup lokal, perdagangan online, dan jasa digital di berbagai daerah.
Baca Juga: Jamin Takaran Pas dan Bebas Oplosan, Pemkot Depok dan Pertamina Sisir SPBU
Internet Rakyat 2025 adalah langkah strategis pemerintah dan swasta untuk membuka akses internet cepat ke seluruh lapisan masyarakat dengan biaya terjangkau.
Harga Rp 100 ribu untuk kecepatan hingga 100 Mbps menjadi tolok ukur ambisi pemerataan digital.
Meski masih menghadapi tantangan infrastruktur dan regulasi, potensi manfaatnya sangat besar dari aspek sosial, ekonomi, hingga pendidikan.
Jika berhasil direalisasikan dengan baik, program ini bisa menjadi game changer dalam sejarah konektivitas Indonesia.***

