POJOKSATU.ID - Setiap kali muncul kabar soal penyesuaian harga BBM, satu pemandangan hampir selalu terulang antrean kendaraan tiba-tiba memanjang di SPBU.

Menariknya, kondisi ini sering terjadi bahkan sebelum pengumuman resmi dirilis pemerintah.

Harga belum tentu naik, keputusan belum diumumkan, tapi masyarakat sudah lebih dulu memenuhi pom bensin. Loh, kenapa bisa begitu?

Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal kebutuhan bahan bakar, melainkan berkaitan erat dengan psikologi publik dan rasa aman ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Dikebut Jelang AFF U-19, Stadion Teladan Dikejar Rampung Mei 2026

Beberapa jam hingga satu hari sebelum pengumuman harga BBM, suasana SPBU biasanya berubah.

Pengendara yang biasanya santai mengisi bahan bakar mendadak datang bersamaan.

Ada yang mengisi penuh tangki, ada pula yang membawa jeriken tambahan.

Bahkan sebagian mengaku sebenarnya belum perlu mengisi bensin.

Baca Juga: Viral Petugas Klinik Main Game, Profesionalisme Layanan Kesehatan Disorot

“Takut keburu naik,” menjadi alasan paling sering terdengar.

Padahal faktanya, belum tentu harga benar-benar berubah.

Nah, di sinilah muncul fenomena yang disebut panic behavior atau perilaku panik kolektif.

Menurut pengamatan perilaku sosial, manusia cenderung mengikuti tindakan orang lain saat menghadapi ketidakpastian.

Ketika melihat antrean panjang, otak langsung menganggap ada ancaman yang harus diantisipasi.

Akhirnya muncul efek domino.

Satu orang antre → dilihat orang lain → dianggap situasi darurat → semua ikut antre.

“Kalau orang lain isi sekarang, berarti aku juga harus,” begitu pola pikir bawah sadar yang sering terjadi.

Baca Juga: Baru Diangkat Jadi ASN, Kini PPPK Dihantui PHK Massal 2027

Fenomena ini dikenal sebagai herd behavior, yaitu kecenderungan mengikuti keputusan kelompok tanpa analisis mendalam.

Hmm… jadi sebenarnya bukan karena BBM langka, tapi karena rasa takut tertinggal.

Di Indonesia, BBM bukan sekadar kebutuhan transportasi.

Ia sudah menjadi indikator stabilitas ekonomi rumah tangga.

Baca Juga: Aturan 30 Persen Ancam PPPK, Daerah Terjepit Beban Anggaran, Ada 4 Opsi Ditawarkan DPR RI

Ketika harga BBM berubah, masyarakat langsung mengaitkannya dengan berbagai hal lain:

  1. Harga makanan

  2. Ongkos transportasi

  3. Tarif ojek online

  4. Biaya logistik

  5. Harga kebutuhan pokok

Singkatnya, perubahan BBM dianggap sinyal bahwa biaya hidup bisa ikut naik.

Itulah sebabnya respons publik sering muncul bahkan sebelum kebijakan resmi diumumkan.

BBM seolah menjadi “alarm ekonomi” bagi masyarakat.

Dulu, informasi menyebar lewat berita televisi atau koran. Sekarang? Cukup satu unggahan viral.

Foto antrean SPBU yang diunggah di media sosial bisa menyebar dalam hitungan menit dan memicu kepanikan lebih luas.

Padahal belum tentu antrean tersebut terjadi di semua wilayah.

Efek visual ini membuat orang merasa situasi sudah genting, meskipun kondisi sebenarnya masih normal.

Ya, kadang bukan realitas yang memicu panik, tapi persepsi.

Baca Juga: Kalau Kemarau Datang dan Air Mulai Langka, Ini Strategi PDAM Kota Bogor Agar Warga Tetap Kebagian Air

Panic Buying yang Sering Tidak Disadari

Menariknya, banyak orang tidak merasa sedang panik.

Mereka menganggap tindakan tersebut sebagai langkah antisipasi.

Namun secara psikologis, keputusan yang diambil karena rasa takut kehilangan kesempatan termasuk bentuk panic response.

Ironisnya, tindakan kolektif ini justru bisa menciptakan masalah baru seperti antrean panjang dan kepadatan distribusi.

Baca Juga: Harga Emas 1 April 2026 Naik Lagi? Investor dan Emak-Emak Langsung Cek Pegadaian!

Artinya, kepanikan bisa menciptakan kondisi yang sebenarnya ingin dihindari.

Ada tiga alasan utama mengapa perilaku ini terus muncul setiap pengumuman harga BBM:

  1. Ketidakpastian informasi

  2. Pengalaman kenaikan harga sebelumnya

  3. Pengaruh lingkungan sosial

Otak manusia cenderung belajar dari pengalaman masa lalu.

Jika pernah mengalami kenaikan mendadak, maka respons antisipasi akan muncul lebih cepat di masa depan.

Jadi meskipun situasi berbeda, reaksi tetap sama.

Secara logika, mengisi BBM beberapa jam lebih awal mungkin tidak memberi perbedaan besar.

Namun secara emosional, tindakan itu memberikan rasa tenang.

Dan di tengah ketidakpastian ekonomi, rasa tenang sering kali lebih berharga daripada perhitungan rasional.

Itulah sebabnya fenomena antrean SPBU hampir selalu hadir setiap isu harga BBM muncul.

Bukan semata soal bensin di tangki, tapi tentang rasa aman di pikiran.***