BOGOR.POJOKSATU.id - Rupiah masih bertengger di atas Rp18.000 per dolar AS. Tidak ada yang tahu pasti kapan tren ini berbalik. Yang pasti, menunggu tanpa persiapan adalah pilihan paling mahal yang bisa diambil siapa pun, terutama masyarakat kecil yang paling sedikit memiliki bantalan keuangan.
Bukan soal panik. Bukan soal ikut-ikutan borong dolar. Ini soal langkah-langkah sederhana yang bisa dimulai hari ini, sebelum tekanan ekonomi semakin dalam.
1. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Langkah pertama dan paling mendasar: audit pengeluaranmu. Ketika harga barang terus merangkak naik, setiap rupiah yang keluar untuk hal yang tidak penting adalah kerugian ganda.
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Budi Wahyu Mahardhika, menegaskan bahwa masyarakat perlu mulai membedakan secara tegas antara kebutuhan dan keinginan. Tunda pembelian barang yang tidak mendesak.
Cicilan yang terasa ringan hari ini bisa menjadi jebakan ketika harga-harga terus naik dan suku bunga ikut terkerek.***
"Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting," ujarnya, Mei 2026.
Yang bisa dilakukan sekarang:
- Catat semua pengeluaran bulanan, pisahkan mana yang wajib dan mana yang bisa ditunda.
- Tunda pembelian gadget, pakaian baru, atau barang elektronik karena semua kategori ini harganya naik karena komponen impornya melonjak.
- Evaluasi langganan digital yang tidak aktif digunakan.
2. Kurangi Utang Konsumtif, Lunasi yang Sudah Ada
Saat rupiah melemah, Bank Indonesia cenderung menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Pada Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen. Artinya, utang berbunga terutama kartu kredit dan pinjaman online akan semakin mahal.
Fokus melunasi kewajiban yang sudah ada sebelum mengambil utang baru. Ketidakpastian ekonomi membuat sumber penghasilan tunggal semakin berisiko, sehingga beban cicilan yang menumpuk bisa dengan cepat menjadi krisis keuangan pribadi.
Baca Juga: 122 Prodi Ditutup Sepanjang 2026, Pengamat Pertanyakan Dasar Kebijakan, Nasib Dosen dan Mahasiswa
Yang bisa dilakukan sekarang:
- Prioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi terlebih dahulu.
- Hindari mengambil pinjaman baru untuk keperluan konsumtif.
- Jika harus berutang, pilih yang bunganya tetap, bukan mengambang.
3. Beralih ke Produk Lokal, Kurangi Ketergantungan Impor
Ini strategi yang sekaligus membantu diri sendiri dan ekonomi nasional. Barang-barang impor adalah yang pertama naik harganya ketika rupiah melemah, karena pembeliannya menggunakan dolar. Semakin banyak produk impor yang digantikan dengan produk lokal, semakin kecil tekanan yang dirasakan dompet.
Misalnya, kurangi konsumsi tempe dari kedelai impor dan selang-seling dengan sumber protein lokal seperti telur, ikan, atau tempe berbahan kacang lokal. Jika biasa mengonsumsi olahan tepung terigu impor, pertimbangkan beralih ke tepung mocaf atau tepung singkong sebagai alternatif.
OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga mendorong masyarakat untuk lebih memilih produk buatan dalam negeri, ketika uang berputar di dalam negeri, lapangan kerja terjaga dan tekanan terhadap rupiah pun berkurang.
Baca Juga: Kapolres Karawang Kembalikan Motor Curian ke Pemilik
Yang bisa dilakukan sekarang:
- Pilih produk lokal saat berbelanja kebutuhan sehari-hari.
- Kurangi frekuensi membeli barang elektronik dan gadget impor.
- Dukung UMKM dan pedagang lokal di sekitarmu.
Rupiah melemah bukan hanya masalah pemerintah atau pengusaha besar. Ia adalah realita yang masuk ke dapur setiap keluarga Indonesia, lewat harga yang naik, cicilan yang memberatkan, dan daya beli yang menipis.
Tidak ada satu langkah ajaib yang bisa menyelesaikan semuanya. Tapi ada banyak langkah kecil yang, jika dimulai hari ini, bisa menjadi perbedaan besar esok hari. Mulailah dari yang paling mudah. Mulailah sekarang sebelum dompet yang berbicara lebih keras.***
