POJOKSATU.ID - Lulus dari perkuliahan dan resmi menyandang gelar Sarjana menghadirkan dua perasaan yang berjalan beriringan.
Lega karena berhasil menyelesaikan pendidikan, tetapi cenas memikirkan langkah selanjutnya.
Saya mulai memikirkan arah karier yang ingin saya tempuh.
Meskipun saya menyandang gelar Sarjana Pertanian, saya menyadari bahwa ketertarikan saya terhadap dunia digital bukan sekedar hobi, melainkan potensi yang ingin saya kembangkan lebih serius.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan yang membawa saya mengeksplorasi peluang saya di industri media.
Baca Juga: Heboh Gelombang Pengembalian Dana LPDP, Nominalnya Tembus Rp2 Miliar per Alumni
Melalui Program MagangHub yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan, saya mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Pojok Satu Indonesia sebagai Social Media Specialist.
Bergabung dengan Pojok Satu Indonesia menjadi babak baru dari cerita saya dalam belajar, beradaptasi, membangun kepercayaan diri, dan menjadi lebih professional di dunia kerja sesungguhnya.
Keputusan yang Mengubah Arah
Perkenalkan, nama saya Siti Najwa Muchtar.
Saya lulusan S1 dari IPB University dengan gelar Sarjana Pertanian.
Baca Juga: Mengenal Kartu Pekerja Jakarta (KPJ) yang Batas Akhir Pendataannya Sebelum 1 April!
Meskipun begitu, ketertarikan saya terhadap bidang kreatif sudah tumbuh sejak masa kuliah.
Di tengah masa peralihan dari kuliah menuju dunia kerja, saya ingin mendapatkan pengalaman kerja yang tidak hanya relevan dengan minat saya, tetapi juga memberi ruang untuk berkembang secara profesional.
Hingga akhirnya, saya menemukan informasi terkait Program MagangHub dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Program ini membuka kesempatan bagi fresh graduate untuk terjun langsung ke dunia industri melalui perusahaan mitra, salah satunya adalah Pojok Satu Indonesia.
Melihat posisi Social Media Specialist yang tersedia, saya merasa tertantang.
Meskipun awalnya ragu, saya tahu bahwa perjalanan karier tidak selalu berjalan linier dengan latar belakang pendidikan.
Pengalaman organisasi dan minat saya di dunia kreatif membuat saya yakin untuk mencoba.
Bagi saya, keberanian untuk melangkah sering kali menjadi pembeda antara keraguan dan peluang.
Baca Juga: PERHATIAN: Batas Akhir Pendataan Anak Penerima KPJ untuk PPDB 2026 Segera Berakhir!
Tahap yang Menguji Kepercayaan Diri
Proses seleksi menjadi tahapan yang menguji kesiapan saya, mulai dari seleksi dokumentasi hingga sesi wawancara.
Dalam sesi wawancara, saya cukup cemas karena melihat banyaknya pelamar yang memiliki latar belakang yang relevan.
Namun, saya mencoba menenangkan diri dan menceritakan pengalaman saya dengan jujur.
Saya menyampaikan bahwa keterampilan komunikasi, manajemen waktu, dan kreativitas yang saya pelajari selama kuliah dapat menjadi bekal berharga untuk posisi tersebut.
Baca Juga: MagangHub dan Pojok Satu Indonesia, Ruang Belajar Nyata Lulusan Baru Menaklukkan Dunia Media Digital
Ketika dinyatakan lolos dan diterima sebagai peserta MagangHub di Pojok Satu Indonesia, saya merasa senang dan bersyukur, sekaligus tidak menyangka.
Pengumuman kelulusan tersebut bukan sekadar kabar baik, melainkan awal saya memasuki dunia profesional yang sesungguhnya.
Hari Petama di Industri Media
Hari pertama sebagai peserta magang menjadi momen yang tidak terlupakan.
Saya juga bertemu dengan rekan-rekan baru yang memiliki latar belakang dan minat yang beragam.
Selama on-boarding, saya dan teman-teman belajar memahami sistem kerja serta standar konten yang diterapkan.
Setelah masa on-boarding selesai, saya resmi ditempatkan sebagai Social Media Specialist dengan fokus utama sebagai editor video reels Facebook.
Tanggung jawab tersebut terasa menantang, tetapi juga memacu saya untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan hasil terbaik di setiap konten yang saya kerjakan.
Peran ini membuka perspektif baru bagi saya tentang bagaimana konten video memiliki kekuatan besar dalam menjangkau audiens.
Memahami Peran Sebagai Penyunting Video
Ketika diberi kepercayaan sebagai editor video, saya awalnya cukup ragu.
Bukan karena tidak bisa, tetapi video yang saya produksi memerlukan durasi yang lumayan lama.
Baca Juga: Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Setelah Haid, Muslimah Wajib Tahu Agar Ibadah Sah
Tugas saya tidak sekadar memotong dan menyusun klip video, tetapi juga memastikan alur cerita tersampaikan.
Saya belajar memilih potongan footage yang paling menarik, membuat ilustrasi, hingga memastikan tempo footage sesuai dengan karakter audiens Facebook.
Pada minggu-minggu awal, saya merasa agak kewalahan karena belum terbiasa.
Saya dituntut untuk bekerja dengan efisien tanpa mengorbankan kualitas.
Baca Juga: 1 Tahun Bandung Utama, Farhan Tancap Gas: MBG Meluas, 151 Koperasi Berdiri, 1.785 Rutilahu Tuntas
Deadline yang ketat melatih saya untuk lebih disiplin dan terorganisir.
Saya sadar bahwa proses editing bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga strategi.
Setiap keputusan dalam proses editing mulai dari pemilihan cover video, penempatan footage di sepuluh detik pertama, hingga peletakan subtitle memiliki pengaruh terhadap performa konten.
Proses Evaluasi Menjadi Guru Terbaik
Peran saya sebagai editor Facebook tentu tidak selalu mulus.
Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah soal kecepatan dan ketepatan.
Tepat dalam memilih footage, menyusun alur video, dan menambahkan teks.
Hingga memastikan durasi video tetap optimal agar tidak membuat audiens bosan.
Tidak semua hasil editan video yang saya produksi langsung sesuai standar yang diharapkan.
Ada kalanya video yang saya edit perlu direvisi.
Baca Juga: Hilangkan Nyawa Siswa MTsN, Bripda Mesias Dipecat Polri, Maksimal Kurungan 15 Tahun Saja
Pernah juga saya merasa kurang puas dengan hasil sendiri karena belum sesuai ekspektasi.
Namun dari situ saya belajar menerima evaluasi sebagai bagian dari proses profesional.
Mentor memberikan masukan yang membangun, membuat saya semakin teliti dan detail dalam bekerja.
Dari situlah saya belajar untuk lebih terbuka, lebih teliti, dan terus meningkatkan kualitas di setiap konten yang saya kerjakan.
Baca Juga: Kecelakaan Maut Diduga Dipicu Jalan Berlubang, Tukang Ojek Pandeglang Gugat Pemda Rp 100 Miliar
Momen yang Membuat Saya Bangga
Salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika video yang saya edit mendapatkan engagement tinggi.
Melihat konten tersebut dibagikan dan dikomentari banyak orang memberikan kepuasan tersendiri.
Di balik angka-angka itu, ada proses panjang yang melibatkan ide, diskusi, editing, dan evaluasi.
Momen tersebut tidak hanya menjadi pencapaian secara angka, tetapi juga penguat kepercayaan diri saya.
Saya menyadari bahwa kerja keras, ketelitian, dan kemauan untuk terus belajar benar-benar membuahkan hasil.
Dari situ, saya semakin termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas editing dan memberikan kontribusi terbaik dalam setiap konten yang saya kerjakan.
Perubahan dalam Diri Saya
Perubahan paling terasa dalam diri saya adalah peningkatan rasa percaya diri.
Jika dulu saya hanya mengelola konten di lingkup organisasi kampus, kini saya berkontribusi dalam produksi konten media yang menjangkau audiens luas.
Tanggung jawab tersebut membuat saya lebih berhati-hati dalam memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat dan tidak menyesatkan.
Baca Juga: Proyek Gedung Baru Unsika Diduga Pakai Air Bawah Tanah, KAWALI: Jangan Sampai Sumur Warga Kering!
Latar belakang saya sebagai lulusan pertanian ternyata bukan menjadi hambatan, melainkan nilai tambah.
Magang di Pojok Satu Indonesia juga melatih saya dalam hal manajemen waktu.
Saya harus membagi fokus antara proses editing, revisi, dan mempelajari tren terbaru di media sosial.
Dunia digital terus berubah, sehingga saya dituntut untuk selalu adaptif dan mau belajar hal baru.
Baca Juga: Hilangkan Nyawa Siswa MTsN, Bripda Mesias Dipecat Polri, Maksimal Kurungan 15 Tahun Saja
Selain hard skill, saya juga berkembang dalam soft skill.
Saya belajar berkomunikasi secara profesional, bekerja dalam tim, serta mengelola tekanan deadline.
Lingkungan kerja yang suportif membuat saya merasa nyaman untuk bertanya dan berdiskusi.
Harapan dan Langkah ke Depan
Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa karier tidak selalu harus linier dengan jurusan kuliah.
Terkadang, minat dan pengalaman non-akademik justru membuka jalan yang tidak terduga.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa keterampilan dapat dipelajari, selama kita memiliki kemauan untuk berkembang.
Program MagangHub menjadi jembatan penting bagi saya untuk memasuki dunia kerja profesional.
Saya tidak lagi memandang diri sebagai fresh graduate yang penuh keraguan, tetapi sebagai individu yang sedang bertumbuh dan membangun fondasi karier.
Bagi saya, magang ini bukan sekadar pengalaman enam bulan, melainkan proses pembentukan karakter.
Baca Juga: THR Karyawan Swasta Wajib Cair H-7: Memahami Aturan PP No. 36 Tahun 2021
Saya belajar disiplin, konsisten, adaptif, dan terbuka terhadap kritik.
Setiap tantangan yang saya hadapi menjadi bagian dari perjalanan pendewasaan diri.
Kini, saya lebih percaya diri melangkah ke masa depan.
Saya memahami bahwa dunia digital membutuhkan kombinasi kreativitas, analisis, dan tanggung jawab.
Baca Juga: Strategi Video Marketing Cerdas: Memanfaatkan Online Video Editor untuk Meningkatkan Hasil Bisnis
Dan melalui pengalaman di Pojok Satu Indonesia, saya merasa telah menemukan arah yang lebih jelas.
Perjalanan ini masih panjang. Namun satu hal yang saya yakini, keberanian untuk mencoba adalah langkah awal menuju perubahan.
Dari seorang Sarjana Pertanian yang aktif di divisi kreatif kampus, kini saya bertumbuh sebagai Social Media Specialist yang siap menghadapi dinamika industri media digital.
Magang ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan profesional saya.***

